batampos.co.id – Anggota Komisi III DPRD Kota Batam, Jefry Simanjuntak, menilai, banyaknya masyarakat yang menerima kartu subsidi BBM jenis solar kerap salah sasaran.

Menurutnya, itu juga yang menyebabkan banyak terjadi kebocoran. Sehingga BBM jenis solar banyak dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggungjawab.

Kata Jefri, saat ini ada sekitar 14.631 masyarakat yang memegang kartu BBM solar bersubsidi.

“Kartu subsidi solar yang awal dikeluarkan oleh Pertamina tak disertakan by plat nomor kendaraan maupun by nomor STNK,” katanya, Selasa (7/1/2020).

Hal itu lanjutnya, berpotensi banyak disalahgunakan oleh pemegang kartu atau yang kerap disebut fuel card.

“Data yang dikeluarkan Disperindag Batam dan Pertamina, ada belasan ribu kartu,” ujarnya.

Baca Juga: Di Sini Lokasi untuk Pendaftaran Ulang Pemegang Fuel Card

Ia menjelaskan, apabila setengahnya disalahgunakanakan sangat berdampak pada negara. Kerugiannya kata dia, dipastikan sangat besar.

“Kalau dinominalkan jumlahnya fantastis mencapai belasan miliaran rupiah tiap harinya,” katanya.

Jefry menegaskan, penyalahgunaan fuel card, merupakan metamorfosis dari cara lama penyelundupan solar yang ditampung di gudang-gudang beralih ke cara yang lebih modern.

Kata dia, langkah Disperindag Batam bersama Pertamina meregistrasi ulang fuel card merupakan langkah yang sangat tepat.

“Sampai saat ini pemegang kartu subsidi solar yang sudah meregistrasi ulang dari sebanyak 14.631, baru 500 saja,” ujarnya.

Warga yang memiliki kendaraan dan menggunakan kartu bahan bakar (fuel card) melakukan registrasi ulang di Kantor Disperindag Kota Batam, Kamis (2/1/2020) lalu. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Dengan adanya registrasi ulang pemegang fuel card akan sangat sulit untuk menyalahgunakan solar subsidi.

Pasalnya di fuel card yang baru terdapat tanda nomor kendaraan bermotor. Berdasarkan hitungan kasarnya, lanjut Jefry, satu liter solar itu nilai subsidinya Rp 2.500.

Sedangkan satu kartu itu perhari maksimal mendapatkan subsidi solar 50 liter. Kalau dikalikan perkartu Rp 2.500 kali 50 liter, nilainya mencapai Rp 125 ribu dalam sehari untuk satu kendaraan atau satu kartu.

Baca Juga: Harga BBM di Kepri Termahal di Indonesia

“Kalau jumlah belasan ribu, berarti subsidinya mencapai puluhan miliar rupiah dan itu dalam seharinya saja,” katanya.

Dari penghitungan tersebut kata dia, bisa digambarkan total kebocoran dalam sebulan. Sebelum ada registrasi ulang, pemegang kartu subsidi solar tanpa kendaraan pun bisa mengisi solar menggunakan kartu subsidi solar.

Apalagi satu orang dulunya banyak yang mendapatkan belasan hingga puluhan kartu subsidi solar.

Jefry menjelaskan, pihak yang paling bertanggungjawab atas kebocoran tersebut adalah Pertamina.

“Karena mereka (Pertamina) yang mengeluarkan fuel card atau kartu subsidi solar itu,” terangnya.

Jefry menegaskan, dari fakta-fakta tersebut pihak kepolisian sudah bisa masuk untuk mengusut banyaknya penyalahgunaan kartu subsidi solar oleh pemegang kartu.

Baca Juga: Pemilik Bengkel Penimbun Solar Tidak Penuhi Panggilan Disperindag

“Kami dari Komisi III DPRD Batam meminta Disperindag Batam tetap menyelesaikan masalah registrasi ulang kartu subsisi solar,” katanya.

Ia mengatakan registrasi ulang dilakukan hingga 17 Januari 2020 mendatang. Apabila masih ada yang belum melakukan resgitrasi ulang, pihaknya meminta Disperindag langsung membekukan fuel card yang lama.

“Itu (pembekuan) untuk menghindari kebocoran. Karena banyak pemegang kartu ataupun pemain solar subsidi yang memanfaatkan kartu subsidi solar ini untuk mengeruk keuntungan pribadi yang jumlahnya fantastis,” tegasnya.

Sales Branch Manager Pertamina Kepri, William, menegaskan, pihaknya akan mengoptimalkan sisa waktu registrasi ulang kartu subsidi solar.

“Apabila di terakhir batas waktu registrasi ulang masih sedikit sekali pemegang kartu subsidi solar yang meregistrasi kartunya, kami akan perpanjang waktu registrasinya,” jelasnya.

Baca Juga: Nelayan Penyelundup Solar Disidang

Namun lanjutnya, saat masa perpanjangan juga tidak ada yang meregistrasi ulang akan langsung ditutup.

“Setelah itu kami akan mengeluarkan kebijakan kartu lama yang tak diregistrasi ulang akan diblokir dan kartu itu dianggap tak berlaku lagi,” jelasnya.

Teknis pemblokirannya, lanjut William, sepenuhnya dilakukan pihak bank.

“Kami sengaja meregistrasi ulang kartu subsidi solar untuk mengidentifikasi lagi berapa banyak sebenarnya pemegang kartu subsidi solar yang benar-benar memiliki kendaraan,” katanya.

Registrasi ulang katad ia, merupakan usulan dari Pertamina dan Disperindag Batam guna menekan kebocoran.(gas)