batampos.co.id – PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Cabang Batam akan menambah infrastruktur pipa untuk memperluas pemanfaatan gas bumi untuk berbagai sektor kebutuhan energi di Kota Batam, tahun depan.
Pipa sepanjang kurang lebih 10 kilometer (km) itu akan dibangun melewati tiga kecamatan sekaligus.
Yakni, dari Kecamatan Batuampar, melewati kawasan Seipanas di Kecamatan Batam Kota, dan tersambung hingga ke Pelita di Kecamatan Lubukbaja.
Peningkatan infrastruktur tersebut diharapkan berkontribusi dalam memacu laju pertumbuhan ekonomi Kota Batam dalam beberapa waktu ke depan.
“Hal ini sekaligus untuk mengakomodir kebutuhan calon pelanggan komersial yang ada di jalur tersebut,” ujar Sales Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto, Selasa (10/12/2019).
Dalam beberapa waktu terakhir, selain sektor industri yang telah lama menjadi penopang pertumbuhan ekonomi, perputaran roda ekonomi dari sektor jasa dan perdagangan juga tumbuh signifikan di Kota Batam.
Hal itu seiring perkembangan kota ini yang diperuntukkan bagi layanan pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran atau Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE).
Sehingga, banyak hotel dan restoran yang bermunculan, baik itu di kawasan pusat pemerintahan Batam Centre, maupun di pusat bisnis dan perdagangan di seputar Nagoya, Kecamatan Lubukbaja.
Karena itu, PGN Batam juga menyatakan telah menyediakan infrastruktur pipa untuk melayani peningkatan permintaan gas bumi dari sektor komersial seperti hotel dan restoran tersebut.
“Untuk jaringan pipa di kawasan ekonomi Jodoh, Nagoya dan Batam Centre, PGN telah membangun jaringan pipa gas yang siap digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Sampai saat ini, sambung Wendi, PGN Batam telah mengoperasikan pipa sepanjang 163 km yang terdiri dari pipa baja dan polyethlyne yang tersebar di berbagai penjuru kota.
Infrastruktur itu digunakan untuk melayani kebutuhan energi gas bumi bagi semua sendi pergerakan ekonomi di Kota Batam.
Mulai dari sektor industri-termasuk puluhan kawasan industri-dan komersial, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), bahan bakar pembangkit listrik, sektor transportasi, hingga pelayanan bahan bakar untuk rumah tangga.

Total, PGN juga telah memasok gas bumi untuk 4.842 pelanggan di wilayah Batam. Rinciannya, 110 pelanggan industri dan komersial, 29 pelanggan kecil, serta 4.720 pelanggan rumah tangga.
“PGN sudah punya 43 pelanggan industri yang tersebar di berbagai kawasan industri di Batam, sedangkan yang komersial seperti hotel dan restoran ada 67 pelanggan,” papar Wendi.
Salah satu kawasan industri di Kota Batam yang menggunakan gas bumi dari PGN Batam adalah Kawasan Industri Batamindo atau Batamindo Industrial Park di Mukakuning, Kecamatan Seibeduk.
Selain menyediakan kebutuhan energi yang akan disalurkan untuk berbagai perusahaan atau tenant yang menyewa di kawasan itu, gas bumi juga digunakan Batamindo untuk membangkitkan listrik mandiri untuk kebutuhan kawasan.
Berbekal mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) atau gas engine yang berjumlah 18 unit dan masing-masing berkapasitas 6 Mega Watt (MW) serta satu unit mesin turbin gas berkapasitas 10 MW, Batamindo mampu menghasilkan cadangan listrik total sebesar 124 MW.
General Manager Batamindo, Mook Sooi Wah, mengatakan, penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik di kawasan itu membawa beberapa keuntungan sekaligus.
Selain tak menyisakan limbah dan ramah terhadap lingkungan, gas bumi juga dinilai lebih efisien ketimbang BBM seperti solar maupun Heavy Fuel Oil (HFO), yang sebelumnya digunakan kawasan ini untuk bahan bakar pembangkit listrik.
“Kita hemat bisa sampai 18 persen setelah beralih ke gas bumi,” kata Mook, beberapa waktu lalu.
Rata-rata, kata Mook, setiap bulan kawasan industri Batamindo butuh suplai gas bumi sebanyak 360 Million Metric British Thermal Unit (MMBTU). Sedangkan kebutuhan per hari mencapai 11,5 MMBTU.
“Kita butuh bahan bakar yang aman, dan menghasilkan tegangan dan frekuensi yang stabil. Sejauh ini pakai gas bumi cukup bagus,” katanya.
Tak hanya itu, lanjut Mook, sebagai kawasan industri di Kota Batam yang harus menunjukkan daya tarik bagi investor asing lantaran berhadapan langsung dengan negara tetangga.
Seperti Singapura dan Malaysia, Batamindo juga mengklaim berupaya menerapkan standar internasional. Antara lain, terkait standar ramah lingkungan dalam penggunaan energi.
“Terlebih bagi perusahaan dari negara-negara Eropa, mereka ada aturan yang harus diikuti, termasuk penggunaan energi ramah lingkungan. Maka itu, Batamindo wajib mendukung standar tersebut,” paparnya.
Dengan pemenuhan kebutuhan energi yang sesuai standar internasional tersebut, pihak pengelola kawasan industri berharap makin banyak investor, terutama arus modal dari mancanegara yang mengalir masuk ke Batam, khususnya ke dalam kawasan industri tersebut.
“Karena efeknya untuk menggerakkan ekonomi. Makin banyak investor masuk, tentu tenaga kerja yang terserap juga makin banyak, ekonomi tumbuh,” ujarnya.
Selain Kawasan Industri Batamindo, kawasan industri lain di Kota Batam yang juga menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar energi yakni Kawasan Industri Terpadu Kabil atau Kabil Integrated Industrial Estate di Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.
Tak hanya itu, PGN juga telah mengalirkan energi gas bumi ke beberapa kawasan industri lain di Batam.
Antara lain, Panbil Industrial Estate, Taiwan Industrial Park, Tunas Industrial Estate, Cammo Industrial Park, Executive Industrial Park, Latrade Industrial Park, Kawasan Industri Puri 2000 dan Bintang Industri.
Sebagai kota yang menjadi sentra penggerak ekonomi di Provinsi Kepri, Batam memang menjadi tumpuan harapan. Banyak industri maupun kawasan industri yang beroperasi di kota ini. Tak heran, Batam kemudian mendapat predikat sebagai kota industri.
Namun, ekonomi Batam dan Kepri pada umumnya sempat terempas saat krisis global menghantam sejak sekitar dua tahun terakhir.
Data dari Badan Pusat Statistik Kepri menyebut, pada triwulan I tahun 2017 lalu, ekonomi Kepri hanya tumbuh 2,02 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,24 persen (yoy).
Bahkan, di triwulan II-2017, pertumbuhan ekonomi Kepri terseok-seok di angka 1,04 persen (yoy), terburuk sepanjang sejarah provinsi ini terbentuk.
Tercatat, tiga sektor andalan Kepri mengalami keterpurukan, yakni industri pengolahan, konstruksi dan pertambangan-penggalian yang turun sangat signifikan.
Bahkan, industri pengolahan dan pertambangan mengalami kontraksi (pertumbuhan minus), terburuk dalam tujuh tahun terakhir.
Imbasnya, banyak terjadi pemutusan tenaga kerja dan meningkatnya jumlah pengangguran dalam kurun dua tahun terakhir.
Namun, kondisi itu perlahan-lahan berubah. Pertumbuhan ekonomi Batam dan Kepri kembali pada tren positif dan menunjukkan peningkatan dalam setahun belakangan ini. Salah satu penyebabnya, karena banyaknya investasi yang masuk.
Merujuk data dari Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri, setelah mengalami perlambatan yang cukup signifikan pada 2017, ekonomi Kepri menunjukkan kinerja yang membaik pada 2018.
Secara kumulatif di tahun 2018, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 4,56 persen (yoy), lebih baik dibandingkan kumulatif tahun 2017 sebesar 2,01 persen (yoy).
Memasuki tahun 2019, ekonomi Kepri mencatatkan pertumbuhan yang terus membaik. Tercatat, pada triwulan III tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 4,89 persen (yoy), lebih baik dibanding triwulan II yang tercatat sebesar 4,66 persen (yoy).
Tak hanya industri skala besar, UMKM di Batam juga menunjukkan geliat pertumbuhannya.
Banyak usaha seperti rumah makan yang berdiri di berbagai kecamatan di Batam. Salah satu yang turut andil menopang pergerakan sektor itu adalah penyediaan energi bahan bakar yang bersumber dari suplai gas bumi PGN.
Gas bumi diklaim jauh lebih efisien ketimbang bahan bakar lainnya. Rita, pemilik Rumah Makan Teh Tarek Raja di kawasan Batam Centre mengaku usahanya telah menggunakan gas bumi sejak beberapa tahun terakhir.
Hal itu ternyata mampu menekan biaya operasional rumah makan yang punya menu andalan teh tarek dan tomyam serta aneka menu makanan khas Melayu tersebut.
“Kita bisa hemat lebih dari Rp 1 juta untuk bahan bakar setelah pakai gas bumi, tentu hal ini sangat berguna bagi usaha seperti kami ini,” kata Rita.
Sedangkan untuk sektor transportasi, penggunaan gas bumi juga berkontribusi menyumbang efisiensi bahan bakar bagi sektor angkutan umum, terutama taksi dan juga mobil dinas Pemerintah Kota Batam.
Itu setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui PGN Batam membagikan alat untuk mengubah penggunaan BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) yakni konverter kit, untuk mobil taksi dan mobil dinas pemerintah tersebut.
Efrius, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Batam, mengatakan, sejak beralih menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar, ongkos pembelian bahan bakar berkurang signifikan.
Pasalnya, dengan jarak tempuh yang sama, biaya pembelian bahan bakar setelah beralih dari BBM ke gas bumi dinilai jauh lebih murah.
“Kalau kita bisa berhemat, tentu anggaran pemerintah bisa dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat untuk masyarakat, seperti pembangunan jalan yang memang tengah digalakkan di Kota Batam,” katanya.(rna)
