SENIN malam sebelum pergantinan tahun, saya berada di antara para seniman Kepri, Riau, dan Pulau Jawa.

Atas inisiatif Datuk Sri Lela Budaya H Rida K Liamsi, kami dikumpulkan di sebuah kafe outdoor dekat Harbour Bay, Batam. Awalnya, saya dimasukkan beliau ke grup WhatsApp (WA).

Saya terkejut, karena di grup itu sudah ngumpul beberapa seniman dan budayawan Kepri dan Riau.

Mereka semua punya nama dan karya. Saya sendiri kan bukan seniman, apalagi budayawan. Saya hanya penulis yang sekali-sekali menikmati puisi.

Saya tentu tak kuasa menolak ajakan Pak Rida, guru pers dan guru bisnis media saya sejak lama.

Beliau itu yang menemukan saya tahun 1990-an di Pekanbaru. Beliau pula yang mengajak saya ke dunia jurnalistik ketika saya masih duduk di bangku SMA di sana.

Makanya ketika saya dimasukkan ke grup WA itu, lalu me­ngajak bersembang menyambut tahun baru bersama seniman Kepri dan Riau, serta Pulau Jawa itu, sesungguhnya sebuah kehormatan besar bagi saya.

Apalagi tajuk acaranya cukup sederhana, namun mengena: Selamat Datang 2020, Kami Menunggumu dengan Puisi.

Lalu, malam itu, hadirlah sa­ya di antara para “suhu’ puisi di Kepri dan Riau. Mereka di antaranya Teja Alhab “Presiden Penyair Tarung”, Husnizar Hood, Amsakar Achmad, Romo Paschal, dan beberapa nama lain yang sungguh mengasyikkan, yakni anak-anak muda dari Lingga, serta tentu saja si inisiator H Rida K Liamsi.

Angin laut yang cukup kencang berhembus malam itu terasa hangat menampar tubuh kami karena gairah puisi.

Saya sendiri tak menyiapkan puisi untuk dibaca, sebab saya berpikiran bahwa saya tak akan diminta naik ke panggung.

Eh, ternyata, setelah tiga seniman naik ke panggung, si pembawa acara me­manggil nama saya.

Duh! Ja­dilah saya hanya membaca­kan “catatan wartawan” yang saya kemas dua bulan lalu, dalam bait-bait sederhana (lihat di bagian akhir catatan ini).

Apa manfaat membaca puisi? Aidh bin Abdullah al-Qarni dalam Wijaya Kusumah, tahun 2010, mengungkapkan tentang banyaknya manfaat membaca (puisi).

Pertama, menghilangkan kecemasan dan kegundahan. Kedua, ketika membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.

Ketiga, kebiasaan membaca membuat seseorang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.

Keempat, mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata. Lalu kelima, membantu mengem­bangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.

Lalu manfaat membaca yang keenam, meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.

Ketujuh, mengambil manfaat dari pengalaman orang lain. Delapan, me­ngembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu penge­ta­huan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.

Kemudian kesembilan, menyegarkan pemikiran dari keruwetan dan menyelamatkan waktu agar tidak sia-sia, dan kesepuluh, menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan pendekatan kalimat.

Di luar semua itu, membaca bisa meningkatkan ke­m­am­puan untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “di antara baris demi baris” serta memahami apa yang tersirat.

Dengan demikian, tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna bacaan.

Sebab itulah, kemudian saya membacakan catatan di bawah ini. Entah puisi atau bukan. Saya rasa, ini catatan kecil juga:

Soal Limbah dan Bukit yang Terjun ke Laut
Aku tak pandai baca puisi
Membuatnya pun apalagi
Tapi begini…

Kita bual-bual saja soal hati
Ini kisah tentang Batam
Yang semua orang merasa paling tahu dan paling berhak mengaturnya
Sampai-sampai semua orang nak menakar berapa jumlah limbah beracun yang boleh kita impor

Yang kelak kita hidup atau kita minum
Di tempat lain, dari ketinggian Samyong, kulihat berderet ruko menyembul
Entah siapa saja yang punya
Namun kebanyakan berkerangkeng baja

Sepi dia, tak berpenghuni, sebab tak ada geliat ekonomi… Macam dulu lagi…
Mataku yang kecil ini agak membesar waktu lewat di sini
Dari simpang BNI, pandangan lurus ke Telukbelian, nampak laut memanggil, menarik mata ke arah Nongsa yang indah…

Dari jalan yang berkelok dan lebar itu, aku dapat menyaksikan Belian hari ini… dari sini…sebelum nanti teluknya ditimbun lagi…
Tapi….
Yang tak kalah menyayat hati

Laut-laut sudah ditangkup tanah dan pasir
Keruh, dan tak nampak ketam memanggil
Suak, rumah, dan katil mereka tertimbus sudah

Bukit dan ladang pindah ke dalam laut
Dibeking pula oleh preman bak lanun di laut
Kini, banyak yang mengkerut
Setelah tiga hurup melecut

Entah cuma sekadar me-ngugut?
Dalam pada itu…
Di sebuah kafe, tak jauh dari bengkel sepeda, duduklah beberapa anak muda…
Terselip di tangan mereka rokok entah merek apa, tak ada pulak kode pajaknya

Satu di antaranya tak henti digoda
Memang, dari sekian banyak itu, hanya dia yang paling lawa…
Kawan-kawannya mengampu sejadi-jadinya
Kata mereka, anak muda elok rupa seperti dia, tahu banyak masalah, sering menulis menuai tadah, tapi tak boleh berlama-lama hanya mengritik saja

Nanti berubah jadi jembalang tanah, masuk pulak ke laut bersama sampah…
Kata kawan-kawannya,
Bukankah sebagai penulis, engkau tahu sedikit tentang banyak hal? Bukan seperti spesialis, tahu banyak tentang sedikit hal?

Engkau juga bukan keluarga pesohor, yang cuma modal sorak.
Engkau punya otak, bukan hanya selebriti tebal bedak
Engkau punya pengalaman berdagang, bukan cuma nempel di ketiak orang, apalagi keluarga korang

Engkau pernah di organisasi pe­muda, adat, dan ormas, bukan hanya modal senyum di depan kamera sambil menggun­ting pita dan dada-dada…(*)