batampos.co.id – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi, menilai infrastruktur Terminal Pelni di Pelabuhan Batuampar tidak manusiawi.

BP secepatnya akan memindahkan kembali Terminal Pelni kembali ke Pelabuhan Beton di Sekupang.

”Tak manusiawi bangunannya,” kata Rudi, Selasa (7/1/2020).

Rudi juga mengungkapkan, mengapa terminal kapal pe-numpang tersebut tak kunjung pindah.

Pertama, terkait soal anggaran. Ia berkeinginan baik BP dan Pelni berbagi anggaran membangun kembali Pelabuhan Beton, Sekupang.

”Anggarannya tidak terserap. Makanya kami ingin berbagi sama,” ungkapnya.

Persoalan ini, kata Rudi, akan diselesaikan secepatnya.

”Ke depannya, takkan ada lagi kapal penumpang di sana. Batuampar nanti khusus untuk kargo semua,” terangnya.

Rudi kemudian menjelaskan, memindahkan kembali pelabuhan penumpang ke Sekupang, banyak tahapan yang harus dilakukan.

Di bawah guyuran hujan, penumpang menaiki KM Kelud di dermaga Batuampar, Sabtu (21/12/2019) lalu. kepala BP Batam, Muhammad Rudi, menilai infrastruktur pelabuhan Pelni Batuampar tidak manusiawi. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Tahapan utama yakni pendalaman alur di sekitar Pelabuhan Beton Sekupang. BP juga akan menganggarkan dana untuk membenahi pintu gerbang pelabuhan bongkar muat tersebut.

”Anggaran BP nanti untuk bongkar habis pintu masuk,” ujarnya.

Kondisi Pelabuhan Batuampar terkini sangat tidak layak untuk menjadi tempat bersandarnya kapal penumpang milik Pelni.

Saat hujan turun, maka pintu gerbang pelabuhan bongkar muat itu sering banjir. Kondisi tersebut telah berlangsung sejak lama dan belum mendapatkan penanganan yang berarti dari penge-lola pelabuhan.

Saat mendekati puncak arus mudik Natal pada Sabtu, 21 Desember 2019 lalu, Kapal Kelud milik Pelni yang berlayar dari Belawan, Sumatera Utara, bersandar di Batuampar sekitar pukul 11.00 WIB.

Begitu tiba, hujan deras langsung menyambut penumpang yang turun dari kapal tersebut.

Sayangnya, begitu turun, tidak ada tempat untuk berteduh bagi penumpang yang baru tiba tersebut.

Mereka dipersilakan berjalan melewati deretan kontainer menuju pintu gerbang depan, sambil menahan dingin karena baju dan tas yang basah kuyup diguyur hujan deras.

Sedangkan di pintu gerbang pelabuhan, kondisinya lebih buruk lagi karena kebanjiran. Kendaraan yang masuk dan keluar pun harus berjalan pelan-pelan.

Begitu keluar dari pelabuhan, maka akan disam-but dengan kemacetan yang luar biasa. Sudah menjadi pengetahuan umum, jika kapal Pelni bersandar, maka kemacetan akan terjadi.

Kemacetan dan basah kuyup karena hujan deras melengkapi penderitaan penumpang kapal Pelni yang tiba di Batam.

Salah seorang penumpang asal Medan, Nurlaili, mengatakan, ia sudah dua kali ke Batam untuk mengunjungi anaknya.

Saat pertama datang, terminal Pelni masih di Pelabuhan Beton Sekupang. Pelabuhan yang kabarnya tengah direnovasi tersebut memiliki gudang besar sehingga penumpang memiliki tempat untuk berteduh ketika hujan deras.

Namun, itu berbeda dengan pelabuhan Batuampar.

”Begitu turun langsung hujan deras. Kami harus berjalan jauh ke depan. Angkutan pun susah dicari karena macet dan banjir. Kira-kira menunggu satu jam kehujanan baru dapat angkutan,” ungkapnya.(leo)