Beberapa kali saya menjadi penyimak ketika Ir Ciputra bertutur. Bukan tentang kesuksesannya dalam membangun bisnis di Ciputra Group, tapi tentang hal lain: lukisan. Tentu lukisan karya Hendra Gunawan. Pelukis yang karya-karyanya sangat mewarnai citarasa Pak Ci hingga begitu tinggi.

SAMBIL menikmati hidangan makan siang di rumahnya yang asri di seberang hole 1 Bukit Golf Pondok Indah, Jakarta Selatan, Ir Ciputra sangat antusias bertutur tentang banyak hal. Pembangunan dan pembenahan Kota Jakarta dari waktu ke waktu, politik, hing­ga situasi ekonomi paling kini. Sambil sesekali bertanya tentang perkembangan media, terutamanya koran, Pak Ci –sapaan akrabnya– me­nyeruput sup asparagus kesukaannya.

Siang itu, pertengahan 2016, saya dan para pimpinan Jawa Pos Group diundang makan siang. Belum usai menikmati aneka me­nu yang disediakan, Pak Ci mengajak saya jalan.

Menelusuri selasar rumah, taman terbuka samping kanan yang view fairway-nya hijau menghampar. Sebagian genting tertutup tanaman merambat, bu­nga-bunga putih mekar menggantung.

Tiga seniman sibuk menyelesaikan garapan patung di taman bagian belakang.

“Ini berkah keindahan dari Tuhan yang luar biasa. Lama sekali saya menunggu bunga-bunga itu muncul dan mekar,” ucap Pak Ci sambil mengarahkan pandang pada rambatan bunga di atas genting. Kemudian jalan lagi.

Sambil jalan, Pak Ci terus bercerita, tapi sekarang hanya tentang Hendra Gunawan. Kapan perkenalan pertama dengan seniman merakyat itu, ide-idenya, hingga masa-masa Hendra terbaring sakit dan tak punya biaya untuk berobat.

Siang itu adalah kali ketiga saya mendengarkan cerita tentang Hendra Gunawan dari Pak Ci. Saya baru “ngeh”, penggalan kalimat itu merupakan lanjutan dari yang pernah diceritakan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pak Ci seperti mengurai rekaman semua detail pertemuannya dengan Hendra Gunawan tanpa ada sisi-sisi yang terlupa dari ingatan.

Setiap kali menyebut satu judul –tanpa ada lukisan di depannya– semua objek yang ada di kanvas mampu ia telusuri satu demi satu, seperti diarsir, lalu ditarik benang merahnya: ada filosofi, keinginan, situasi, bahkan guyon apa di balik lukisan itu. Uraiannya sangat “njlentreh” seolah proses melukis Hendra Gunawan itu sedang dilakukan di depannya.
Saya, yang dalam waktu senggang juga melukis sebagai hobi-hobian saja, mengagumi kuatnya daya serap imajinatif Pak Ci terhadap naluri karya-karya Hendra. Tak hanya cinta dan kekaguman, tapi juga penjiwaan.

PENGUNJUNG saat berada di Museum Ciputra Artpreneur, Kamis (28/11). Pameran lukisan 100 tahun Hendra Gunawan menampilkan sejumlah koleksi lukisan miliknya.

Dari 32 karya yang sekarang dipajang di Ciputra Artpreneur, beberapa telah saya dengarkan tafsirnya dari Pak Ci. Setiap kali mengakhiri penjelasan pada satu lukisan, Pak Ci selalu menutup dengan kata-kata: hebat ya…

Respek itulah yang menjadi dorongan Ciputra untuk menjaga semua karya Hendra Gunawan tetap awet, lalu menyimpannya di ruang bertemperatur khusus di Singapura, dalam jangka waktu lama.

Sekarang sebagian besar lukisan sudah dibawa pulang ke Tanah Air, di-display di Museum Ciputra Artpreneur, kompleks Ciputra World, Jakarta, agar bisa dinikmati masyarakat banyak.

Tali pertemanan antara Ciputra dan Hendra Gunawan sungguh bak goresan dalam lukisannya: ekspresif penuh kejutan, pilihan warna dan temanya berani, langgeng.
Pada awal 80-an, Pak Ci ke Bali untuk sebuah urusan pekerjaan. Tapi, tiba-tiba muncul rasa kangen dengan sang pelukis, lalu mampirlah ke rumah Hendra Gunawan. Ciputra kaget. Hendra terbaring sakit, sedangkan rumahnya kosong tanpa lukisan. Ternyata, lukisan-lukisan Hendra harus disimpan di sebuah bank sebagai jaminan utang untuk biaya berobat. Oleh Ciputra, utang bank dibayar, semua lukisan pun dikembalikan lagi ke rumah…

Sepeninggal Hendra pada 1983, oleh keluarganya, lantas diserahkanlah lukisan itu ke Ciputra. Selain dianggap yang memiliki karena telah membayar semua pinjaman di bank, juga yang diberi amanah untuk merawat dan menjaga. Setelah dikirim ke Jakarta, seluruh lukisan dipajang di Pasar Seni, Ancol, dengan banderol harga obral dengan maksud cepat terjual.

“Sebanyak itu, bagaimana saya menyimpannya?” kenang Pak Ci.

Berhari-hari dipamerkan, tak satu pun lukisan diminati pembeli. Tak laku sama sekali. Daripada ditumpuk, sebagian lukisan akhirnya dia berikan kepada sahabat-sahabat dekatnya secara cuma-cuma. Misalnya, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, dia beri lukisan yang ukurannya cukup besar untuk dipajang di rumah dinas gubernur DKI Jakarta waktu itu.

Teman dekat lainnya yang dia beri adalah ayahanda Prabowo Subianto, yaitu ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo. Yang tersimpan sebagai kenangan Ciputra adalah, saat lukisan Hendra diberikan kepada Soemitro.

“Ini lukisan bagus…,” kata Ciputra sambil menyodorkan kanvas. “Oh, terima kasih. Taruh situ,” jawab Soemitro sambil menunjuk sebuah sudut di ruang tamu.

Lama tak ketemu Soemitro, Ciputra kembali berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Eh, lukisan yang dulu dia bawa ternyata masih teronggok di tempat yang sama. Akhirnya, setelah meminta izin, Ciputra membawa pulang lagi lukisan itu daripada terbengkalai.

Kini karya-karya Hendra Gunawan telah berubah dari harga “diobral tak laku” jadi puluhan miliar rupiah untuk satu lukisannya di balai lelang internasional. Tapi, Ciputra tetap lebih tertarik untuk menyerap nilai empatik dan ekspresif sebagai warna diri hingga akhir hayatnya. Dua hal yang kemudian menjadi nilai dasar ajarannya: entrepreneur. (leak kustiya)