SAYA selalu bangga menjadi warga Kota Batam. Sejak dulu, sejak pertama kali hijrah ke kota ini tahun 2005. Sudah 14 tahun.

Sebelumnya, ketika tinggal di Pekanbaru, Riau, saya hanya sekali-sekali menginjakkan kaki ke kota berjuluk Bandar Dunia Madani ini, waktu ditugaskan meliput kegiatan di sini. Saat itu, Kepri masih bagian dari Provinsi Riau.

Pertama ke Batam, kalau tak salah, ketika ada sebuah event slalom test yang diikuti pembalap yang juga mantan Ketum PB IMI, Tommy Soeharto.

Ketika itu acaranya digelar di bundaran Otorita Batam (kini BP Batam). Masih sepi. Saya diinapkan oleh panitia di Melia Panorama (Allium sekarang).

Waktu kecil, mendengar nama Batam, saya begitu takjub. Sekaligus penasaran. Bagaimana rupa kota ini sebetulnya? Namanya begitu masyhur.

Sangat menasional. Maklumlah, sebagai anak pulau, lahir, besar, dan bersekolah di Natuna sana, saya jarang melihat kemegahan.

Sementara di Batam, saya dengar, berbagai nama perusahaan kelas dunia banyak di sini. Orang-orangnya datang dari berbagai pelosok negeri.

Menjadikannya tempat mencari sesuap nasi. Mungkin juga banyak yang menumpuk kekayaan dari sini. Dari ujung Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga ujung Papua.

Empatbelas tahun sudah saya menjadi penduduk Batam. Saya memantapkan karier di perusahaan media juga di sini.

Menjadi aktivis media, pengurus ormas, pengawas independen RS, pimpinan organisasi kepemudaan, hingga pengurus lembaga adat, juga di sini.

Di Pekanbaru, dulu, rekor karier saya di media, sudah terpecahkan oleh Batam sejak tahun lalu.

Di Pekanbaru, hanya 13 tahun, yakni di Harian Riau Pos dan beberapa anak perusahaannya. Anak-anak saya lahir memang tak di sini, tapi di Tanjungpinang sana, lalu boyongan ke Batam.

Semua keluarga istri yang masih keturunan Raja Riau-Lingga itu tersebar di Lingga, Karimun, Tanjungpinang, Batam, Pekanbaru, hingga Singapura dan Malaysia. Maklum, keluarga besar.

Sebagai sebuah kota pulau, Batam dianugerahi posisi dan letak geografis yang sangat strategis.

Tak sampai 30 mil laut dari Singapura atau 1,5 jam dari Johor, Malaysia. Hal ini menjadikannya, seharusnya, lebih berdaya saing, lebih maju, dan lebih modern dibanding kondisi hari ini.

Penduduknya pun, dalam istilah Dahlan Iskan, bos saya dulu, mestinya lebih wangi, lebih tertib, rapi, dan lebih modern.

Banyak perempuan cantik dan wangi yang lalu-lalang di pedestarian yang nyaman dan di pusat-pusat perbelanjaan.

Orang-orang ke kantor pun, tampil rapi dan wangi. Tidak bersandal jepit atau berbaju kucel. Kecuali kalau sedang istirahat atau ke toilet. Mestinya begitu. Hmm, makin menarik saja.

Tahun ini, Batam baru saja dinobatkan sebagai salah satu smart city di Indonesia. Kota pintar.

Dalam bayangan saya, kota pintar itu, semuanya terintegrasi dengan IT dan internet. Mau buat KTP, buat KK, SIM, BPKB, pindah alamat, berobat, belanja, dan berbagai kebutuhan lain, mestinya sudah terlayani dengan internet.

Online. Dulu, saya juga sering ditanyakan oleh teman-teman di Jawa dan Sumatera, apakah saya punya link untuk penawaran ISP di Batam.

Internet service provider. Saya selalu menolak secara halus, sebab pesaing mereka di sini, bukan sesama pemain nasional atau lokal.

Pemain di sini sudah ISP asing. Minimal, sahamnya milik orang asing. Kualitasnya juga berstandar “asing”.

Dalam bayangan saya juga, pelayanan pemerintah dan swasta juga mestinya sudah online basic. Berbasis internet. Pejabat pemda misalnya, di berbagai level, sudah harus punya akun medsos multi-platform yang dikelola secara baik oleh admin.

Mereka harus punya platform interaktif. Pertanyaan dan keluhan masyarakat harus dijawab di akun ofisial itu.

Meskipun oleh adminnya. Medsos pejabat-pejabat itu bukan hanya untuk narsis atau sekadar curhat di medsos.

Juga bukan hanya untuk pamer sudah jalan ke mana, libur di mana, atau makan apa saja. Itu bayangan saya.

Kita, sebagai warga pun mestinya harus lebih smart, disiplin, dan paham budaya antre. Bukan main serobot, protes tak jelas, atau hanya mengumpat layanan pemerintah atau swasta.

Warga yang smart tahu kapan harus mengkritik dan kapan harus mengapresiasi. Kita tidak seperti katak dalam tempurung, menganggap dunia kita paling luas, paling oke, tapi kita hanya melihat dari dalam tempurung. Hehe…

Sebab itu, dalam bayangan saya, sebuah kota yang smart, harus pula dihuni oleh orang-orang, pejabat, warga, serta stakeholders yang smart juga.

Tak perlu terlalu banyak secara kuantitas, tapi Batam hanya butuh warga yang unggul secara kualitas.

Kebudayaan warga Batam mestinya sudah harus membentuk “kebudayaan baru”, yakni dengan melepaskan segala prilaku yang kita bawa dari kampung halaman, menuju sebuah “kebudayaan baru”, yang dalam pepatah kuno dikenal dengan “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Yakni, menjunjung sebuah peradaban sebagai warga kota modern, warga bandar dunia madani. Insya Allah…(*)