batampos.co.id – DI ruang pertemuan Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, Rabu (20/11), Gina Gutierez Luceno tidak banyak bicara. Suaminya, Umar Patek, yang lebih banyak menjawab perta­nyaan soal upaya istrinya mendapat surat WNI. Gina duduk di sebelah kanan Umar. Mengenakan gamis dengan corak cokelat berpadu merah dan kuning.

Perempuan 39 tahun yang akrab di­sapa Ruqayyah itu mengenakan khimar dan cadar cokelat. Sesekali dia membetulkan letak cadar. Tangannya juga sigap membenahi dalaman khimar agar lebih rapi.

Umar Patek tampak begitu perhatian dengan istri. Bahkan, saat melangkah ke panggung, Umar membimbing Ru­qayyah dengan sabar.

Ruqayyah yang melewati awak media sempat mengatupkan kedua tangan di depan dada sambil menganggukkan kepala. ”Alhamdulillah,” katanya setelah menerima surat keputusan WNI.

Ruqayyah tidak menyangka permohonan yang diajukan sudah lama akhirnya dikabulkan. Sejak 2011 dia mengajukan diri sebagai WNI. Seusai vonis 20 tahun yang dijatuhkan kepada suaminya pada 2012, pengajuan serupa dilakukan. Namun, belum ada jawaban.
Tak sekadar mengajukan permohonan, perempuan kelahiran Cebu, Filipina, itu benar-benar ingin menjadikan diri sebagai WNI. Dia mulai belajar bahasa Indonesia pada suaminya meski prosesnya tidak mudah. Umar menentukan aturan yang ketat.

”Bang Umar tidak mau menjawab jika saya bertanya pakai bahasa lain (selain bahasa Indonesia, red),” kata Ruqay-yah, lantas tertawa.

Hal tersebut sempat membuat perempuan yang berulang tahun tiap 6 Januari itu bingung. Ada rasa takut salah saat ingin mengucap kata-kata dalam bahasa Indonesia. Khawatir jadi bahan tertawaan. Tapi, tekadnya sudah bulat. Sedikit demi sedikit dia belajar mengucap dan memahami arti kata-kata dalam bahasa Indonesia. Jika ada saudara berkata dan dirinya tidak paham artinya, Ruqay-yah mencatat. Lalu kata tersebut ditanyakan kepada Umar.

Hampir sepuluh tahun berjalan, sekarang Ruqayyah sudah lancar berbahasa Indonesia. Dia juga bisa berbicara dengan cepat tanpa kesalahan pengucapan. Berbelanja di pasar pun tidak kesulitan karena sudah mulai mengerti bahasa Jawa.

Pinten (berapa), mboten (tidak),” lanjut dia.

F. Boy Slamet/Jawa Pos
KEPALA BNPT Komjen Suhardi Alius (kiri) menyerahkan dokumen dari Departemen KUMHAM RI tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia kepada Napiter Umar Patek di Lapas Porong Sidoarjo, Rabu (20/11).

Saat mengajukan permohonan sebagai WNI, istri Umar tersebut menggunakan nama Ruqayyah Husein Luceno. Namun, dalam surat keterangan WNI, dia tetap menggunakan nama lahirnya, Gina Gutierez Luceno. Saat ini, dia tinggal di sebuah rumah kos di Sidoarjo. Dalam sepekan dua sampai tiga kali dia berkunjung ke lapas untuk bertemu Umar. Di setiap kunjungan tak lupa dia membawa masakan.

”Paling senang sayur lodeh,” katanya.

Surat keterangan WNI untuk Ruqayyah diberikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius kepada Umar Patek. Surat itu juga menjadi bentuk apresiasi terhadap Umar karena telah berkelakuan baik selama di lapas. Bahkan, Umar juga telah menyatakan kesetiaan terhadap NKRI.

Suhardi berpesan agar Ruqayyah dapat menumbuhkan rasa sayang terhadap pemerintah. Pemberian surat kewarganegaraan tersebut menjadi bentuk kepastian status untuk Ruqayyah sekaligus perhatian pemerintah.

”(Pemerintah) hadir dalam penanggulangan terorisme,” tuturnya.

Pemberian surat itu sudah melalui serangkaian pertimbangan. Semua instansi melakukan pengkajian mendalam. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah aspek kemanusiaan. Suhardi bercerita sekitar 2,5 tahun lalu bertemu Umar Patek.

”Dia memiliki permintaan, salah satunya agar istrinya menjadi WNI,” ungkap Suhardi.

Melihat niat yang luar biasa dari Umar, Suhardi meminta permohonan diproses sesuai ketentuan. Terlebih, Umar juga sering menunjukkan kesetiaannya kepada negara. Salah satunya dengan menjadi anggota pasukan pengibar bendera Merah Putih.

”Tolong jaga kepercayaan ini,” pesan Suhardi kepada Umar Patek dan istri.

Mereka berjanji memenuhi permintaan untuk setia kepada negeri ini. Menurut Umar, perjuangan mendapatkan WNI tersebut luar biasa. Tidak hanya lama. Tapi juga menguras pikiran. Bahkan, saat membuat surat permohonan, Ruqayyah harus mengganti tulisan berkali-kali. Salah satu huruf saja harus menulis dari awal lagi. Permohonan ditulis dengan tangan dan bermaterai.

Selanjutnya, Ruqayyah akan mengurus dokumen kependudukan. Antara lain KTP dan KK. Umar bercerita bahwa Ruqayyah menjadi mualaf pada 1996. Dia kemudian belajar agama di kamp militer Abu Bakar Asy-Syidiq, Mindanao, tempat yang sama dengan Umar Patek menjadi guru mengaji.

Umar mendapat informasi bahwa ada siswa madrasah yang baru masuk Islam dan belajar di kamp. Dari situ dia memiliki niat meminang Ruqayyah. Mereka menikah pada 1998 di kamp dan pertemuan pertama terjadi saat akad nikah. Keluarga Ruqayyah hadir. Untuk menghilangkan rasa takut mereka, Umar meniadakan selebrasi pernikahan di kamp, yakni menembakkan senjata di udara.

”Saya juga menjamin keselamatan mereka,” lanjut Umar.

Selama 21 tahun menikah, mereka belum dikaruniai buah hati. Namun, itu tidak menjadi masalah. Cinta Umar kepada Ruqayyah masih sebesar ketika awal menikah. Dia selalu menganggap Ruqayyah sebagai kekasih belahan jiwanya. Perempuan itu dipanggilnya habibati, dalam bahasa Arab berarti kekasihku. (*/c9/ayi)