Perusahaan Gas Negara (PGN) berkomitmen untuk mengembangkan pariwisata di Batam. Sejumlah hotel dan resort di kota ini menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar utama dalam operasionalnya, khususnya di dapur. Selain lebih hemat dan efisien, juga ramah lingkungan sehingga mendukung Batam sebagai kota wisata ramah lingkungan.

RIFKI SETIAWAN LUBIS, BATAM

280 pesepeda dari 20 negara berkunjung ke Batam pada 1 November lalu. Tujuannya adalah untuk mengikuti Tour De Kepri yang digelar pada 1-3 November 2019. Event olahraga yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) tiap tahun ini melintasi tiga wilayah besar di Kepri, mulai dari Tanjungpinang, Bintan dan berakhir di Batam. Panitia berharap dengan menggelar event olahraga seperti ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepri.

Seorang wisatawan asal Singapura berswafoto dengan latar belakang Welcome To Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Salah seorang pesepeda asal Belanda, Tim Van Der Werff merupakan langganan tahunan dari event ini. Tiap tahun, ia selalu menyempatkan diri datang ke Batam. Alasannya tentu saja bukan karena hanya ingin bersepeda, tapi juga ingin berwisata.

Saat ditemui di Wey Wey Life Seafood di Harbour Bay, Batam, Sabtu (9/11/2019), pria bertubuh tambun ini tengah asyik menyantap sajian makan malamnya berupa kepiting telur asin. Tim merupakan pria ramah, ia tersenyum ketika disapa dan bahkan mempersilahkan penulis untuk duduk di sebelahnya.

Tak disangka, Tim bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar. Tapi ia meminta waktu untuk menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu. 15 menit kemudian, Tim selesai makan dan mulai membuka pembicaraan.

“Tahun ini merupakan yang kelima saya datang ke Batam. Dulu, saya kerja di salah satu perusahaan industri disini. Setelah berhenti tiga tahun lalu, saya pulang. Tapi selalu datang tiap tahun untuk bersepeda disini dan juga jalan-jalan,” ungkapnya.

Karena tiap tahun berkunjung ke Batam, ia juga tahu bahwa Batam terus berkembang pesat, khususnya dari segi infrastruktur dan kualitas udara. Jalannya lebar-lebar sehingga mobilitas pun lebih cepat. Sedangkan kualitas udara sudah mengalami peningkatan lebih baik.

“Dari teman-teman yang masih kerja di Batam, saya tahu bahwa banyak perusahaan industri di Batam yang sudah pakai gas bumi. Alasannya lebih efisien dan ramah lingkungan. Begitu juga hotel-hotel dan resort, sudah ada yang pakai gas,” tuturnya.

Di Batam, Tim sering menginap di Hotel Harris Batamcentre. Hotel Harris juga menggunakan gas bumi dari PGN untuk kegiatan operasional di dapur. Tim mengakui pelayanan di hotel berbintang empat ini memang bagus, ditambah lagi sejak memakai gas maka pelayanannya lebih cepat dan mampu menciptakan atmosfer hijau yang ramah lingkungan.

Dari hotel, ia sering menggunakan taksi untuk mobilitasnya di Batam. Tim yang hobi mengobrol ini sering berbincang-bincang dengan supir-supir taksi, sehingga ia tahu kalau sudah banyak taksi di Batam yang menggunakan bahan bakar gas (BBG), seperti Taksi Blue Bird.

“Kata mereka, pakai BBG bisa hemat 30 sampai 40 persen. Lalu, tidak antre lagi. Dan tentu saja ramah lingkungan,” ucapnya.

Di Batam, aktivitas harian yang sering dilakukannya sebagai wisman yakni makan dan berbelanja. Restoran Wey-Wey tempat ia makan malam juga memakai gas bumi untuk operasional dapurnya. Sedangkan tempat ia sering berbelanja yakni Mega Mall Batamcentre juga menggunakan gas bumi. Begitu juga dengan perusahaan penyedia listrik di Batam, Bright PLN yang juga menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

“Dimana-mana sudah pakai gas, pantas saja masih bersih udaranya sekarang,” jelasnya.

Ia kemudian membandingkan Batam dengan kota kelahirannya, Amsterdam di Belanda. Amsterdam merupakan salah satu kota di dunia yang dikenal sebagai kota ramah lingkungan.

Tim menceritakan sebuah perusahaan energi Eropa bernama Vattenfall yang menyediakan energi dari tenaga angin dan matahari, serta beberapa pembangkit listrik bertenaga gas.

”Ini memberi Amsterdam, poin pengisian daya untuk rumah, bisnis dan tempat-tempat umum,” paparnya.

Sekarang Amsterdam memang tengah berusaha membersihkan udara dengan cara menggalakkan kendaraan bebas emisi seperti kendaraan berbahan listrik dan gas.

“Kalau udara bersih, maka harapan hidup akan meningkat dan mengurangi emisi CO2,” tuturnya.

Meski belum mencapai tingkatan yang sama dengan Amsterdam, Tim menjelaskan bahwa Batam sudah memulai langkah yang bagus untuk menjadi kota ramah lingkungan.

Gas alam adalah hidrokarbon dengan pembakaran paling bersih yang menghasilkan sekitar setengah emisi karbon dioksida dan rendah polutan.

Dengan makin bertambahnya jumlah warga Batam dan juga industri, kualitas udara akan semakin menurun. Namun, pemilihan gas sebagai bahan bakar akan mengurangi polusi dan menjaga kualitas udara tetap baik.

Saat ini, kualitas udara di Batam berdasar kadar Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada dibawah 99, rata-rata berada di angka 40. Kualitas udara diatas 99, maka sudah termasuk kategori udara tidak sehat. Semakin turun, maka kualitas udara semakin bagus.

”Seperti di Amsterdam, maka lebih baik penduduk di Batam gunakan transportasi berbahan bakar gas. Maka dengan itu akan mengurangi polusi udara,” katanya.

Kalau kualitas udara bagus, maka potensi pariwisata di kota Batam akan meningkat. Wisman akan senang berkunjung dan menghabiskan waktu dan uangnya di Batam.

”Contohnya saya,” katanya sambil tersenyum.

Kepri memang merupakan provinsi urutan ketiga untuk jumlah kunjungan wisman terbanyak di Indonesia setelah Bali dan Jakarta. Tetapi itu sebelum tahun 2019, karena hingga semester pertama 2019, Kepri sekarang telah melewati Jakarta dan duduk di urutan kedua.

Sektor pariwisata merupakan andalan Kepri selain sektor industri. Lokasinya yang strategis berada di perbatasan dengan dunia internasional mendukung hal tersebut. Banyak wisman yang datang berkunjung ke Kepri khususnya Batam, kemudian meneruskan perjalanannya ke daerah lainnya di Indonesia. Batam memang merupakan salah satu pintu gerbang utama untuk masuk ke Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, pada tahun 2016 jumlah wisman yang berkunjung ke Kepri mencapai 1.920.232 wisman. Dari jumlah kunjungan tersebut, Batam menyumbang 1.432.427 wisman atau sekitar 80 persen.

Pada tahun 2017, kunjungan ke Kepri meningkat hingga menjadi 2.074.534 wisman, Batam menyumbang wisman sebanyak 1.504.275 atau sekitar 75 persen. Tahun 2018, kunjungan wisman terus meningkat menjadi 2.635.004 wisman, Batam menyumbang 1.887.284 wisman atau sekitar 75 persen. Dan hingga September 2019, jumlah wisman yang berkunjung ke Kepri sudah mencapai 2.120.711 wisman. Batam menyumbang 1.431.166 wisman atau 67 persen.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisbudpar) Pemerintah Kota (Pemko) Batam, Ardiwinata mengatakan selain berbagai program yang ditawarkan pemerintah, banyaknya atraksi yang diselenggarakan di kota itu mampu menjadi magnet kunjungan wisman.

“Atraksi setiap minggu ada. Ada banyak agenda di Batam, sampai 114 acara lebih dalam setahun,” kata dia.

Disbudpar Batam juga selalu merilis agenda yang diselenggarakan oleh destinasi wisata, termasuk pusat perbelanjaan yang menjadi favorit wisman yang datang ke Batam.

Desember ini, event pariwisata yang akan digelar di Batam yakni Batam Great Sale, Batam International Cultural Carnival (BICC), Tering Bay Spin Golf, Batam Internationla Marathon, Pesta Rakyat Hari Jadi Batam, Gebyar Budaya Nusantara, Series Xmas dan New Years Eve Mega Celebration Nongsa Sensation, Golf and Boaters Night, Kenduri Seni Melayu, Kenduri Akhir Tahun, Cobra Golf Kakis dan SPGA Golf Tournament Party.

Batam International Cultural Carnival (BICC) tahun 2018 lalu. Foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Ardi percaya, banyaknya atraksi yang digelar pemerintah dan swasta mampu menjadi magnet wisman untuk datang berkunjung. Adapun beberapa program menarik yakni Hot Deals, Travel Hub dan lainnya. Hot Deals berupa paket kunjungan kepada wisman dalam bentuk diskon. Lalu Travel Hub berupa program untuk mengajak pelancong yang datang dari Singapura untuk melanjutkan perjalanannya ke Batam, Tanjungpinang, Bintan dan Karimun.

Kemudian, Batam juga memiliki aksesibilitas dan amenitas yang baik, sehingga membuat wisman nyaman berada di Batam.“Jalan-jalan di Batam sekarang lebar, taman kota indah ada juga pedestrian. Ini daya tarik. Dari amenitas, kita punya 232 hotel, dan terminal feri yang lancar,” lanjut Ardi.

Ardi mengakui peningkatan jumlah wisman yang datang ke Batam juga tidak terlepas dari dukungan infrastruktur dan utilitas yang mumpuni. “Salah satunya gas bumi. Energi yang hemat dan ramah lingkungan itu luar biasa bagi Batam,” katanya lagi.

Isu mengenai lingkungan selalu menjadi isu yang penting bagi wisman yang mau berkunjung ke Batam. “Jika suatu kota itu bersih, tidak ada polusi dan sampah plastik, maka itu akan menjadi brand yang luas biasa. Sekaligus juga promosi gratis tentunya,” ujarnya.

Sebagai kota wisata, Batam memiliki sarana yang memadai untuk menggelar berbagai event, baik itu event berskala nasional maupun internasional. “Batam ini kota Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) di Indonesia. Bahkan konferensi lingkungan hidup juga bisa digelar disini,” tuturnya.

Kegiatan MICE memang tengah berkembang di Indonesia. Wisatawan MICE yang sering dengan disebut dengan business traveler memiliki kelebihan dibanding wisatawan biasa. “Mereka itu juga bisa sebagai penilai tentang kualitas sebuah kota dalam menggelar acara-acara seperti rapat, konvensi, eksibisi dan lain-lain,” ujar pria berkacamata ini.

Untuk menjadi sebuah kota destinasi MICE tentu membutuhkan dukungan infrastruktur, utilitas dan akomodasi yang memadai seperti hotel, restoran, destinasi wisata dan masih banyak lagi.

”Hotel dan restoran yang menggunakan gas bumi tentu memilki nilai lebih di mata wisman karena dianggap ramah lingkungan,” paparnya.

Di Batam, hotel dan resort yang menggunakan gas bumi untuk kegiatan operasionalnya antara lain Hotel Harmoni One Batamcentre, Hotel Harris Batamcentre, Harris Resort Waterfront Sekupang, Grand I Hotel, Hotel Best Western Premiere Panbil, Hotel Swissbell, Hotel Planet Holiday, Nagoya Mansion, Hotel Harmoni Nagoya, Hotel Mercure, Hotel Travelodge, Hotel Pacific, Hotel Da Vienna Boutique, I Hotel Baloi, Hotel The Hills dan Hotel Biz. Sebagian besar merupakan hotel berbintang empat keatas.

Hotel Harris Batamcentre merupakan salah satu hotel yang pertama mendapatkan pengalaman berharga dalam menggunakan gas bumi. Chief Engineer Shared Service Hotel Harris Batamcentre, Bejo Wahyono mengatakan hotel yang identik dengan warna orange ini sudah pakai gas bumi sejak 2014.

“Menurut analisa saya, ada tiga keuntungan menggunakan gas PGN ini yakni dari sisi finansial sudah jelas lebih hemat. Dari sisi operasional tidak ribet dan dari sisi ramah lingkungan, sangat mendukung kami untuk menjadi green hotel,” ungkapnya saat ditemui di lobi Hotel Harris, Sabtu (16/11/2019).

Dari sisi finansial, hotel mampu berhemat 30 persen. Dari sisi operasional, Bejo mengakui sangat mudah mengoperasikannya. “Kalau dulu pakai gas tabung harus purchasing order. Kadang-kadang terima tabung yang sudah kosong, maka ditimbang lagi. Lalu penggantian gas kan kadang mendadak, misalnya habis masak tiba-tiba habis. Atau kalau lagi malam-malam gas habis bagaimana. Makanya dari segi operasional, kita sudah dienakkan. Begitu juga dari keamanannya juga terjamin,” paparnya.

Dari sisi ramah lingkungan, Bejo mengakui pemakaian gas bumi akan mendukung program pemerintah yang ingin menciptakan lingkungan hijau.

Dalam sebulan, pemakaian gas bumi di Hotel Harris mencapai 2,379.70 meter kubik per bulan. Kebutuhan tersebut digunakan untuk kegiatan operasional di dapur.

“Kalau hotel ini biasanya ramai dikunjungi pebisnis. Kebanyakan tidak terlalu cerewet soal makanan. Bagi mereka yang penting breakfast mewah dan cepat. Nah, pakai gas ini kerja chef lebih cepat, tamu pun senang,” ungkapnya sembari tersenyum.

Dapur hotel Harris Batam Center. Mereka menggunakan gas PGN untuk kebutuhan dapur mereka.  foto: batampos.co.id / cecep mulyana 

Untuk pelayanan, Bejo mengakui PGN memiliki komitmen yang baik. Bahkan, ia sendiri tak sungkan untuk mempromosikan penggunaan gas bumi ke hotel-hotel yang belum menggunakannya.

“PGN itu cepat bergerak kalau ada keluhan. Mereka siaga 24 jam penuh. Refill atau inject pagi-pagi dan subuh diladeni oleh PGN. Gas mau habis jam 2 pagi, datang petugas PGN. Saya sampai mikir bagus sekali komitmen mereka ya,” kata Bejo yang juga merupakan ketua umum Asosiasi Chief Engineer Kepri ini.

PGN memang mendukung penuh pengembangan pariwisata di Indonesia. Pada awal Agustus lalu, PGN dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) hari ini menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama pemanfaatan gas bumi dan penyediaan Information and Communication Technology (ICT), 7 Agustus 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Direktur Strategi Pengembangan Bisnis PGN Syahrial Mukhtar mengatakan dalam jangka waktu setahun pemanfaatan gas bumi bagi para anggota PHRI dapat terwujud.
“Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi, PGN memiliki komitmen untuk terus meningkatkan pemanfaatan energi baik gas bumi di dalam negeri,” ujarnya.

Menurut Syahrial, ruang lingkup kerja sama dengan PHRI ini meliputi penyediaan dan pemanfaatan gas bumi dan ICT untuk hotel dan restoran, serta bentuk kerja sama potensial lainnya yang dapat dilakukan oleh seluruh pihak untuk pengembangan dan pertumbuhan sektor-sektor penting industri pariwisata di Indonesia.

Syahrial menambahkan, PGN sesungguhnya telah memasok kebutuhan gas bumi di sejumlah hotel dan restoran di berbagai wilayah. Namun, kerjasama dengan PHRI baru sekarang dilaksanakan dan PGN berharap semakin banyak hotel dan restoran yang dapat memanfaatkan energi baik gas bumi yang terbukti lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan bagi masyarakat.

“Sebagai subholding gas, PGN akan terus mengambil inisiatif untuk memperluas pemanfaatan gas melalui pembangunan infrastruktur di berbagai segmen pasar termasuk komersial. PGN harus bisa memberikan layanan optimal untuk sektor ini. Sektor perhotelan dan restoran dapat ikut berperan memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi. Kerjasama ini akan membuka peluang-peluang baru untuk pemanfaatan gas bumi domestik,” tambah Gigih Prakoso, Direktur Utama PGN.

Hingga periode Juni 2019, sebanyak lebih kurang 370 hotel dan restoran yang telah dilayani energi baik gas bumi PGN di beberapa lokasi, antara lain di Jabodetabek, Cirebon, Medan Palembang, Lampung, Surabaya, Sidoardjo dan Batam.

Ketua Umum PHRI, Hariyadi BS Sukamdani berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi setiap hotel dan restoran di Indonesia. Melalui pemanfaatan gas bumi, para pelaku usaha juga dapat membantu pemerintah mengurangi ketergantungan pada energi impor. “Banyak hal yang bisa dikerjasamakan dengan PGN untuk layanan selain gas bumi termasuk ICT dan produk layanan lainnya. Energi menjadi konsen bersama anggota PHRI. Dengan solusi moda transportasi gas bumi selain pipa, akan memudahkan anggota PHRI mengakses energi,” kata Hariyadi.

Hingga saat ini, sebanyak lebih kurang 44.000 hotel dan restoran tergabung dalam PHRI. Dari jumlah tersebut, 29.000 diantaranya merupakan hotel dan 15.000 restoran. Menurutnya, jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan pembangunan hotel dan restoran di wilayah Indonesia. Pada tahun ini, PHRI memperkirakan tambahan kamar mencapai 50.000 unit untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan mancanegara.

Di Batam, PGN terus membangun jaringan pipa gas bumi untuk memperluas pemanfaatan energi baik itu untuk seluruh konsumen di Batam. Adapun jaringan pipa yang sudah dibangun mencapai 141,3 kilometer yang tersebar di Batamcentre, Batuaji, Nagoya, Batuampar dan Kabil.

Sales Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto mengatakan jumlah volume pemakaian gas bumi di Batam tahun ini mencapai 70 BBTUD. “Meningkat dari tahun lalu yang hanya 62 BBTUD. Industri dan komersil menyukai gas karena lebih efisien,” ucapnya.

PGN Batam sudah melayani 4.800 pelanggan yang terdiri dari sektor rumah tangga, komersial dan indsutri. “4.600 diantaranya itu pelanggan rumah tangga,” imbuh Wendi.

Jadi, dari segala sektor, Batam memang telah menjelma menjadi kota gas yang ramah lingkungan. Mulai dari sektor industri, sektor komersial, sektor pariwisata, sektor energi, sektor transportasi dan rumah tangga sudah memakai gas.

Atas pencapaian dalam melaksanakan lingkungan kerja yang sehat, selamat, aman, dan ramah lingkungan, PGN mendapatkan apresiasi dari Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM berupa Penghargaan Keselamatan Migas Tahun 2019.

(*)