batampos.co.id – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, mengatakan perekonomian Batam tahun 2020 masih menghadapi tantangan yang tak ringan.
“Untuk tahun 2020, kita melihat masih ada awan mendung yang akan dihadapi perekonomian Batam. ya karena masih adanya ancaman pelemahan ekonomi global,” katanya.
Ditambah lagi dengan beban dunia usaha yang akan mulai menanggung kenaikan upah minimum kerja (UMK) mulai Januari 2020.
“Kita berharap pemerintah, baik dari pusat maupun daerah, bisa menyikapinya dengan melakukan belanja lebih banyak untuk pembangunan,” terangnya.
Pemerintah harus lebih cepat merealisasikan belanja di anggaran pendapatan belanja negara (APBN) dan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) untuk 2020.
“Dengan begitu melambatnya penjualan sektor swasta bisa diimbangi dengan belanja pemerintah,” jelasnya.
“Sehingga perlambatan perekonomian bisa dikurangi dampaknya kepada pelaku ekonomi secara keseluruhan,” ucapnya lagi.
Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk, menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Batam pada 2020 mendatang bisa berjalan mulus apabila pemerintah menjalankan semua program-programnya dalam memuluskan capaian investasi.
“2020 nanti Kadin Batam akan melanjutkan program Tahun Investasi, meskipun 2020 tahun politik pemilihan kepala daerah,” kata dia.
“Mudah-mudahan melalui kegiatan ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui belanja politik dan pemerintah segera menjalankan program-programnya itu,” ujar Jadi lagi.

Sekilas mengenai perkembangan pertumbuhan ekonomi Batam dari tahun ke tahun. Sejak 2013, ekonomi Batam mengalami pertumbuhan 7,18 persen.
Tahun 2014 ekonomi Batam turun menjadi 7,16 persen. Lalu 2015 turun lagi menjadi 6,87 persen dan 2016 menurun lagi menjadi 5,43 persen, dan 2017 turun lebih parah menjadi 2,19 persen.
“Di 2018, ekonomi Batam menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Naik menjadi 4,5 persen. Pertumbuhan itu didorong kenaikan nilai investasi karena kemudahan perizinan yang menyebabkan masuknya investasi baru ke Batam,” jelasnya.
“Sedangkan capaian di 2019 berjalan ini, kami melihat tak jauh berbeda dengan tahun 2018. Tidak menurun dan tidak meningkat,” kata Jadi lagi.
Ia mengatakan, perang dagang Tiongkok dan AS serta situasi politik di Hongkong harusnya menjadi peluang bagi Batam untuk menjadi alternatif tempat relokasi investasi.
“Tahun Investasi 2020, Kadin Batam fokus pada industri manufaktur, pariwisata, perdagangan, properti dan jasa IT,” paparnya.
“Kami juga berencana ke Tiongkok untuk menarik ribuan industri furniture supaya bisa direlokasi ke Batam,” tuturnya lagi.
Dia berharap, 2020 nanti menjadi momentum bagi pembangunan ekonomi dan masa depan Batam. Apalagi, tahun itu juga Batam menjalani pesta demokrasi, pemilihan wali kota Batam.
“Harapan saya, suasana kondusif supaya tidak mempengaruhi kondisi ekonomi ke level rendah,” katanya.
Ia juga berharap pada Pilkada 2020 mampu menghasilkan wali kota Batam yang bukan hanya memahami kebutuhan masyarakat, tapi juga harus memiliki visi misi yang jelas, kreatif dan inovatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Serta memiliki jaringan dalam dan luar negeri, dan mampu berkomunikasi yang baik dengan seluruh stakeholders,” ujarnya.
Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, juga berharap Batam jadi tempat baru bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok.
“Investor dari Tiongkok berencana relokasi pabriknya ke Asia Tenggara karena imbas dari perang dagang antara Amerika dan Tiongkok.” tuturnya.
“Tapi saya heran, dari sekian banyak investor, justru hanya sedikit yang melirik Batam. Padahal kita punya posisi strategis di Selat Melaka. Harusnya dengan kondisi global sekarang, kita bisa menangkap peluang Tiongkok,” ujarnya Tjaw Hoeing lagi.
Berdasarkan data Forum Ekonomi Dunia dan Bank Dunia tahun ini, Indonesia memang berada di bawah Vietnam soal kemudahan berbisnis, urutan 73 banding 69. Tapi soal indeks daya saing, Indonesia lebih baik, urutan 45 banding 77.(leo/cha)
