batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam tidak mempermasalahkan kritikan dari masyarakat terkait pengerjaan proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Pasalnya, pengerjaan proyek tersebut di beberapa titik memang menyisakan keluhan dari masyarakat karena merusak fasilitas umum dan tak diperbaiki seperti sedia kala.
Kepala Bidang Pengelolaan Limbah BP Batam, Iyus Rusmana, mengatakan, kritikan diperlukan agar kontraktor utama, Hansol terdorong untuk menggesa penyelesaian proyek tersebut.
”Ya, itu perlu agar Hansol lebih cepat kerjanya,” kata Iyus, Selasa (10/12/2019) di Gedung BP Batam.
Dalam prosesnya, Iyus mengakui bahwa Hansol merupakan kontraktor asal Korea dan belum punya pengalaman di Batam.
Sehingga, ketika dibuka momen penawaran lelang untuk menjadi subkontraktor (subkon) proyek ini, Hansol pun menerima selebar-lebarnya beberapa subkon yang berasal dari Batam.
”Tapi memang dilematis. Saat ini hujan, ditambah subkon khusus proyek ini tidak banyak pengalaman di limbah. Rata-rata kontraktor berpengalaman di pipa air bersih,” tuturnya.
Dalam penunjukan subkon, kewenangan tersebut memang berada di Hansol. Tapi, BP Batam sebagai pengawas bisa memberhentikan subkon yang dianggap tidak memiliki kinerja secara optimal.
”Saya saja sudah memberhentikan lima atau enam subkon selama ini,” ungkapnya.
Sejumlah pertanyaan juga mengemuka mengapa pipa IPAL ada yang ditanam di badan jalan, seperti di sejumlah perumahan di Batam Centre.

Padahal, biasanya pipa utilitas seperti pipa air, pipa listrik dan lain-lain ditanam di pinggir jalan.
Iyus menjelaskan, kapasitas area untuk penanaman pipa atau kabel di pinggir jalan di Batam Centre sudah penuh.
Sehingga, pipa dipasang di badan jalan. Jika dipaksakan dipasang di pinggir jalan, maka dikhawatirkan akan mengganggu jaringan pipa lainnya.
”Karena pipa IPAL ini ditanam sedalam enam meter,” imbuhnya.
Pproyek IPAL bertujuan untuk menjamin ketersediaan air bersih di Batam di masa depan. Proyek yang dimulai sejak April 2017 itu pada tahap awal dilakukan di kawasan Batam Center yang membutuhkan 114 kilometer (km) pipa serta 11 ribu sambungan rumah warga untuk proses ini.
Untuk konsultan hingga pembangunan, dilakukan langsung oleh Hansol dari Korea. Penyebabnya, karena proyek ini bisa terwujud karena bantuan dari Korea.
Negeri ginseng tersebut memberi pinjaman lunak 43 Juta dolar Amerika atau sekitar Rp 387.712.253.500.
Pinjaman itu bisa dibayar dalam jangka 30 tahun dengan bunga hanya satu persen. Namun, untuk komponen yang digunakan, 60 persen dari Indonesia dan 40 persennya lagi merupakan produk Korea.
Proyek IPAL ini ditargetkan selesai pada Desember 2020 mendatang dan bisa beroperasi pada Januari 2021.
Adapun, kapasitas produksinya mencapai 230 liter per detik dan akan melayani kawasan Batam Centre dan sekitarnya.
Air bersih hasil olahan dari proyek ini rencananya akan disuplai ke industri-industri di Batam.(leo)
