Pak Ci, panggilan akrab almarhum Ciputra, selalu mengingatkan entrepreneurship tak bergantung pada bakat saja. Bisa diajarkan, bisa dilatih. Pesan penting lainnya, pengusaha harus berempati kepada sesama.

Catatan: Yohannes Somawihardja Rektor Universitas Ciputra

SAYA tak menyangka harus membuka acara ini: doa dan penghormatan terakhir kepada Pak Ci (Ciputra). Ini masih pukul 9 pagi, Rabu (29/11/2019).

Tapi, hawa di lapangan kampus rasanya tak sejuk sama sekali. Dada saya sesak, menyayangkan kepergian penggagas berdirinya Universitas Ciputra (UC) tersebut.

Di hadapan para pengajar, civitas akademika, dan alumni, saya harus menyampaikan kesan saya mengenai beliau.

Oh Tuhan, seberat ini rupanya mengenang kepergian orang yang semasa hidupnya dikenal sangat baik.

Saya ingat. Dulu, saya hadir dalam peletakan batu pertama kampus ini. Saat itu saya belum menjadi rektor, tapi saya termasuk dalam beberapa orang yang ikut mengawali berdirinya kampus UC.

Saat kampus ini masih dalam proses pembangunan, Pak Ci selalu bilang, “Saya ingin menyebarkan sema-ngat entrepreneurship. Anak-anak muda harus kita ajari menciptakan peluang.”

Melihat semangatnya itu, saya yakin kampus UC akan menjadi kampus besar yang menghasilkan banyak entrepreneur baru. Dan, lihatlah, kampus UC sudah semakin besar sekarang.

Kampus ini didirikan Pak Ci dengan pertimbangan yang matang. Namanya saja Universitas Ciputra. Pakai nama Pak Ci himself.

Pak Ci ingin melekatkan semangat entrepreneurship di kampus ini dengan menggunakan namanya.

Katanya dulu, kampus ini berbeda dengan UI maupun ITB. UC punya spirit yang berbeda, yaitu ekspresi diri, ekonomi sejahtera, dan empati (3E).

Tiga hal itu harus dimiliki seorang entrepreneur. Sebab, dengan mengekspresikan diri melalui entrepreneurship, ekonomi akan sejahtera.

Namun, sejahtera saja tak cukup. Harus empati kepada sesama. Seperti yang ditulis di buku Ciputra The Entrepreneur, semangat entrepreneurship ini bahkan juga diajarkan di Sekolah Internasional Ciputra dan Global Jaya.

Anak-anak SD diajak berkeliling mal untuk mengamati toko-toko buku. Mereka ditanyai toko mana yang pembelinya ramai.

Kenapa itu penting? Sebab, mereka akan diajak untuk berpikir. Jika akan membuka toko, toko seperti apa yang akan mereka buat nantinya.

Dulu, Pak Ci sering bolak-balik Jakarta–Surabaya untuk memantau perkembangan kampus ini.

Pak Ci juga tak canggung ngobrol dengan mahasiswa. Tiap melihat dan mendengar para mahasiswa bercerita tentang kuliah maupun rencana bisnis mereka, Pak Ci semangat sekali.

“Enggak apa-apa, ayo ngobrol. Saya kalau ketemu yang muda-muda ini rasanya senang. Tambah semangat,” ujarnya kepada saya dan para mahasiswa itu.

Dia sama sekali tak memedulikan kondisi tubuhnya yang lemah. Usia yang tak lagi muda membuat energinya terbatas.

Yohannes Somawihardja, Rektor Universitas Ciputra. Foto: Guslan Gumilang/Jawa Pos

Kami sering menawarinya duduk di kursi sambil ngobrol agar tidak capek. Tapi, beliau terkadang lebih nyaman ngobrol sambil berdiri, bahkan jalan-jalan ke sana kemari, keliling kampus.

Begitulah Pak Ci. Semangatnya seolah tak terbendung kalau melihat anak-anak muda yang semangat di kampus ini.

Satu warisan yang juga ditinggalkan Pak Ci adalah patung entrepreneur muda yang ada di kampus ini. Beliau sendiri yang mendesain patung perunggu itu.

Kalau datang atau lewat depan kampus kami, tentu Anda tahu ada patung besar berbentuk bola dunia.

Di atasnya ada laki-laki dan perempuan muda yang membusungkan dadanya dengan gagah.

Tangan kiri mereka membawa tas. Tangan kanan mereka berpose 3E dengan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya.

Jari telunjuk melambangkan ekspresi diri, jari tengah ekonomi sejahtera, sementara jari manis menunjukkan empati.

Patung itu diluncurkan bersamaan dengan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) 2011 oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Patung itu juga dipajang di Ciputra World Jakarta serta ada pula replikanya di rumah Pak Ci di Jakarta.

***
Sebagai orang besar, Pak Ci adalah sosok yang tegas. Ketika ada staf yang salah, beliau langsung menanyakan kenapa itu bisa terjadi.

Kalau ada yang kurang tepat, beliau juga tak segan memperingatkan di depan. Tidak sembunyi-sembunyi.

Sebab, Pak Ci sangat memperhatikan integritas. Untung, sampai kemarin saya tidak pernah dimarahi beliau. Sekali pun.

Sebagaimana dalam buku Ciputra The Entrepreneur pula, masa kecil Pak Ci tidaklah mudah.

Saat tinggal bersama tante dan sepupunya di Gorontalo, beliau dididik dengan sangat disiplin dan keras.

Pernah juga tidak naik, dari kelas II ke kelas III SD, karena nilai bahasanya jeblok. Gurunya sempat merendahkannya waktu itu.

Bahkan, ayahnya sempat menyebutnya seperti kain pel, hanya karena tidak naik kelas.
Namun, karena kelembutan ibu beliau, Pak Ci bisa sukses.

Meski tidak naik kelas, ibunda Pak Ci tetap meyakinkan keluarga bahwa Pak Ci sebenarnya anak yang pandai.

Akhirnya, saat SMA, Pak Ci justru jago di bidang matematika hingga akhirnya bisa kuliah di ITB. Beliau juga berprestasi sebagai atlet lari yang ikut PON.

Sampai akhir hayatnya pun, Pak Ci tambah sukses dengan membangun properti dan kampus.

Ini yang mengingatkan saya bahwa entrepreneurship itu, kata Pak Ci, bisa diajarkan. Bisa dilatih. Tidak melulu bergantung pada bakat anak.

***
Doa di lapangan kampus sudah selesai. Kini para staf meletakkan bunga di antara lilin-lilin yang disusun berbentuk hati.

Ah, melihatnya, saya bisa menangkap rasa kehilangan yang dirasakan para staf dan pengajar di sini.

Bagaimana tidak. Layar display di depan lift di sudut-sudut kampus memajang poster ucapan belasungkawa atas kepergian Pak Ci.

Kampus ini memang sedang berduka. Kesan saya, Pak Ci tidak hanya menebarkan semangat entrepreneurship, tapi juga empati kepada sesama.

Saat awal pembangunan kampus ini, Pak Ci pernah mendengar kabar tentang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang melarikan diri dan disiksa majikannya. Pak Ci pun bertanya kepada saya ketika itu, “Kenapa ya kita tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang kita sendiri?”

Belum sempat saya jawab, Pak Ci menimpali sendiri, “Ini kita harus menciptakan lapangan kerja untuk orang-orang Indonesia.”

Itulah yang membuat saya juga bersemangat untuk membantu beliau mengajarkan entrepreneurship di kampus ini.

Semakin banyak entrepreneur, semakin banyak peluang kerja yang tercipta. Kita tidak perlu mengirim TKI bekerja jauh-jauh ke negeri orang.

Kalaupun harus menjadi TKI, kita bisa bekerja dengan lebih terhormat dan tidak direndahkan di negeri orang.

Waktu mendengar kabar Pak Ci sakit dan dirawat di Singapura, saya selalu mendoakan beliau. Saya belum sempat menjenguk ke Singapura.

Rupanya, beliau pergi lebih cepat. Saya mendapat kabar beliau meninggal waktu membuka ponsel sekitar pukul 05.00.

Oh, rasanya kaget sekali. Hancur. Seperti kehilangan pembimbing yang membesarkan kita. Pembimbing yang mewujudkan cita-cita kampus ini.

Semoga beliau damai di sana. Saya akan terus mengemban misi yang diajarkannya: menebarkan semangat entrepreneurship kepada anak-anak muda.

Saya ingin lebih banyak Pak Ci-Pak Ci yang baru dari kampus ini. Entrepreneur yang tak hanya menciptakan peluang, tapi juga memiliki rasa dan belas kasih terhadap sesama. (*/his/rin/ttg/Disarikan dari wawancara dan reportase)