Kamis, 23 April 2026

Menteri Komunikasi dan Informatika: Kerja PNS Mungkin Diganti Robot

Berita Terkait

batampos.co.id – Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G Plate yakin bahwa menggantikan kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan artificial intelligence (AI) atau robot dengan kecerdasan buatan memungkinkan untuk diterapkan pada kinerja birokrasi di Indonesia.

Menurut Johnny, kecepatan internet di kota-kota besar di Indonesia, serta infrastruktur pendukung yang saat ini dimiliki sudah cukup untuk beralih ke era pekerja robot.

“Itu sangat makes sense, pekerjaan manusia bisa lebih sedikit. Hal-hal teknis bisa dilakukan oleh perangkat mesin robotik dengan AI,” kata Johnny di Kominfo, akhir pekan lalu.

Hanya saja, menurut Jhonny, penggunaan AI di kementerian dan lembaga (KL) harus menyesuaikan ritme kerja masing-masing.

Ada yang bisa langsung mengadaptasi kerja robot dengan AI, ada yang harus menyesuaikan.

“Di Kementerian PAN-RB sudah, BUMN sudah, PUPR juga sudah mulai dilakukan, Kominfo pun sudah lama menggantikan peran teknis dengan sistem,” katanya.

Ilustrasi PNS di lingkungan Pemko Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Johnny mengungkapkan, saat ini Kominfo tengah menyusul secara internal untuk mengatur agar para pejabat eselon 3 dan 4 bekerja secara sungsional.

Sisanya dikerjakan oleh sistem. Hal ini, kata Jhonny, salah satunya sudah terwujud dengan kinerja Online Single Subsimission (OSS).

“Jadi tidak ada lagi orang yang catat dokumen, bikin memo, disposisi, ngetik. Sudah tidak perlu. Di kominfo sudah satu hari masuk. Tekan pencet. Keluar izinnnya hari itu juga,” jelasnya.

Meski demikian, kata Johnny, untuk beralih dari era fisik ke era robot, maka yang perlu ditata pertama adalah regulasi.

Terutama menyangkut pengaturan spektrum frekuensi internet di Indonesia. Mulai frekuensi tinggi, menegah hingga frekuensi rendah.

“Selain itu butuh banyak sekali talent digital, ahli telekomunikasi. Juga dipastikan infrastrukturnya sampai ke masyrakat di daerah terpencil,” katanya.

Terpisah, Guru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Prof Djohermansyah Djohan mewanti-wanti agar rencana penggunaan AI tidak mengganggu program prioritas presiden.

Sebab, untuk menyinkronkan antara SDM dan teknologi tentunya membutuhkan waktu. Sementara, presiden sedang bergerak cepat untuk mengerjakan program yang telah direncanakan.

“Karena birokrasi ini kan yang akan menjalankan. Begitu mereka dipotong atau dipangkas lalu kita gunakan macam-macam alat bantu lain, itu bisa mengganggu komposisi jalannya pelayanan publik dan pengambilan keputusan,” jelasnya.

Menurut dia, pemanfaatan AI sebaiknya diterapkan terlebih dahulu di daerah-daerah yang benar-benar memiliki kesiapan infrastruktur dan SDM. Baru setelahnya, diberlakukan secara bertahap ke daerah lain.

“Setelah pemdanya siap,” ujarnya.(jpg)

Update