JIKA tak ada aral melintang, Sabtu besok (28/12), saya akan menjadi salah satu pemateri dalam dialog interaktif bersempena Muswil VI Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kepulauan Riau, di Dispora Kota Batam. Materinya, seputar dunia pendidikan dan kemajuan pendidikan Kota Batam. Yang tak biasa itu, acaranya dirangkai dengan Bedah Visibalon Wali Kota Batam. Wuih!

Terus terang, tampil dalam dialog-dialog seperti itu sudah sering saya lakoni. Di televisi dan radio juga. Live juga sering. Tampil di depan umum, anggota dewan, pengusaha, penguasa, juga sudah sering. Tapi di depan pelajar, sudah sering juga, baik ketika saya ke sekolah mereka maupun ketika mereka berkunjung ke Graha Pena. Namun, dialog yang diembeli dengan bedah visi balon wako, nah ini yang bikin merinding! Hehe…

Lalu, apa yang harus saya sampaikan besok? Rasanya tak akan jauh dari masalah keseharian mereka. Tak usah jauh-jauh, kadang di lingkungan kita saja sudah banyak problematika pelajar itu kita temukan. Ya, mulai sulitnya mendapatkan slot untuk masuk ke SD, SMP, dan SMA, sampai kepada galaunya mereka apakah UN benar-benar akan dihapus atau diganti dengan sistem yang lebih seram? Itu semua problematika pelajar kita hari ini.

Yang tak kalah penting adalah masalah budi pekerti dan muatan lokal. Hari ini, misalnya, jika kita mau jujur, berapa banyak sih pelajar kita yang sudah kita bekali dengan pengetahuan tentang Hari Jadi Kota Batam? Apakah semua pelajar, terutama SD dan SMP serta SMA/SMK itu tahu tanggal lahir Kota Batam? Para orangtua saja masih banyak yang tahunya Batam itu baru “ditemukan” di Era BJ Habibie. Lalu, mengapa ultah Batam tanggal 18 Desember yang lalu sudah 190 tahun saja? Apa tarikh sejarahnya? Pasti tak semua pelajar mengetahuinya. Ini contoh kecil tentang muatan lokal di sekolah-sekolah.

Soal budi pekerti, bukan rahasia umum bahwa standar budi pekerti antara generasi zaman old dengan generasi zaman now sudah sangat berbeda. Di zaman old, berbicara menatap mata kedua orangtua saja, anak-anak tak akan berani. Kalau sekarang, tak usah cerita.

Banyak video dan foto viral di medsos di mana anak-anak yang durhaka kepada orangtuanya hanya karena tidak dipenuhi keinginannya. Entahlah, mungkin di zaman Malinkungdang karena medsos belum ada?

Tantangan yang tak kalah menganggu bagi keberlangsungan untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana amanah UU Pendidikan Nasional buat pelajar kita adalah, masih sulitnya mendapatkan slot untuk masuk sekolah dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA. Setiap tahun seolah jadi masalah wajib. Calon anak diri baru tumbuh bagaikan deret hitung, sementara slot sekolah yang tersedia bagaiman deret ukur. Keterbatsan anggaran pemerintah dan sulitnya mendapatkan lahan, menjadi alasan klasik bertahun-tahun. Ke depan, ini tidak boleh terjadi lagi, karena pemegang HPL lahan dan Pemko Batam sudah satu komandannya. Juga masalah anggaran, tidak boleh lagi jadi alasan, karena UU Pendidikan Nasional sudah mengamanahkan anggaran untuk pendidikan harus minimal 20 persen dari total APBD.

Problematika lainnya di kalangan pelajar kita juga adalah penetrasi internet. Banyak vendor yang menawarkan aneka layanan bak multiplatform. Mau makan saja, meskipun kadang sudah dimasakkan oleh ibunya atau pembantu, tetap saja mereka akan mencari menu lain di gadget mereka. Bisa bayar di tempat atau dikredit dari deposito. Belum lagi kerisauan kita tentang konten yang tak dapat dideteksi 24 jam. Ada juga yang kecanduan games hingga menimbulkan berbagai ekses negatif.

Ya, internet memang bagai dua sisi mata pisau. Karena, hari ini pun banyak sekali anak-anak muda yang terbantu dan menjadi kaya oleh internet. Banyak yang awalnya hanya hobi eksis, akhirnya mampu meraup uang yang banyak dari internet. Maka, bermunculanlah banyak start-up baru di kota-kota besar. Namun sayang, hal itu baru terbatas di kota besar. Di kota-kota kecil atau perdesaan yang koneksi internetnya masih lola (loading-nya lama), belum dapat berkembang seperti teman-teman mereka di kota besar. Demikian pula untuk mutu pendidikan berbasis komputer, anak-anak desa belum seberuntung kawan-kawannya di kota besar.

Namun, itu baru sekelumit cerita soal mata pisau internet dan dunia digital yang sudah dan sedang dihadapi pelajar kita hari ini. Belum lagi jika kelak ketika revolusi industri benar-benar sudah 4,0 atau bahkan bersiap lepas landas ke 5,0. Tak terbayangkan apa jadinya anak-anak pelajar kita kelak jika mereka tidak dipersiapkan sejak dini. Buat saya, biarlah pelajar itu mengalir dengan dirinya, yang penting masih bisa diikuti alirannya dan ke arah yang baik. Sebab, bukankah kita tidak pernah tahu, apakah mereka kelak akan besar dari tangannya ataukah kakinya? Begitu kata pepatah Arab. (*)