batampos.co.id – Pemerintah Kota Batam sedang gencar-gencarnya meningkatkan sektor pariwisata. Dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Kepri menempati urutan nomor dua dengan jumlah wisatawan terbanyak se Indonesia. Dengan Batam sebagai penyumbang wisatawan terbanyak. Jumlah wisatawan yang datang setiap tahun terus meningkat. Catatan Disbudpar Januari-September 2019, sebanyak 1,4 juta wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke Batam.
Peranan Perusahaan Gas Negara (PGN) pada sektor pariwisata di Batam, sudah terasa sejak wisatawan masuk ke Kota Bandar Madani ini. Apabila masuk melalui Pelabuhan Internasional Batamcenter hampir sebagian taksi yang ditumpangi wisatawan menggunakan bahan bakar gas, yang diisi ulang di Kampung Belian. Dari beberapa pengakuan pengemudi taksi, kendaraan yang menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) lebih baik dan lebih murah. Selain itu juga lebih aman.
Para wisatawan yang datang, setelah melalui perjalanan panjang, pasti akan singgah ke rumah makan. Beberapa rumah makan berbau etnik seperti nasi padang dan soto medan, juga telah dimasuki oleh PGN. Salah satu pengusaha kuliner Soto Medan Lezat di Batamcenter Square, Tanto Gunawan mengatakan sudah lama menggunakan gas PGN.
“Kurang lebih hampir 8 tahun. Sejak tanam pipa, kami mendaftarkan diri,” katanya, Jumat (29/11).
Ia mengatakan, penggunaan gas PGN ini, membuat pengapian untuk memasak lebih stabil. Sehingga masakannya jarang gosong. Selain faktor tersebut, Tanto menyebut sejak menggunakan gas PGN, ia bisa meraup untung lebih banyak.
“Lebih murah 30 persen daripada beli tabung elpiji,” ucapnya.
Pemakaian gas PGN diakuinya juga lebih simpel. Karena tidak perlu ganti tabung setiap saat. Dulu, Tanto harus menganti tabung setiap gas habis. Kadang akibat sering ganti tabung, regulator jadi mudah rusak atau bocor halus.
“Tapi kini kan gas mengalir saja. Cara cek kebocoran juga gampang, matikan semua aliran gas. Lalu kalau meteran gas masih jalan, berarti ada kebocoran. Tinggal kontak layanan gasnya saja. Mereka responsif dan cepat,” ungkapnya.
Saat terjadi perbaikan, jadwal pemadaman gas dengan jelas diberitahukan ke pelanggan. Sehingga pelanggan sudah mempersiapkan diri. Tanto yang mengaku menjual ratusan mangkuk soto setiap hari ini, merasa lebih untung menggunakan gas PGN. “Tidak hanya orang sekitar sini yang datang makan. Wisman dan domestik juga sering ke sini. Jaraknya kan tidak jauh dari Pelabuhan Internasional Batamcenter,” ujarnya.
Kepala Disbudpar Batam Ardiwinata menyambut baik masuknya PGN dalam membangun sektor pariwisata. Mulai dari membuat mural serta taman. Namun ada satu hal yang paling penting dirasa Ardi, dan hal ini bisa menjadi daya tarik Batam. Apabila dibranding dengan baik.
“Batam dengan tingkat emisi rendah, kualitas udara terbaik. Saat ini kan baru sebatas taksi dan beberapa kendaraan menggunakan BBG. Ke depan jika semakin banyak kendaraan menggunakan BBG, tentu emisi akan semakin berkurang. Kualitas udara semakin bagus,” ucapnya.
Emisi rendah dan kualitas udara sehat ini, bisa menjadi daya tarik Batam. “Batam kota ramah lingkungan. Nah inilah yang diperlukan. Kami menyambut baik usaha yang dilakukan PGN selama ini dalam meningkatkan pariwisata di Batam,” tuturnya.
Ardi menyebut pertumbuhan ekonomi di Batam di tahun 2019 diperkirakan diatas 5 persen. Salah satu penyumbang pertumbuhan ini adalah pariwisata. “Item pariwisata tidak masuk dalam data BPS. Tapi harus diketahui, sebanyak 17 sektor pariwisata menyumbang pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.
Beberapa sektor tersebut seperti jasa (layanan sopir taksi), makanan (restoran-restoran), hotel dan pusat jajanan. “Harapan kita semua, semoga sektor pariwisata ini semakin bertumbuh. Dan sinergi perusahaan seperti PGN meningkatkan perekonomian serta sektor pariwisata,” ucapnya.
Sales Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto mengatakan, sejauh ini PGN berkomitmen memberikan yang terbaik dan melayani para pelanggannya. Bahkan kini dibuat beragam inovasi, salah satunya memberikan pelayanan kepada calon pelanggan yg belum terkoneksi jaringan pipa, yaitu melayani dengan Compressed Natural Gas (CNG) yang harganya masih lebih efisien dari elpiji non subsidi.
Dengan inovasi ini PGN berharap dapat lebih banyak melayani industri komersil yang berhubungan dengan dunia pariwisata seperti hotel, rumah makan dan laundry. Wendi mengatakan jaringan pipa kini sudah ada di sekitar Nagoya dan Jodoh dan sudah digunakan di Grand I Hotel, Swiss-Belhotel, Harmoni Hotel, Nagoya Mansion, Haris Hotel Batamcenter, Best Western Panbil dan beberapa hotel lainnya di seputaran Nagoya dan Batamcenter.
Dalam waktu dekat ini, JW Marriott yang berlokasi di Harbourbay Batuampar juga akan menjadi pelanggan PGN. Sementara untuk daerah yang belum ada pipa PGN, Wendi mengatakan akan melayani dengan menggunakan CNG yaitu Harris Resort Marina, Harris Resort Barelang dan Montigo Resort di Nongsa. Juga ada KLA Laundry di Bengkong dan beberapa usaha katering.
Tidak hanya menyokong pariwisata dalam segi penyaluran gas. PGN juga ikut serta dalam bidang Corporate Social Responsibility (CSR) dengan membangun Taman Tuah Melayu, membuat mural demi memperindah Batam dan menyediakan fasilitas umum yg dapat dinikmati bersama oleh masyarakat Batam. Hal ini menjadi bukti PGN terus bertumbuh seiring berkembangnya Batam.
Ke depannya Wendi mengatakan PGN akan terus membangun infrastruktur di tempat yg belum ada jaringan pipanya dan menyediakan cradle CNG lebih banyak. “Sehingga masyarakat batam dapat menikmati energi baik yg bersih dan efisien serta ramah lingkungan,” pungkasnya. (fiska juanda)
