batampos.co.id – Pasar ekspor komoditas hortikultura memang manis, seperti pasar jagung manis di negeri Tiongkok. Hal itu dibuktikan PT Agri Makmur Pertiwi yang telah mengekspor jagung manis ke Negeri Tirai Bambu tersebut sejumlah 40 ton senilai USD 540 ribu atau sekitar Rp 7,5 miliar.

Pelepasan ekspor benih jagung manis dilakukan Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto di Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Selasa (7/1/2019).

“Atas nama Kementerian Pertanian, ijinkan saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada jajaran PT. Agri Makmur Pertiwi atas ekspor benih jagung manis ke China,” kata Prihasto.

Anton, sapaan akrab Dirjen Hortikultura ini berharap momentum ekspor kali ini dapat menjadi kado manis awal tahun 2020.

Bahkan sekaligus pemacu semangat untuk lebih meningkatkan devisa negara melalui ekspor benih sepanjang tahun ini dan pada tahun mendatang.

Hal ini tentunya sejalan dengan upaya peningkatan ekspor tiga kali lipat sesuai program Gerakan Tiga Kali Ekspor (GRATIEKS). Bahkan menurut Anton, ekspor benih sayuran beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan.

“Setelah melihat sendiri kemampuan kita, ternyata benih dalam negeri tidak kalah dengan yang dihasilkan luar negeri. Apalagi dengan kemampuan kita dari on farm hingga off farm, bahkan pemasaran,” katanya.

Data menyebutkan, jika tahun 2017 ekspor benih sebanyak 1.589 ton, maka tahun 2018 naik menjadi 1.845 ton. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari peran dan kontribusi industri benih nasional.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, menyaksikan ekspor jagung di Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Selasa (7/1).

Bahkan nilai ekspor benih PT Agri Makmur Pertiwi terus meningkat dari tahun ke tahun. Data dari PT Agri Makmur Pertiwi, ekspor benih pada 2017 sebanyak 2.100 kg (USD 25.200 setara Rp 352,8 juta). Pada 2018 sebesar 186.644 kg (USD 941.425 setara Rp 13,2 miliar) dan 2019 mencapai 123.258 kg (USD 1.837.758 setara Rp 25,7 miliar).

Manajemen perusahaan menargetkan ekspor benih sepanjang tahun 2020 sebanyak 150.000 kg (USD 2 juta setara Rp 28 miliar). “Melihat kondisi ini secara pribadi saya optimis bahwa target peningkatan tiga kali ekspor ini dapat tercapai pada tahun 2024,” katanya.

Produksi Meningkat

Anton mengungkapkan, dalam beberapa dekade terakhir ini produksi hortikultura terus mengalami peningkatan baik dari kuantitas maupun kualitas. “Saya minta hortikultura kedepan harus lebih maju, lebih mandiri dan lebih modern,” ujarnya.

Karena itu lanjutnya, produksi hortikultura, harus betul-betul memperhatikan aspek kualitas, kuantitas dan kontinuitas serta mampu berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan. Dari berbagai pengalaman empiris, pengembangan usaha hortikultura harus dilakukan dengan pendekatan industri terpadu, hulu hingga hilir.

Melalui pendekatan ini, Prihasto berharap daya saing produk hortikultura bisa semakin meningkat, berkat kecermatan dan ketepatan dalam memilih jenis dan ragam komoditas yang sesuai dengan permintaan pasar.

Pemerintah akan terus dorong penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) disertai dengan pemberdayaan kelembagaan petani, penguatan kemitraan usaha yang saling menguntungkan, dan dikelola secara terintegrasi, sehingga diharapkan mampu menghasilkan produk hortikultura yang berdaya saing.

Sementara itu, Direktur utama PT Agri Makmur Pertiwi, Junaidi Sungkono mengatakan, kapasitas produksi benihnya mencapai 15 ribu ton, baik benih padi, jagung dan berbagai jenis sayuran.

Lahan penelitian yang dimiliki pihaknya berada di dataran menengah, dataran rendah dan tinggi dengan total lahan seluas 30 ha. Dengan total petani yang menjadi mitra mencapai 4.721 orang dengan total produksi benih tanaman pangan sebanyak 6.500 ton dan hortikultura sekitar 1.600 ton.

“Kebutuhan benih yang cukup besar diharapkan industri benih terpacu untuk meningkatkan produksi,” tegasnya. (JPG)