batampos.co.id – Dua anak perempuan yang menjadi korban perdagangan orang di Bar Chelsea Sintai, Tanjunguncang, Batuaji, mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan.

Keduanya, AA, dan UL, disekap dan dipaksa menggunakan alat kontrasepsi atau suntik Keluarga Berencana (KB) sebelum melayani pria hidung belang.

“Setelah sampai di Batam, mereka memaksa saya disuntik KB. Malamnya, langsung disuruh duduk di depan bar,” kata UL, kemarin.

Dia mengaku, setelah itu dipaksa melayani pria hidung belang hingga pukul 05.00 WIB. Kemudian, ia bersama rekannya tersebut dikunci di dalam kamar.

“Sorenya disuruh mandi, dan dipaksa kerja lagi. Selama bekerja tidak ada dikasih uang,” kata remaja asal Depok, Jawa Barat, ini.

Kapolresta Barelang Kombes Prasetyo Rachmat Purboyo menginterogasi pelaku human trafficking saat gelar perkara di Mapolresta Barelang, Rabu (8/1/2020). Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Sementara itu, Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polresta Barelang, Ipda Dwi Dea Anggraini, mengatakan, pemilik bar baru pertama kali mempekerjakan anak di bawah umur.

Tujuannya, agar memperbanyak tamu maupun pelanggan.

“Karena mereka (korban) masih sangat muda, pastinya tamu yang melihat jadi tertarik,” kata Dea.

Dengan kejadian ini, pihaknya juga mendata pekerja dan menggeledah bar-bar lainnya yang berada di Teluk Pandan, Sintai.

“Kita sudah cek ke bar-bar lainnya, dan tidak ditemukan pekerja anak di bawah umur,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, Erry Syahrial, meminta pihak kepolisian untuk meningkatkan pengawasan, khususnya di lokalisasi tersebut.

“Kita harapkan kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Saya juga imbau kepada pemilik usaha, untuk tidak mempekerjakan anak di bawah umur,” kata Erry.(opi/ska)