batampos.co.id – Tahun ini, Kota Batam berusia 190 tahun. Bagi seorang Ruslan Ali Wasyim, putra kelahiran Batam, sangat bersyukur Batam telah mengalami kemajuan sedemikian rupa.
Ruslan, yang kini, tengah mengajukan diri sebagai calon Wakil Walikota Batam bersyukur ada pertemuan harmonis antara penduduk tempatan dengan para pendatang.
Kolaborasi keduanya menjadikan pembangunan Batam bergerak sinergis.
Ingatan Ruslan berputar ke tahun 1975, kala ia SD.
Ruslan ialah lahir dan tumbuh di Batu Besar. Untuk mengenyam pendidikan dasar ia harus sekolah di SD Harapan (kini bernama Kartini) di Sei Harapan, Sekupang. Ruslan harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Ia tinggal di kawasan Sekupang.
Hari ini Sekupang – Batu Besar bisa ditempuh dalam tempo sejam atau bahkan kurang bila ngebut dan jalan lengang.
“Dulu, saya pulang ke Batu Besar setahun sekali,” mimik Ruslan serius.
Kebayang seperti apa infrastruktur kala itu.

Jangan dibayangkan jalan raya kala itu sama seperti hari ini. Untuk pulang ke Batu Besar Ruslan harus menaiki kapal pompong yang membawa barang kebutuhan.
Kisah pendidikan Ruslan belum berhenti.
Lulus SD ia melanjutkan pendidikan ke SMP 1 di Uban Kabupaten Bintan.
Sekali lagi Ruslan harus kos.
Selanjutnya ia melenggang ke jenjang SMA 1 Tanjung Pinang. Namun tak lulus.
Sang Ayah meminta Ruslan pulang ke Batam, melanjutnya pendidikan di STM Kartini.
Saat itu STM Kartini baru berdiri. Ruslan angkatan pertama.
“Saya mengambil jurusan teknik listrik,” kenang Ruslan.
Ruslan sejatinya suka belajar di SMA. “Saya suka sejarah,” aku suami Ade Sulistyni ini.
Demi hormat dan patuhnya kepada Sang Ayah, Ruslan menurut saja saat diminta balik Batam.
Ruslan melihat Kota Batam Hari ini sudah sangat maju. Pantas lah sebagai putra kelahiran Batam, ia bersyukur sangat terhadap pembangunan di Pulau Batam. Dan, kini, ia ingin berkontribusi langsung terhadap pembangunan di Kota Batam dengan mencalonkan diri sebagai Wakil Walikota Batam. (ptt)
