Ribuan karangan bunga dukacita berjejer di rumah duka ataupun lokasi persemayaman Ir Ciputra. Mewakili kehilangan banyak orang atas kepergian begawan properti, pencinta seni, dan sosok yang rendah hati itu.

Peti jenazah cokelat yang diletakkan di tengah ruang galeri Ci­putra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan (Jaksel), itu menjadi pusat perhatian mereka yang datang. Sisi-sisi peti dihiasi berbagai jenis bunga dan lilin. Tembok bagian belakang peti tak dibiarkan sepi. Ornamen bunga ditata cantik memenuhi tembok.

Tukang Durian, Keluarga Nelayan, dan Mengurus Anak yang merupakan tiga patung karya seniman Hendra Gunawan diletakkan menemani peti. Meski tak mengusung tema khusus, dekorasi tempat persemayaman tersebut memunculkan nuansa elegan.

Sekitar 20 meter dari peti, delapan pegawai berdiri di sisi kanan dan kiri pintu masuk ruang galeri. Mereka menyambut ramah dan mempersilakan satu per satu tamu yang datang.

Baju serbaputih menjadi dress code Selasa (3/12) itu. Tak lupa pita hitam kecil tanda dukacita terpasang di bagian dada baju para karyawan Grup Ciputra dari berbagai divisi tersebut. ”Di tanggal genap kami pakai baju gelap. Karena ini tanggal ganjil, kami pakai baju warna terang,” ujar Julham Panggabean, PR and Social Media Consultant Ciputra Artpreneur.

Wangi bunga memenuhi sekeliling ruangan. Aroma itu berasal dari ratusan kiriman standing flower belasungkawa yang ditata artistik. Karangan yang didominasi mawar putih tersebut diletakkan meliuk-liuk mengelilingi ruangan seluas 1.400 meter persegi itu. Menambah syahdu suasana, alunan musik piano lembut dimainkan. Kebaktian penghiburan yang dilakukan keluarga besar untuk kepergian Pak Ci (sapaan akrab Ciputra) dimulai 28 November hingga 3 Desember.

Julham menjelaskan, setiap hari seluruh keluarga besar Pak Ci menerima tamu secara langsung.

Sejatinya acara kunjungan dibuka mulai pukul 10.00 hingga 22.00 sesuai jam operasional galeri yang juga satu gedung dengan Mal Ciputra World itu. Namun, banyak pengunjung yang datang di luar jam-jam tersebut. Pihaknya tak mempermasalah­kan karena menganggap siapa pun, kapan pun, dan jam berapa pun boleh datang.

Prinsip keterbukaan bagi umum itu membuat sesi layatan orang terkaya nomor 27 di Indonesia versi Forbes 2018 tersebut jauh dari kesan kaku. Meski konglomerat, keluarga besar Ciputra memang terkenal jauh dari kesan high profile.

”Bu Rina (Rina Ciputra Sastrawinata, putri sulung Ciputra, red) berpesan bahwa Pak Ci itu bukan hanya kepunyaan keluarga atau karyawan Grup Ciputra. Jadi, kita nggak boleh melarang orang yang ingin melayat. Siapa pun boleh datang,” tutur Julham.


F. RAKA DENNY/JAWAPOS
Putri almarhum Ciputra, Rina Ciputra Sastrawinata (7 dari kanan) dan Junita Ciputra (6 dari kanan) menerima tamu yang memberikan penghormatan terakhir di persemayaman Ciputra di Artpreneur Ciputra World 1, Kuningan Jakarta.

Bisa dibayangkan sibuknya keluarga menerima pelayat. Setiap hari mereka selalu ada di area yang mampu menampung 2.500 orang itu. Anak, menantu, cucu, hingga cicit berkumpul dan menyalami tamu.

”Yang melayat itu lintas agama, lintas budaya. Barusan kami juga menerima kunjungan dari pesantren yang dulunya Pak Ci pernah mewakafkan tanah untuk dijadikan pesantren,” ungkap Julham.

Pelayanan bagi tamu tak dibedakan. Mau masyarakat biasa ataupun pejabat, keluarga dengan sabar dan ramah menemui. Keluarga juga tak keberatan jika ada yang meminta foto bersama. Para pelayat itu datang dari berbagai daerah. Semasa hidupnya, Pak Ci yang lahir di Parigi, Sulteng, 24 Agustus 1931, memang dikenal sangat membumi dan memiliki relasi yang luas.

Julham memerinci, pelayat yang hadir rata-rata mencapai 1.000 orang per hari. Pada Jumat (29/11) dan Senin (2/12) lalu, jumlah pelayat membeludak hingga lebih dari 1.200. Jumlah itu bertambah banyak Rabu (4/12) karena ada malam kembang (misa requiem) dan kebaktian tutup peti.

Pelayanan maksimal diberikan tuan rumah. Para pelayat yang datang dipersilakan untuk menyantap hidangan lezat buffet yang beragam maupun sekadar mengopi di stan Starbucks yang disediakan.

Julham menerangkan, selain pelayat, keluarga terus menerima karangan bunga yang datang sejak Pak Ci mengembuskan napas terakhir di Singapura, Rabu (27/11), pada usia 88 tahun. Pihaknya tak menghitung secara khusus jumlah total karangan bunga yang diterima. Karena itu, dia tak bisa menyebutkan berapa jumlah bunga yang didapat. Yang pasti ada ribuan. Bunga tersebut berderet bermeter-meter panjangnya di rumah duka Bukit Golf Utama, Kebayoran Baru, Jaksel. Pengirimnya bermacam-macam. Dari Presiden Joko Widodo hingga pengurus RW pun ada.

Julham memastikan bahwa seluruh karangan bunga itu diterima dengan baik oleh keluarga dan tim Grup Ciputra. Karena membeludak, panitia lantas mengalihkan pengiriman karangan bunga tersebut dari rumah duka ke lokasi persemayaman. Sebagian bunga di rumah duka juga diusung ke Ciputra World yang berjarak sekitar 14 kilometer dengan menggunakan mobil pikap.

”Satu mobil boks pikap sekali angkut karangan bunga papan bisa muat sekitar lima atau enam bunga. Lebih dari itu kasihan bunganya kegencet karena bahan papannya kan styrofoam,” tutur Ghoida Rahma, florist di Pasar Bunga Rawa Belong yang mendapat pesanan karangan bunga untuk Pak Ci.

***

Kamis (5/12) Pak Ci dimakamkan di tempat pemakaman milik keluarga. Taman makam tersebut memiliki luas sekitar empat hektare. Hanya keluarga besar Ciputra yang boleh dikebumikan di sana.

Di lahan itu ada tujuh makam. Antara lain makam ayah dan ibu Pak Ci, Tjie Siem Poe dan Lie Eng Nio. Kemudian kedua orangtua istri Ciputra, Dian Sumeler, yakni Sia Sui Hok dan Kho Liem Nio. Makam empat orang tersebut berada di blok tengah Memorial Park. Di situ berdiri Monumen Yesus Memberkati seperti yang ada di Manado, Sulawesi Utara.

Sementara tiga makam lainnya terletak di sisi utara. Ketiganya adalah saudara Pak Ci. Salah satunya sang kakak, Bayan Akochi (Tjie Tjin Hok), yang wafat 23 September 2012. Lokasi pemakaman Pak Ci terletak satu blok dengan kedua orangtua dan mertuanya. Persis di depan Monumen Yesus Memberkati yang menghadap ke barat. (*/c9/ayi)