Rabu, 26 Januari 2022

Mengenalkan Literasi Pada Anak Berkebutuhan Khusus

spot_img

batampos.co.id – Puluhan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) tampak bersemangat sekali saat mengikuti acara Gerakan Literasi Sekolah Pendidikan Khusus di Kepri Mall, Kamis (28/11/2019).

Keterbatasan fisik tidak menjadi halangan berarti bagi mereka dalam menuntaskan hobinya.

Contohnya anak autis dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Batam bernama Rafli. Ia tengah asyik menggambar kondisi jalan di Kota Batam.

Tapi saat disapa, ia hanya diam. Pikirannya hanya terfokus pada kertas gambar di depannya.

Salah seorang guru SLB Batam, Norma, mengatakan kalau Rafli sudah menggambar, ia tak akan bisa diganggu lagi.

”Nanti bisa marah dia,” imbuhnya.

Lain halnya dengan Jessica dari SLB Putra Kami. Ia merupakan seorang tuna grahita. Jessica tampak asyik dengan kertas gambarnya.

Siswa SLB Negeri Batam menunjukkan kebolehannya saat pentas seni pada gebyar gerakan literasi sekolah pendidikan khusus di Kepri Mall, Kamis (28/11/2019). Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Ketika disapa, ia hanya menoleh sedikit dan kemudian kembali asyik dengan kegiatannya. Beberapa anak lainnya ada juga yang menampilkan performa tari, baca puisi dan menyanyi di panggung utama.

Kasi Kurikulum dan Penilaian Pendidikan Khusus Pemerintah Provinsi Kepri, Dr Elmie, mengatakan, gerakan literasi ini memang sedang digalakkan terutama di kalangan ABK.

”Gerakan literasi ini digalakkan agar anak-anak gemar membaca. Jadi, tiap 15 menit sebelum mulai belajar, anak akan diajak membaca bacaan yang ringan-ringan seperti buku dongeng. Kalau sudah remaja, maka boleh baca novel,” tuturnya.

Gerakan ini juga diimplementasikan di SLB. Di Kepri, jumlah SLB ada 17 terdiri dari 9 SLB swasta dan 8 SLB negeri.

”Gerakan literasi ini selain mengajarkan gemar membaca, juga mengutamakan aspek mendengarkan, menceritakan kembali, menghitung dan memecahkan masalah,” jelasnya.

Sedangkan guru dari SLB Putra Kami, Hefrina, mengatakan, rata-rata ABK memang sangat senang belajar.

Apalagi saat ini, pemerintah tengah menggalakkan program membaca selama 15 menit.

Kebijakan tersebut dimanfaatkan SLB Putra Kami untuk menceritakan dongeng-dongeng yang mengajarkan budi pekerti kepada murid-muridnya sebelum memulai pelajaran.

“Kalau cara mengajarnya biasa saja, maka mereka tidak akan tertarik. Makanya sangat penting guru itu bisa berekspresi,” jelasnya.

Guru lanjutnya harus seperti anak-anak ABK dalam berbicara. Agar anak-anak bisa tertarik untuk mendengarkan.

“Karena hal yang paling sulit itu adalah mengenalkan emosi kepada anak-anak berkebutuhan khusus,” paparnya.(leo)

Berita Terkait

spot_img

Update