Selasa, 14 April 2026

Investasi PMDN Batam Naik

Berita Terkait

batampos.co.id – Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Batam tercatat meningkat. Hingga triwulan ketiga atau periode Januari-September 2019 mencapai Rp 3,975 triliun. Angka tersebut naik cukup jauh jika dibandingkan periode yang sama pada pada tahun sebelumnya yang tercatat Rp 2,1 triliun.

“Artinya kenaikannya 89,2 persen,” kata Kepala Bidang Promosi, Data, dan Informasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Batam, Verbian Hidayat Syam, Kamis (28/11/2019).

Ia memaparkan, penyumbang terbesar investasi PMDN di Batam di sektor jasa, hotel, restoran, industri kimia, farmasi, dan industri elektronik. Masih sama dengan tahun lalu.

Beberapa sektor penyumbang terbanyak periode tersebut 2018 dari sektor hotel dan restoran menyumbang angka Rp 660,140 miliar, pertambangan Rp 449,299 miliar, dan industri kimia dan farmasi tercatat Rp 402,269 miliar. Sementara industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam tercatat Rp 234,372 miliar. Sedangkan industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain Rp 155,816 miliar.

Sisanya gabungan beberapa sektor.

Sedangkan di 2019 dengan periode yang sama, industri kimia dan farmasi menyumbang Rp 1,640 triliun, hotel dan restoran Rp 868,753 miliar, transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp 660,015 miliar. Kemudian industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam Rp 210,798 miliar. Sedangkan industri mineral non logam Rp 176,155 miliar.

“Tidak semua perusahaan baru, tapi ada juga perusahaan lama,” imbuhnya.

ilustrasi

Ia menyebutkan, perusahaan baru tidak begitu signifikan yang masuk. Berangkat dari hal ini, pihaknya bahkan beranggapan ada realisasi investasi PMDN yang dulu tidak tercatat, tapi kali ini tercatat seiring penerapan sistem Online Single Submission (OSS).

“Mungkin bedanya di ter-record dan tidak,” katanya.

Kepala DPM-PTSP Kota Batam, Firmansyah, mengatakan selama ini pemerintah cenderung fokus pada investasi dengan nilai besar. Padahal investasi atau penanaman modal tidak dipandang dari faktor tersebut.

“Padahal yang kecil-kecil juga banyak. Itu juga penanaman modal,” katanya.

Sumbangsih PDRB Batam Meningkat

Sementara itu, Batam menyumbang 61,66 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk Kepri pada 2018 lalu. Sumbangsih ini diprediksi akan naik pada 2019, meski tidak signifikan.

“Tahun ini diproyeksikan meningkat, karena pembangunan Batam sekarang semakin baik. Tapi tidak signifikan, diprediksi tidak jauh dari 60-an persen juga,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Rahyudin, Kamis (28/11).

Untuk 2018, sektor tertinggi penyumbang PDRB adalah sektor industri sebesar 54 persen dari total sumbangsih PDRB dari Batam. Kemudian kontruksi sebesar 19 persen. Sedangkan perdagangan hanya 6 persen.

“Sisanya, sektor gabungan,” ucapnya.

Menurut dia, sektor pariwisata tidak dibunyikan dalam PDRB. Yang ada hanya akomodasi, industri makanan, juga minuman. Beberapa hari ini masuk ke sektor lain-lain. Namun ia mengaku, pariwisata sifatnya universal, artinya mempengaruhi semua sektor.

“Pariwisata itu efeknya kemana-mana,” ujarnya.

Rahyudin melanjutkan, PDRB Batam 2019 masih disumbang sektor yang sama seperti tahun lalu. Khusus sektor industri masih menjadi penyumbang terbanyak, sub sektornya adalah logam dasar, manufaktur juga galangan kapal.

“Realisasi PDRB tahun ini baru diketahui akhir tahun. Mudah-mudahan terus tumbuh. Apalagi sudah nampak industri dapat proyek baru seperti PT McDermott Indonesia Batam hingga rekrutmen karyawan yang akan digelar di Batamindo,” imbuhnya.

Rahyudin juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada kuartal III 2019 masih mengalami perlambatan. Demikian juga partner dagang utama Kepulauan Riau seperti Singapura, Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonominya juga melambat pada triwulan ini.

Namun, pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau (Kepri) year on year (yoy) pada triwulan III 2019 mampu tumbuh lebih baik, yakni 4,89 persen. Itu jika dibandingkan triwulan yang sama pada dua tahun sebelumnya.

“Sampai dengan triwulan III 2019 ekonomi Kepulauan Riau mampu tumbuh sebesar 4,78 persen,” terangnya. (iza)

Update