Jurnalis andalan Batam Pos, Suparman, berpulang. Ia meninggalkan segudang prestasi dan kenangan yang indah selama berkarir di koran terbesar di Kepulauan Riau ini. Semasa hidup, dia sosok penyemangat yang kerap dipanggil sang juara.

Kabar duka itu datang pukul 08.30, Rabu (11/12), di saat langit Batam masih meneteskan hujan. Suparman, yang akrab disapa Arman, pergi untuk selamanya. Meninggalkan keluarga besar Batam Pos dan keluarga kecilnya. Ia meninggal dalam usia 37 tahun karena sakit.

Awalnya, awak redaksi Batam Pos maupun seluruh karyawan Batam Pos tak percaya kabar itu. Sebab, Arman baru dua pekan mengambil cuti untuk istirahat dan berobat kelenjar getah bening yang ia derita. Apalagi, komunikasi lewat WhatsApp masih lancar beberapa hari terakhir.

“Kita menyayangi beliau, tapi Allah lebih menyayangi-nya,” kata Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, yang juga hadir di rumah duka.

Semasa hidupnya, Arman, dikenal pribadi yang baik, sopan, dan santun. Semua mengakui itu. Tak hanya rekan kerjanya di Batam Pos, tapi juga di semua kalangan jurnalis di Batam, dan pihak lainnya yang mengenal Arman. Termasuk di kalangan yang sering menjadi narasumber Arman untuk berbagai berita.

Tak hanya itu, Arman juga dikenal sebagai sosok yang periang dan selalu memberi semangat rekan sejawatnya. Terutama dalam hal melahirkan karya-karya jurnalistik yang bermutu dan layak diikutkan dalam berbagai kompetisi di tingkat regional maupun nasional.

Hal ini diakui juniornya di Batam Pos.

Bagi Arman, kebiasaan baik sudah pasti akan diikuti dengan hasil yang baik pula.

“Masa awal ku bergabung di Batam Pos, Bang Arman sering memberi semangat. Dia sering memberi masukan arah sebuah berita, termasuk memberi tahu siapa para pihak yang layak dikonfirmasi. Dia kaya ide tulisan,” ujar Aziz Maulana, wartawan muda Batam Pos.

Pewarta Kantor Berita Antara wilayah Batam, Yuniati Jannatun Naim, juga punya pandangan sama. Ia termasuk cukup dekat dengan Arman. Bahkan sudah saling mengenal sejak 10 tahun lalu. Naim mengenal Arman sebagai sosok pekerja keras yang berintegritas, santun, dan sangat menghormati narasumber.

“Sebagai pekerja, dia sangat loyal kepada institusinya. Dia selalu ingin Batam Pos juara, dia ingin Batam Pos lebih dikenal, dia ingin Batam Pos meraih yang terbaik,” kata Naim.

Wartawan Tanjungpinang Pos, Martua P Butar Butar juga mengakui hal itu. Ia mengenal Arman sebagai sosok yang jarang mengeluh.

“Dia orang yang kuat, tidak mengeluh dan punya semangat besar dalam kesehariannya. Masih mampu menunjukkan semangat, itu lewat prestasi yang diraih, walau dalam kondisi sakit,” katanya.

Anwar Sadat, salah satu rekan dia di AJI Kota Batam juga mengenal Arman sebagai sosok atau pribadi yang baik, bahkan sangat baik. “Orangnya santun, ramah, dan sangat bersahabat,” ujarnya.

Selama mengabdi memang sudah tidak terhitung banyak karya yang telah ia hasilkan dan mengantarkannya sebagai sang juara. Setiap tahun ia meraih juara lomba karya jurnalistik di berbagai ajang, khususnya tingkat regional dan nasional. Bukan hanya satu, tapi beberapa prestasi yang ia torehkan.

Karyanya antara lain berjudul; Suka Duka Pertamina Mendistribusikan BBM hingga Pulau Terdepan NKRI: Menembus Angin Utara, Mengalahkan Ombak Laut Cina. Tulisan ini mengantarkannya meraih juara 1 dalam kategori Features Media Cetak.

Kemudian Juara III lomba menulis artikel gelaran PLN Batam. Karyanya itu berjudul: Mengubur Gulita di Pulau Penawar Rindu. Lalu Juara 2 dalam ajang Anugerah Jurnalistik Kominfo (AJK) 2019 yang yang ditaja Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Saat sakit, ia sempat menerima penghargaan atas karya jurnalistiknya di lomba karya jurnalistik yang digelar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2019. Bahkan, satu karyanya menjadi nominator dalam Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) 2019. Ia sudah mendapatkan undangan dari Pertamina pusat untuk hadir di malam anugerah di Jakarta.

Namun, sang juara kini telah berpulang, sehingga tidak bisa hadir. Namun sebelum wafat, ia menunjuk rekan kerjanya, Yulianti, untuk mewakilinya menerima peng-hargaan tersebut.
Ratna Irtatik, redaktur yang menangani halaman Metropolis Batam Pos juga membenarkan, Arman adalah sosok yang dikenal luas di kalangan jurnalis di Kota Batam dan luar Batam.

“Dia ramah, humoris, dan sangat baik hati. Dia kerap membantu rekan-rekannya yang membutuhkan. Ia adalah rekan kerja, sahabat, sekaligus motivator yang kerap mendorong kawan-kawannya untuk berprestasi di dunia jurnalistik. Dia selalu bilang, ‘Ayo ikut lomba, ikut lagi, menang lagi’,” kenang Ratna.

Saat juara, awak redaksi Batam Pos makan besar. Arman kerap memesan makanan dalam porsi besar untuk dinikmati bersama-sama.

“Terima kasih Arman, doa kami menyertaimu. Semoga Allah menempatkanmu di Jannah, Aamiin,” ujar Ratna dalam doanya.

Muhammad Nur, rekan kerja Arman membenarkan kalau Arman sosok yang hangat pada semua orang. Semangatnya untuk terus berkarya tak pernah habis. Di saat sakitpun, masih meluangkan waktu untuk menulis selepas kerja utamanya di halaman satu selesai.

“Setiap malam kami bersama. Arman tak hanya jago menulis sehingga banyak melahirkan prestasi, tapi juga punya kemampuan editing yang bagus. Dia mampu memoles berita menjadi lebih baik sehingga layak terbit di halaman 1,” ujar Nur.

Rekan kerja Arman lainnya, Chahaya Simanjutak. Bagi Chahaya, Arman sahabat pertama di Batam. Ia satu angkatan di Batam Pos. Sama-sama mulai bekerja di 2008.

“Enam orang ikut diwawancara, hanya saya dan almarhum masih tersisa,” ujar Chahaya.

Ia menururkan, sebagai perantau dari Medan, Chahaya tak memiliki teman di Batam. Arman dari Pacitan menjadi sahabat sekaligus dia anggap sebagai keluarga pertamanya di Batam.

“Arman itu sahabat terbaik. Dia pribadi yang superbaik dan paling anti untuk dikasihani,” katanya.

Pemimpin Redaksi Batam Pos Muhammad Iqbal menilai Arman adalah seorang pekerja keras, setia kawan, cepat belajar tentang teknik menulis, cerdas memahami konteks berita, dan punya skill editing yang baik.

“Redaksi Batam Pos kehilangan salah satu jurnalis terbaiknya,” ujar Iqbal.

Dua pekan menjelang almarhum cuti untuk memulihkan kesehatannya, Iqbal dan Arman masih mengerjakan proyek liputan mendalam tentang perompakan di Selat Malaka, yang terbit di Batam Pos edisi Sabtu (30/11).

Tolak Jabatan secara Halus

Di mata Direktur Utama Batam Pos, Candra Ibrahim, Arman sosok pribadi sopan dan berprestasi. Intelektualnya cukup tinggi. Terbukti banyak karya tulis dan tulisannya yang membuat harum nama Batam Pos di kancah nasional.

Arman, kata Candra, adalah sosok yang tenang dan cerdas. Sebab itulah ia mempercayakan pria kelahiran 10 Maret 1982 itu sebagai redaktur halaman satu Batam Pos. Bahkan, Candra sudah berencana membidik almarhum untuk memimpin Batam Pos.

“Waktu Pak Dahlan Iskan minta kami mengirim redaktur potensial berusia muda untuk ikut sekolah calon pemred. Saya mengirim nama beliau dan belajar langsung di bawah bimbingan Pak Dahlan,” ucapnya.

Setelah itu, ada perubahan manajemen di grup dan rencana menjadikan beliau sebagai pimpinan redaksi, terhenti.

“Beberapa bulan lalu saya tawarkan posisi wapemred untuk beliau. Namun di depan pemrednya, M Iqbal, beliau menolak secara halus,” kenangnya.

Saat itu, Arman beralasan mau pulang kampung menjaga orangtuanya yang sudah se­puh.

“Tadi pagi (kemarin, red) beliau meninggalkan ki­ta semua setelah berobat hingga ke Malaysia. Allah le­bih sayang kepada Arman,” tutup Candra. (*)