batampos.co.id – Seringnya bahan bakar minyak (BBM) jenis premium hilang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kepri, khususnya Batam diduga tak lepas dari rencana Pertaminan menghilangkan premium di pasaran pada 2020 mendatang. Namun, hal itu dibantah Pertamina.

”Tidak ada rencana seperti itu (menghilangkan premiun, red),” ujar Roby Hervindo, Unit Manager Commucation, Relation & CSR Marketing Operation Region (MOR) I Pertamina, Rabu (27/11/2019) kepada Batam Pos.

Roby juga memastikan BBM berkualitas seperti pertalite dan pertamax akan terus ada di SPBU di Kepri.

Apalagi premium masih menjadi salah satu BBM yang banyak digunakan masyarakat Batam.

Hal tersebut terlihat dari antrean pengguna Premium di sejumlah SPBU di Batam.
Lalu apakah kuotanya dikurangi?

Roby mengaku, kuota premium tidak menjadi patokan lantaran tidak termasuk BBM subsidi atau tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Berbeda dengan solar yang dibatasi dengan kuota karena subsidi negara. Sementara penggunaan pertalite di Kepri, menurut Roby, terjadi peningkatan.

Papan pengumuman premium dalam pengantaran terpasang. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Realisasinya mencapai 102 persen atau 2 persen di atas target di 2019.

”Ada peningkatan untuk konsumsi pertalite,” ucapnya.

Mahardika, warga Batam Kota, menyatakan tidak setuju jika premium di Batam dihilangkan.

Sebab, sebagian besar masyarakat Batam merupakan pengguna premium.

”Premium habis (kosong di SPBU, red) saja kami keteteran, gimana kalau tak dijual lagi,” ujarnya.

Dia mengatakan, premium menjadi pilihan lantaran masih bisa dijangkau oleh warga yang kurang mampu.

”Kalau beli BBM lain kan harganya mahal. Kalau premium masih terjangkau,” katanya.

Terapkan Fuel Card Biosolar di Tanjungpinang

Sementara itu, guna memastikan penyaluran biosolar bersubsidi tepat sasaran, Pertamina bersama Pemkot Tanjungpinang dan BRI meluncurkan kartu Fuel Card di Kota Tanjungpinang, Selasa (26/11/2019) di SPBU 14291717, Batu 10.

Kartu kendali pembelian biosolar subsidi ini dapat digunakan di seluruh SPBU Tanjungpinang.

Roby mengatakan, fuel card berfungsi agar biosolar dinikmati pengguna yang berhak.

Fuel card diperuntukkan bagi kendaraan roda empat dan roda enam yang sesuai dengan kriteria pengguna dalam Perpres Nomor 191 Tahun 2014,” jelasnya.

“Dengan kartu ini, misalnya, kendaraan roda sepuluh hanya sebagian yang bisa pakai biosolar subsidi,” ujar Roby lagi.

Manfaat lain dari fuel card adalah meminimalisir penyalahgunaan, dengan menetapkan konsumsi biosolar subsidi maksimal 30 liter per hari.

”Meski pemegang kartu membeli di SPBU lain, tetap terakumulasi 30 liter per hari untuk pembelian biosolar bersubsidi. Tidak bisa melebihi. Sehingga diharapkan dapat mengurangi aksi penimbunan biosolar subsidi,” tegasnya.

Dalam peluncuran fuel card, Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Rahma, mengaku Pemko Tanjungpinang sangat mendukung penggunaan fuel card tersebut.

”Kami bersyukur atas penerapan kartu fuel card. Ini membantu Pemkot dalam pengawasan biosolar bersubsidi. Juga membuat masyarakat tenang karena terjamin untuk mendapatkan biosolar,” katanya Rahma.

Sales Branch Manager I Kepri, Fajar Wasis Satrio Utomo, menyampaikan, sejak diluncurkan, pengguna kartu fuel card mencapai 600 kendaraan untuk Kota Tanjungpinang.

”Awalnya dua SPBU yang melayani fuel card, sekarang seluruh SPBU di Tanjungpinang sebanyak tujuh unit sudah menerima fuel card,” sebut Satrio.

Pertamina, lanjut Satrio, masih membuka pendaftaran bagi masyarakat yang ingin mendapatkan fuel card.

Cukup membawa dokumen asli KTP, STNK, bukti bayar pajak terakhir, serta foto yang menampilkan nomor dan fisik kendaraan ke lokasi registrasi. Yaitu di Kantor Dishub Sungai Carang.

Pertamina dan Pemko Tanjungpinang akan terus mendorong perluasan penerapan penerapan fuel card.

Mulai 3 Desember 2019, mekanisme pendaftaran fuel card dilakukan secara daring melalui situs fuelcard.retaidiv.com. Registrasi juga akan dibuka di Kabupaten Bintan. (une)