batampos.co.id – Gerimis mewarnai perjalanan tim perwakilan PT Adhya Tirta Batam (ATB) menuju kediaman Akbar Nugroho Ramadhan, siswa SMP Negeri 8 Nongsa yang didiagnosa menderita penyakit kelenjar getah bening.

Menempuh perjalanan sekitar 30 menit ke lokasi Kavling Sambau–Nongsa, tim ATB akhirnya tiba di kediaman remaja 14 tahun itu dan menyerahkan langsung santunan bagi Mustahik sebagai bagian dari program CSR ATB Peduli Sosial Kemanusiaan kepada Akbar.

ATB berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Batam. Seiring pertumbuhan ATB menjadi perusahaan air terbaik dan terpercaya di Indonesia, orientasi bisnis ATB tidak semata berkisar pada profit saja.

Sejak tahun 2010, ATB berperan aktif dalam program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

ATB memiliki banyak program CSR di berbagai bidang, salah satunya program CSR ATB Peduli Sosial Kemanusiaan.

Program ini rutin menggelar penyerahan hewan kurban, pembagian sembako dhuafa dan bantuan mustahik.

Akbar adalah salah satu penerima santunan program Mustahik ATB periode Desember 2019.

Setibanya di rumah Akbar, kedua orangtuanya menyambut kedatangan rombongan ATB. Akbar sempat menemui tim ATB untuk bersalaman dan sembari malu-malu masuk kembali ke kamarnya.

Menurut Sambudi, orangtua Akbar, anakanya memang pemalu sejak kecil. Tubuh Akbar sangat kurus dan benjolan di lehernya masih terlihat besar.

Manager HCD ATB Sudarsono, saat menyerahkan bantuan Mustahik kepada ayah Akbar Nugroho Ramadhan, penderita penyakit Kelenjar Getah Bening di Kavling Sambau, Nongsa. Bantuan Mustahik adalah bagian dari program CSR ATB Peduli Sosial Kemanusiaan. Foto: ATB untuk batampos.co.id

“Sudah 6 bulan terakhir ini, Akbar tidak masuk sekolah,” ujar Sambudi, yang ditemui tim ATB di Kavling Sambau Nongsa pada Jumat (13/12/2019).

Sambudi menjelaskan, dirinya berprofesi sebagai ojek online. Kata dia, Akbar mengalami sakit akibat benjolan di leher sejak awal Mei 2019.

Hasil pemeriksaan awal, Akbar didiagnosis mengidap Tuberkulosis (TB). Namun benjolan dilehernya semakin hari kian membesar.

Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, Akbar yang masih duduk di kelas VII, ternyata didiagnosis menderita penyakit kelenjar getah bening.

Di usianya yang masih remaja, Akbar harus menanggung penderitaan yang besar. Sambudi menuturkan, putranya tersebut saat ini tidak bersedia menjalani biopsi lanjutan.

Karena trauma setelah sebelumnya pernah menjalani operasi usus buntu. Sambudi dan istrinya pun mengupayakan pengobatan alternatif untuk kesembuhan Akbar.

Pengobatan alternatif ini, menurut Sambudi membutuhkan biaya yang sangat besar. Asuransi kesehatan dari pemerintah yang dimilikinya hanya bisa mengcover untuk pengobatan medis di rumah sakit.

Mau tidak mau, Sambudi harus bekerja keras untuk membiayai secara mandiri pengobatan anaknya.

“Sekarang sedang menjalani pengobatan herbal di Bengkong. Benjolannya diterapi seminggu dua kali. Alhamdulillah kondisinya sudah mulai membaik dan mau makan,” jelas Sambudi sambil sesekali matanya terlihat berkaca-kaca.

Sambudi sangat berterima kasih kepada ATB yang telah memberikan bantuan moril dan materiil untuk anaknya.

Saat ini, keluarga Sambudi menumpang tinggal di rumah milik saudaranya. Bantuan dari ATB sangat berarti dalam meringankan beban biaya pengobatan anak bungsu kesayangannya.

“Terima kasih ATB sudah jauh-jauh ke sini, menjenguk Akbar dan memberi bantuan dana. Ini jadi kekuatan kami juga untuk terus berjuang demi kesembuhan Akbar,” ucap

Sambudi saat menerima santunan dari program Mustahik ATB yang diserahkan langsung oleh Human Capital Development Manager ATB, Sudarsono.

Perjalanan penyerahan santunan Mustahik ATB berlanjut ke Baloi Kolam, menemui Samaria Simanjuntak.

Ibu dua anak itu didiagnosa menderita kanker payudara. Perempuan 41 tahun itu  telah menjalani operasi pada September lalu.

Saat ini, masih harus menjalani kemoterapi agar sel-sel kankernya tidak muncul kembali.

Sudarsono, Human Capital Development Manager ATB yang juga didampingi oleh Brand Ambassador ATB, mengungkapkan, kondisi perekonomian keluarga Samaria tergolong menengah ke bawah.

Suami Samaria hanya buruh serabutan yang penghasilannya tidak menentu.

“Santunan mustahik ini memang diperuntukkan bagi masyarakat Batam dengan kriteria penyakit berat. Seperti kanker, tumor ataupun kelainan sejak lahir dan sakit berat jenis lainnya,” katanya.

“Diutamakan memang untuk masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi untuk pengobatannya seperti ibu Samaria ini,” jelasnya.

Santunan yang diberikan ATB, menjadi berkah tersendiri bagi Samaria. Saat ini, Samaria sedang menjalani serangkaian kemoterapi dan harus ditunjang dengan makan makanan bergizi seimbang serta suplemen yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan pemerintah.

“Terima kasih ATB, ini jadi berkah buat saya dan keluarga. Bisa untuk isi tabung oksigen karena sekarang sering sesak. Bisa beli vitamin juga,” ujar Samaria terharu saat menerima santunan Mustahik ATB.

Sepanjang tahun 2019, ATB telah mengucurkan dana ratusan juta khusus untuk program ATB Peduli Sosial Kemanusiaan yang terbagi untuk penyerahan hewan kurban, pembagian sembako dhuafa dan mustahik.

Program CSR bagi ATB bukanlah sekedar kegiatan amal dan mengabdi demi kemanusiaan.

Bagi ATB, program CSR menjadi bagian penting dari upaya mengimplementasikan nilai inti perusahaan.

CSR ATB menjadi cerminan kontribusi positif dalam memberikan manfaat optimal bagi kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar serta secara berkesinambungan membangun citra reputasi korporasi.(*)