ILUSTRASI. Kafein dalam teh dan kopi ternyata bisa lawan lemak sehingga terhindar dari obesitas. (Foodal)

Menurut sebuah studi terbaru, kafein dapat membantu mengimbangi beberapa efek negatif dari diet obesogenik. Artinya, kafein bisa melawan tumpukan lemak dan membatasi kenaikan berat badan akibat gula berlebih.

Dilansir dari NDTV, Rabu (25/12), para ilmuwan mengungkapkan bahwa asupan kafein mengurangi penyimpanan lipid dalam sel-sel lemak dan membatasi penambahan berat badan dan produksi trigliserida. Studi ini dipublikasikan dalam Journal of Functional Foods dari tim peneliti dari University of Illinois di Amerika Serikat.

Untuk penelitian tersebut, tim peneliti dari University of Illinois di AS meneliti sekelompok tikus. Tikus yang mengonsumsi kafein yang diekstrak dari teh memperoleh berat badan 16 persen lebih rendah daripada tikus yang mengonsumsi teh tanpa kafein. Efek serupa diamati dengan kafein sintetis dan yang diekstraksi dari kopi atau teh.

Jumlah kafein per porsi dalam teh berkisar 65-130 miligram. Sedangkan ada 30-300 miligram kafein dalam secangkir kopi yang diseduh. Mempertimbangkan temuan itu kafein dapat dianggap sebagai agen anti-obesitas. Hasil penelitian ini dapat diterapkan pada manusia untuk memahami peran kafein sebagai strategi potensial untuk mencegah kelebihan berat badan dan obesitas.

Selama empat minggu, tikus-tikus dalam penelitian itu mengonsumsi makanan yang mengandung 40 persen lemak, 45 persen karbohidrat, dan 15 persen protein. Menurut penelitian tersebut, tikus-tikus yang mengonsumsi kafein dari teh atau kopi mengakumulasi lebih sedikit lemak tubuh daripada tikus-tikus dalam kelompok lain. Kafein ditemukan mengurangi akumulasi lipid dalam sel sebesar 20 persen-41 persen.

Pada tikus yang mengonsumsi kafein terbukti bisa mengurangi asam lemak dari glukosa menurun 39 persen dalam jaringan lemak dan 37 persen dalam hati. Konsumsi kafein terbukti mengurangi dampak negatif dari diet tinggi lemak, sukrosa, dan glukosa tinggi pada tubuh. (JPG)