batampos.co.id – Dalam tempo dua minggu sejak Senin (25/11/2019), Badan Pengusahaan (BP) Batam akan membongkar gudang milik Persero di Dermaga Utara, Pelabuhan Batuampar.
Nantinya, bekas gudang ini akan menjadi akses menuju container yard (CY) atau area penyimpanan kontainer yang akan segera dibangun.
”Sudah mulai dari hari ini (kemarin) dibongkar. Nanti dalam waktu dua minggu akan kelar. Pembongkaran ini untuk mempersiapkan lahan seluas 10 hektare yang akan digunakan untuk membangun CY,” kata Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Dendi Gustinandar, Senin (25/11).
CY ini nanti akan memiliki luas 12 hektare yang terdiri dari lahan bekas gudang Persero dan juga reklamasi di sekitar pelabuhan.
”Ada tiga gudang yang dibongkar. Dan pembongkaran ini merupakan tahap awal revitalisasi Pelabuhan Batuampar,” ungkapnya.
Pembongkaran gudang dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak peralatan di dalamnya. Setelah dibongkar, maka peralatan milik Persero akan direlokasi ke tempat yang sudah ditentukan.
Adapun, proses pembongkaran ini ditetapkan melalui lelang. Pemenang lelang adalah Humbang Utama Bersatu. Dan anggaran yang ditetapkan untuk proses pembongkaran sekaligus pemindahan gudang eks Persero ini sebesar Rp 700.052.700. Waktu pelaksanaannya selama 30 hari terhitung sejak 18 November lalu.
Pengembangan Pelabuhan Batuampar dilakukan dalam tiga tahap.
Pertama, pengerukan alur laut dan penataan CY di dermaga utara, termasuk penataan atas lahan Persero seluas 10 hektare.
Kedua, mempersiapkan infrastruktur pendukung untuk pemasangan dua unit rubber tyred gantry (RTG). RTG merupakan alat bongkar muat kontainer yang dapat bergerak di CY, dan dua unit Harbour Mobile Crane (HMC) yang juga merupakan alat bongkar muat di pelabuhan yang dapat berpindah-pindah tempat.
Sementara Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi memastikan, pembongkaran gudang di Pelabuhan Batuampar, merupakan bagian dari rencana pengembangan pelabuhan tersebut.
”Gini saja, saya tak sebut yang protes. Ini saya lakukan ini untuk pembangunan Batam ke depan,” kata Rudi di Best Western Panbil, Senin (25/11).
Ia mengatakan, di negara manapun, kontainer tak memerlukan gudang. Lagi pula, selama ini di gudang barang hanya beralas palet dan rentan rusak. Menurutnya, dengan disimpan di kontainer tanpa gudang, tidak akan menjadi masalah.
”Orang enggan masuk ke Batam salah satunya karena fasilitas ini tak terpenuhi. Saya punya tugas memenuhi ini. Kalau kontainer tak butuh gudang, tapi butuh tanah yang lapang. Pelabuhan Batuampar tanahnya sudah sempit,” imbuhnya.
Ia mengatakan, tanpa dikembangkan menjadi lebih baik, pelabuhan akan enggan digunakan. Ia menyebutkan, dirinya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Batam memiliki pelabuhan yang sangat representatif.
”Sekarang bagian pelabuhan sudah dibersihkan, jadi ke depan kalau simpan barang jadi mudah,” katanya.
Ia mengaku, keputusan itu memang bukan tanpa protes, bahkan dirinya dikeluhkan pegawai Persero.
”Mereka bilang, kalau itu dibongkar, hilanglah pencaharian kami, anak istri kami bagaimana. Saya bongkar ini, bukan untuk hentikan mata pencaharian pegawai Persero, ini atas perintah Kemenkeu (Kementerian Keuangan),” kata dia.
Bahkan, ia mengatakan, Persero akan dilibatkan dalam kegiatan pelabuhan, yakni akan masuk dalam konsorsium. Pembangunan Pelabuhan Batuampar akan dimulai tahun 2020 mendatang.
”Pelindo mau ketemu untuk presentasi, yang jelas saya mau ada crane permanen dan sistem pembayaran di sana harus berbasis online. Sehingga pendapatan pelabuhan meningkat. Tak hanya itu, tambat kapal juga berlabuh pakai online ke depan, tak ada yang manual,” ujarnya.
Terkait ini, sebelumnya Rudi pernah mengatakan pihaknya berkeinginan kapasitas pelabuhan ditingkatkan dari yang sekarang sebesar 350 ribu TEUs menjadi 5 juta TEUs per tahun.
“Kalau tidak dilakukan (pembangunan), pelabuhan begitu saja. Nah, satu cost besar juga sistemnya model lama,” ujarnya.
“Maunya kami sistem baru dengan biaya murah,” imbuhnya lagi.
Sebelumnya, sejumlah asosiasi pengusaha bidang kepelabuhanan di Batam juga sempat menolak rencana Badan Pengusahaan (BP) Batam menyerahkan perombakan dan pengelolaan Pelabuhan Batuampar kepada PT Pelindo II. Mereka khawatir, Pelindo II akan mengambil alih semua sektor kerja di pelabuhan yang selama ini ditangani pengusaha lokal.
Di antara asosiasi yang keberatan tersebut antara lain Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Batam, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, dan Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Batam.
“Kami pengusaha pelabuhan Batam yang mempunyai usaha crane dan kontainer nanti tidak bisa bekerja,” kata Wakil INSA Batam, Roy di Harbour Bay, Batam, Kamis (17/10) lalu.
“Karena kalau Pelindo II masuk, semua akan diambil alih Pelindo II. Sementara, kami ini adalah perintis pelabuhan. Tentunya kami keberatan jika Pelindo II masuk,” pungkasnya. (iza)
