batampos.co.id – Kapolsek Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KPPP) AKP Badawi mengatakan, keributan antara taksi daring (online) dan konvensional selalu terjadi setiap hari.

Keributan ini kerap terjadi di Pelabuhan Internasional Batam Center, Sekupang, hingga Pelabuhan Punggur.

“Kejadian ini (keributan) selalu terjadi setiap hari dan tidak sampai ada laporan polisi atau korban. Dan kita selalu menyelesaikan permasalahan ini,” ujar Badawi di Mapolresta Barelang, Kamis (12/12/2019).

Badawi menjelaskan, dalam dua bulan belakangan, pihaknya menangani dua laporan polisi dengan korban sopir taksi online.

Penyebabnya, sopir taksi online masuk ke pelabuhan untuk mengambil penumpang dan mematikan aplikasi.

“Sebenarnya saya sendiri sudah memberikan solusi. Jika taksi online masuk ke pelabuhan harus mematikan aplikasi. Namun, hal ini tidak diterima taksi konvensional,” kata Badawi.

Polisi berpakaian sipil mencoba menenangkan para sopir taksi online terkait kericuhan dengan sopir taksi konvesional di Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Selasa (3/12) lalu.
Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Badawi menambahkan kejadian ini harus diselesaikan dengan cepat, agar tidak mengganggu keamanan Kota Batam serta kenyamanan masyarakat.

“Yang penting aturan dari pemerintah harus jelas. Maka semuanya akan terselesaikan,” kata Badawi.

Hal senada disampaikan Kapolresta Barelang, AKBP Prasetyo Rahmad Purboyo. Ia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri melalui Dishub Kepri mengeluarkan regulasi yang jelas antara taksi online dan konvensional.

“Intinya regulasi yang jelas. Kita juga sudah menyurati pemerintah provinsi dan berbicara juga dengan Ketua DPRD Batam,” katanya.

“Kalau belum ada kejelasan (aturan) bakalan terus terjadi selisih paham,” ujar Prasetyo lagi.

Ia juga mengimbau kepada para sopir untuk sama-sama menahan diri, dan tidak terpancing melawan hukum.

“Kalau memang terjadi pelanggaran hukum, tentunya langsung kita tindak. Seperti kejadian hari ini (penganiayaan), langsung kita proses,” tegasnya.(opi)