batampos.co.id – Tony Fernandes, CEO Grup Airasia, mendapatkan penghargaan dari Kerajaan Malaysia. Ia menerima penghargaan Pencapaian Sepanjang Hayat untuk pembangunan negara dari sektor swasta dalam acara Anugerah Pembangunan Negara dan Penentu Dunia 2019 yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (28/11) lalu.

Dilansir dari kantor berita Bernama, penghargaan tersebut diserahkan oleh Perdana Menteri Thailand, Jenderal Chavalit Yongchaiyudth disaksikan Ketua Institut Pembangunan Negara Internasional (NBII) Profesor Kriengsak Chareonwongsak.

Usai menerima penghargaan tersebut, Tony mengungkapkan pencapaian ini membuatnya bahagia dan berbesar hati untuk menerima penghargaan tersebut. Selama ini, dalam membangun maskapai Airasia, tujuan utamanya adalah mengembangkan dan membangun transportasi negara.

Tony Fernandes, CEO Grup Airasia

”Di AirAsia, agenda pembangunan negara juga menjadi tujuan utama bisnis kami dalam beroperasi. Kemakmuran berusaha mendapatkan dukungan pemerintah bukan sesuatu yang baru bagi kami. Itulah sebabnya, pembangunan ini bisa bertahan sampai sekarang, sejak 18 tahun yang lalu,” ujar Tony.

Airasia, seperti diketahui telah menjadi maskapai berbiaya rendah yang telah menjadikan Malaysia terhubung ke berbagai negara di dunia. ”Semua orang bisa terbang. Malahan dua per tiga dari rakyat Malaysia telah melakukan penerbangan. Sebagian besar berwisata, bisnis, pendidikan, bantuan kemanusiaan, dan lain-lain secara domestik dan internasional,” jelasnya.

Selain Tony, warga Malaysia yang juga mendapat penghargaan adalah istri Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr Siti Hasmah yang meraih Anugerah Pembangunan Negara Wanita.

Pemenang-pemenang anugerah ini terpilih melalui Panitia Pemilihan Internasional yang terdiri dari 14 tokoh terkenal internasional dan kriteria penilaian untuk Anugerah Pencapaian Sepanjang Hayat.

Termasuk faktor-faktor seperti prinsip yang diketengahkan, dampak, sumbangan, inovasi, bakti dan kelestarian. Acara ini diselenggarakan Institut Pembangunan Negara Internasional di Bangkok dengan kerja sama Institut Penyelidikan Ekonomi Malaysia (MIER) dan Pusat Penyelidikan, Penasihat dan Teknologi (CREATE). (*)