SENYUMNYA selalu mengembang. Jauh dari kesan angker atau seram, meski selalu berseragam lengkap kepolisian saat menjalankan tugas.

Itulah kesan masyarakat Batam Kota begitu disebut nama AKP Restia Octane Guchy, Kapolsek Batam Kota yang baru. Sampai kemarin, ia baru menjabat 1 bulan 10 hari.

Meski baru menjabat, namanya langsung berkibar karena ia dan jajarannya langsung menggebrak dengan pengungkapan kasus yang menyita perhatian publik.

Mulai dari penangkapkan komplotan jambret, hingga pelaku pencurian kabel milik Telkom.
Tak hanya itu, di kalangan masyarakat yang sering menggelar aksi damai di Batam Center, baik di kantor dewan maupun Pemko Batam, wajah AKP Guchy juga sudah tak asing lagi.

Sebab, saat ada aksi demo, ia selalu berada di barisan paling depan mengamankan jalannya demo di Batam Kota.

Batam Pos berkesempatan mengenal lebih dekat dengan kapolsek cantik ini. Kepada Batam Pos, pemilik senyum manis tersebut mengatakan lahir di Pekanbaru, 1 Oktober 1982.

Kapolsek Batam kota, AKP Restia Octane Guchy. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

“Saya masuk polisi karena keinginan sendiri,” katanya, Kamis (5/12/2019).

Sebelum menjadi polisi, sempat bekerja di sebuah bank di Pekanbaru selama 3 tahun. Namun, setelah itu, ia memutuskan untuk menjadi seorang polisi melalui jalur Akademi Polisi. “Masuk 2008, selesai 2010,” ucapnya.

Begitu selesai pendidikan, Guchi mengaku langsung ditempatkan di Polda Kepri. Selama itu, Guchi berkecimpung di Direktorat Lalu Lintas Polda Kepri hingga dimutasi ke Polsek Batam Kota.

”Tidak ada yang sulit, cuman dituntut harus cepat menyesuaikan dengan kondisi di sini,” ucapnya.

Ia mengaku beban tugas setiap satker berbeda-beda. Di Polsek Batam Kota, Guchi mengaku terus bersinggungan dengan masyarakat setiap hari.

Tingkat kejahatan dan eskalasi demo yang sering, membuatnya harus memutar otak lebih cepat agar semua berjalan aman.

”Di sini lebih greget, bagaimana memutuskan satu hal penting sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.

Selain itu, Guchi mengaku di wilayah Batam Kota banyak objek vital yang harus dijaga.

”Di sini sangat kompleks. Kenapa saya ditunjuk di sini, itu kewenangan pimpinan. Saya berusaha menjalani arahan dan petunjuk pimpinan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Bagaimana dengan demo? Guchi mengaku tidak antipati dengan demo. Karena hak setiap warga negara, sepanjang sesuai aturan. Ia pun berbagai tips bagaimana mengelola demo yang tertib.

”Kuncinya komunikasi dan memperlakukan mereka dengan layak. Bisa jadi karena kapolseknya dari polwan mereka jadi segan melanggar aturan,” ucapnya, sambil tersenyum.(ska)