Senin, 27 April 2026

Lagi, Supir Taksi Online dan Konvensional di Batam Baku Hantam

Berita Terkait

batampos.o.id – Kericuhan antara pengemudi taksi daring (online) dengan konvensional kembali terjadi di Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Selasa (3/12) siang.

Bebera­pa pekan lalu, kericuhan se­rupa juga terjadi di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam.

Kejadian berawal saat seorang pengemudi taksi online hendak menjemput keluarganya di pelabuhan tersebut, kemarin.

Pada saat itu, keluarganya sudah menunggu. Saat masuk pelabuhan, driver online tersebut tak menghidupkan aplikasinya karena yang mau dijemput adalah keluarganya.

“Tapi saat tiba di lokasi, ia malah dipersekusi pengemudi pangkalan,” ujar driver online lainnya yang akrab disapa Sembiring.

Persekusi ini berujung pada baku hantam antara driver online dengan pangkalan. Sebab, pengemudi online tak boleh mengambil penumpang di area pelabuhan tersebut.

Akibat baku pukul dua pihak itu, dua pengemudi taksi online mengalami luka lebam, yakni Rizal dan Ramses.

Rizal membenarkan penganiayaan itu terjadi saat rekannya, Ramses memasuki pelabuhan.

Saat itu, Ramses memutuskan untuk mematikan aplikasi karena yang mau dijemput keluarga.

“Saat masuk aplikasi sudah dimatikan. Tetapi, driver taksi pelabuhan tetap tidak terima. Padahal, kami tidak pernah menghidupkan aplikasi jika masuk wilayah redzone,” kata Rizal.

Dengan kejadian ini, dia meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Kepri untuk mengeluarkan aturan yang jelas untuk titik pengambilan penumpang di pelabuhan maupun bandara.

“Kalau ingin Batam aman, harus ada kejelasan,” tegasnya.

Personel Kepolisian dari Polsek Batam Kota dan Sat Sabhara Polresta Barelang melakukan penjagaan di pintu gerbang Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, menyusul kericuhan antara driver taksi konvesional dan taksi online, Selasa (3/12/2019). Foto: Cecep Mulyana/batam pos.co.id

Pantauan Batam Pos, sejak awal kejadian di siang hari hingga pukul 15.00 WIB, suasana masih memanas.

Dua kubu masih terlibat adu mulut, namun dapat diredam pihak kepolisian dan TNI yang berjaga di lokasi.

Kendati demikian, para driver taksi online tak terima penganiayaan yang menyebabkan rekan-rekan mereka luka lebam terus berdatangan ke pelabuhan.

Ada ratusan pengemudi taksi online yang datang sesaat setelah rekan mereka baku pukul.

“Kami masih belum terima, sekarang teman kami sudah dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth dan mendapatkan penanganan,” ujar Sembiring lagi.

Kejadian tersebut berimbas pada kemacetan di ruas jalan depan pelabuhan karena banyak warga yang berhenti ingin melihat kericuhan tersebut.

Sementara di dalam pelabuhan, banyak penumpang dari Malaysia maupun Singapura tertahan tak bisa keluar karena khawatir kericuhan berimbas ke mereka.

Begitupun penumpang yang akan berangkat. Mereka tertahan di luar pelabuhan karena khawatir saat masuk terkena imbas dari kericuhan driver online dan pangkalan tersebut.

Nika Astaga, Manajer PT Synergy Tharada, pengelola Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, mengatakan, kericuhan pengemudi taksi online dan konvensional sudah sering terjadi, namun tak ada juga solusi permanen dari pemerintah.

“Saya selaku pengelola pelabuhan pada prinsipnya tak ingin di pelabuhan ini ada gangguan. Makanya perlu duduk bersama semua pihak untuk mencari solusi terbaik. Jangan ramai seperti ini,” ucapnya.

Nika berharap, pemerintah dan dinas terkait dapat lebih tegas menanggapi kasus yang sering berulang kali terjadi ini.

Sebab, ia mengaku tidak menyukai kejadian itu, karena Pelabuhan Feri Batam Center pintu gerbang Indonesia yang harus dijaga kondisinya supaya aman dan kondusif.

“Kalau mau ribut jangan di sini,” pintanya.

Penasehat Komunitas Taksi Online, Edy Gunawan, menambahkan, pihaknya meminta kepada kepolisian untuk mengusut dan menangkap pelaku pemukulan rekan mereka.

“Pelaku pemukulan kami serahkan ke pihak kepolisian untuk menindaknya. Pelaku satu orang sesuai di rekaman video,” ujar Edy di lokasi kejadian.

Untuk meredam kericuhan , personel dari Polsek Batam Kota, Polresta Barelang, dan Sat Sabhara Polresta Barelang mengamankan lokasi.

Sekitar pukul 16.30 WIB, massa dari dua kubu membubarkan diri. Aktivitas lalu lintas mulai kembali normal, begitupun di dalam pelabuhan.

Sementara itu, Kapolresta Barelang, AKBP Prasetyo Rahmad Purboyo, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri melalui Dishub Kepri mengeluarkan regulasi yang jelas antara taksi online dan konvensional.

“Intinya regulasi yang jelas. Kita juga sudah menyurati pemerintah provinsi dan berbicara juga dengan Ketua DPRD Batam. Kalau belum ada kejelasan (aturan) bakalan terus terjadi selisih paham,” ujar Parestyo.

Ia juga mengimbau kepada para driver untuk sama-sama menahan diri, dan tidak terpancing melawan hukum.

“Kalau memang terjadi pelanggaran hukum, tentunya langsung kita tindak. Seperti kejadian hari ini (penganiayaan), langsung kita proses,” tegasnya.(mib/ofi)

Update