batampos.co.id – Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, Ismail Widadi, mengatakan Waduk Sei Gong, Batam, masuk dalam tahap desalinasi.
Pekerjaan pembersihan area genangan di infrastruktur air tersebut sempat terkendala beberapa hal. Sehingga persoalan ini menghambat percepatan proses desalinasi.
”Tentu ini sangat kami sayangkan, karena Sei Gong dibangun untuk memenuhi kebutuhan dasar air di Batam,” ujar Ismail, Selasa (17/12/2019).
Proses desalinasi Sei Gong paling cepat membutuhkan waktu sekitar dua tahun, tergantung curah hujan.
Ia berharap, Sei Gong beroperasi 2022 mendatang. Karena bendungan yang berada di Galang, Kota Batam tersebut, merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun untuk menjawab peningkatan kebutuhan air baku yang mendesak, baik untuk domestik maupun industri di Kota Batam.
”Beberapa tahun ke depan, Kota Batam akan mengalami defisit air. Ketersediaan air baku memang vital bagi perkembangan Kota Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepri,” katanya.

Oleh karena itu, kata Ismail, pembangunan bendungan Sei Gong sangat penting untuk mengurangi kekurangan ketersediaan air di Kota Batam.
Menurutnya, waduk Sei Gong akan menambah tampungan air di Kepri dengan daya tampung 11,8 juta meter kubik.
Serta menyuplai air baku 400 liter per detik yang akan diolah di Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang akan segera dibangun dan dibawa ke Batam.
Rencana IPA itu, lanjutnya, lengkap dengan pipa saluran air untuk mendistribusikan air baku ke berbagai wilayah di Batam.
”Ini yang sangat disayangkan, di saat kami tengah fokus melakukan pembersihan area genangan, tetapi ada gangguan,” jelasnya.
“Padahal infrastruktur ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat, dunia investasi di Batam tentunya,” tutup Ismail.
Komisi III DPRD Kepri, Irwansyah, mengatakan akan terjadi banyak hambatan jika alirannya ke Batam, karena akan menelan biaya yang besar.
Apalagi proyek strategis tersebut belum didukung dengan instalasi pipa. Di samping itu, juga perlu dibangun Water Treatment Plant (WTP).
Sebaliknya, jika dialirkan ke kawasan Rempang-Galang juga akan menimbulkan persoalan lain. Selain belum didukung dengan pipa, juga akan terkendala persoalan lahan.
”Tentu ini menjadi pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan,” paparnya.
“Kita berharap infrasktur yang dibangun dengan mahal, harus memberikan manfaat yang besar bagi kepentingan masyarakat dan pembangunan daerah tentunya,” ujar Irwansyah lagi.
Bendungan Sei Gong dibangun dengan APBN senilai Rp 238,44 miliar oleh kontraktor PT Wijaya Karya (Wika) dan PT Tusenss Krida Utama.
Bendungan ini merupakan tipe urukan tanah dengan tinggi 19 meter dan memiliki luas gena-ngan air 356 hektare.
Infrastruktur tersebut merupakan salah satu dari 49 ben-dungan baru yang dibangun Kementerian PUPR dalam periode 2015-2019 sebagai upaya mewujudkan ketahanan air dan kedaulatan pangan.(gustia)
