batampos.co.id – HARA, startup pertukaran data berbasis blockchain untuk sektor pangan dan pertanian, dan Inovator 4.0, lembaga yang mengedepankan kolaborasi untuk mewujudkan inovasi, bekerja sama menciptakan HARANOVA.

Dari rilis yang diterima batampos.co.id, HARANOVA merupakan sebuah gerakan pengelolaan data terdesentralisasi di Indonesia, berbasis teknologi blockchain atau rangkai data.

Gerakan HARANOVA atau pengelolaan data pintar ini akan menjadi solusi alternatif bagi tumpang tindihnya data di Indonesia yang sudah lama terjadi, dengan mengajak semua pihak yang berkepentingan atas data dan pemanfaatannya.

Launching Gerakan Data Pintar HARANOVA akan diresmikan di Kabupaten Trenggalek sebagai wilayah implementasi perdana di Indonesia dalam acara Trenggalek Innovation Festival pada tanggal tanggal 21 November 2019 di Pendopo Kabupaten Trenggalek.

Gerakan HARANOVA diimplementasikan pertama kali pada 14 desa dengan tujuan agar Kabupatan Trenggalek dapat menjadi wilayah pertama di Indonesia yang memiliki data pertanian terintegrasi dengan data satelit dan data rill lapangan sesuai dengan arahan Kementerian Pertanian Indonesia.

“Dengan pengelolaan data yang baik, menyeluruh, dan pada jangka panjang bisa diakses oleh semua orang, kami harapkan terjadi solusi yang bermanfaat bahkan di tingkat petani dan pedagang kecil,” ujar Budiman Sudjatmiko, Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia.

“Merekalah yang paling berhak atas data yang selama ini dikumpulkan dari mereka sendiri.” katanya lagi.

Masalah pengelolaan data sudah menjadi masalah sejak lama, dan impian agar pengelolaannya bisa disatukan dalam sebuah musyawarah data sudah terjadi sejak lama.

Ilustrasi

Namun sering terbentur penguasaan teknologi dan ego sektoral. Keputusan impor produk pangan yang janggal, misalnya, dianggap sebagai hasil dari data yang tidak sinkron dan multi interpretasi di antara masing-masing instansi.

Dengan adanya teknologi, maka hal tersebut kini dimungkinkan. Seluruh peserta bisa saja memiliki datanya sendiri-sendiri yang kemudian dibaurkan dan saling dimutakhirkan dengan keseluruhan data yang dikumpulkan dari keseluruhan peserta konsorsium.

“Kami melihat potensi bahwa sebenarnya banyak orang di Indonesia menyenangi solusi musyarah dan mufakat, itu sudah bagian dari budaya kita, yang cocok sekali dengan prinsip blockchain,” jelasnya.

“Semakin banyak yang bergabung dalam konsorsium ini, maka akan makin melengkapi data yang dikelola, dan makin besar juga manfaatnya untuk kita semua,” ungkap Regi Wahyu, CEO HARA.

Penandatanganan kerja sama antara Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin dengan CEO HARA, Regi Wahyu, dan Ketua Umum Inovator 4.0, Budiman Sudjatmiko yang akan dilaksanakan pada acara Trenggalek Innovation Festival (TIF) menjadi langkah awal untuk merealisasikan terciptanya integrasi data pertanian.

Trenggalek Innovation Festival (TIF) merupakan festival inovasi layanan publik terbesar yang pernah digelar di Kabupaten Trenggalek dengan mengedepankan inovasi yang dirancang oleh setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Acara ini turut dimeriahkan dengan adanya diskusi interaktif dan adanya pertunjukkan seni, budaya, dan hiburan rakyat yang juga dihadiri oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar, serta Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Kirsten Bishop.

“Untuk bertransformasi di sisi pertanian, kita harus melakukan integrasi untuk menyambungkan informasi dari hulu sampai ke hilir,” papar Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin.

“Data diambil, dikelola, dan dimanfaatkan oleh banyak orang secara demokratis. Melalui partner HARA, pemerintah kabupaten akan coba menyambungkan data agar menjadi informasi yang bermanfaat,” katanya lagi.

Kerja sama antara HARA, Inovator 4.0, dan Kabupaten Trenggalek dalam mengimplementasikan gerakan HARANOVA diharapkan dapat mengatasi permasalahan tumpang tindihnya data di Indonesia.

Dengan itu, Kabupaten Trenggalek dapat menjadi preseden bagi seluruh wilayah di Indonesia dalam menciptakan integrasi data pertanian.(*)