PERNAHKAH Anda menyadari bahwa jumlah penĀ­duduk usia kerja di Kota Batam per Agustus 2018 mencapai hampir satu juta jiwa?

Tepatnya, 927.011 jiwa? Tahun lalu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, per Agustus 2019, angkatan kerja Kota Batam mencapai 643.381 orang atau bertambah 38.550 orang dibanding angkatan kerja pada Agustus 2018.

Namun, penduduk yang bekerja di Kota Batam pada Agustus 2019 sebanyak 593.737 orang, bertambah 42.924 orang dibanding penduduk yang bekerja pada Agustus 2018.

Kepala Kantor BPS Kota Batam, Rahyudin, melalui Kepala Seksi Statistik Sosial, Nanda Muliansyah, kepada media ini,

menyebutkan, persaingan kerja di Kota Batam terus mengalami peningkatan. Minimnya lapangan kerja membuat angka pencari kerja tidak pernah menurun.

Sedangkan ketersediaan lapangan kerja tidak cukup banyak. Sebelumnya, tahun 2018, warga Batam yang masuk dalam usia kerja mencapai 927.011 jiwa.

Dari jumlah tersebut, berapa jumlah angkatan kerjanya? Lumayan, 604.831 jiwa, sementara yang sudah terserap di pasar tenaga kerja 550.813 jiwa.

Sisanya, 54.018 orang masih menganggur (pengangguran terbuka). Lainnya, boleh disebut pengangguran tertutup, angkanya mencapai 322 ribu lebih!

Begitu pula tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di Kota Batam per Agustus 2019 sebesar 66,35 persen.

Ini meningkat 1,10 persen dibanding TPAK Agustus 2018. Akan tetapi, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Batam pada Agustus 2019 menjadi 7,72 persen.

Ini mengalami penurunan sebesar 1,21 persen jika dibandingkan dengan TPT Agustus 2018 sebesar 8,93 persen.

Dari angka itu, sebanyak 442.085 orang (74,46 persen) bekerja pada kegiatan formal pada Agustus 2019.

Selama setahun terakhir, dari Agustus 2018 yang besarnya 73,18 persen, pekerja formal naik hingga 1,28 poin persen.

Dalam pada itu, penduduk Batam berdasarkan proyeksi tahun 2019 mencapai 1.376.009 jiwa.

Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2018 sebesar 1.329.773 jiwa atau bertambah 234.193 jiwa dibandingkan pertumbuhan jumlah penduduk lima tahun lalu.

BPS menyebutkan, dasar penghitungan ini menitikberatkan survei lapangan, sampling dari rumah ke rumah di 12 kecamatan yang ada di kota ini.

Dalam perhitungan BPS, tanpa memiliki KTP Batam, orang yang tinggal di Batam dalam rentang enam bulan ke atas dianggap merupakan penduduk Batam.

“BPS menghitung tidak berdasarkan data KTP semata, tapi melihat riil di lapangan. Atas dasar itulah proyeksi dan pemutakhiran data penduduk Kota Batam ini dibuat,” ujar Nanda di Batam Kota.

Dari jumlah tersebut, penduduk terbanyak berada di Kecamatan Sagulung, yakni 292.044 jiwa, disusul Batam Kota sebanyak 285.248 jiwa, Batuaji 194.785, dan Sekupang sebanyak 134.252.

Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit di Batam berada di Kecamatan Bulang, hanya 10.052 jiwa.

Berdasarkan jenis kelamin, penduduk laki-laki sebanyak 701.240 jiwa, sedangkan penduduk perempuan sebanyak 674.769 jiwa.

Baiknya, masih menurut data BPS, perkembangan penduduk miskin Kota Batam bulan Maret 2019, baik dari sisi absolut maupun persentasenya, menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Garis Kemiskinan Kota Batam Maret 2019 sebesar Rp 659.170,- per kapita per bulan. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang besarnya Rp 650.406,- per kapita per bulan.

Kabar baik lainnya, pada bulan Maret 2019, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Kota Batam mencapai 66,21 ribu orang (4,85 persen), berkurang sebesar 1,203 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2018 yang sebesar 67,413 ribu orang (5,11 persen).

Begitu juga indeks kedalaman kemiskinan (P1) Kota Batam Maret 2019 sebesar 0,53, turun 0,28 poin dibandingkan dengan Maret 2018.

Indeks keparahan kemiskinan (P2) Kota Batam Maret 2019 sebesar 0,09 , turun 0,10 poin dibandingkan dengan Maret 2018.

Kabar cukup menggembirakan lainnya, nilai ekspor Kota Batam November 2019 mencapai US$891,80 juta atau naik sebesar 6,61 persen dibanding ekspor Oktober 2019.

Ekspor migas November 2019 mencapai US$143,97 juta atau turun 3,23 persen dibanding bulan sebelumnya.

Ekspor nonmigas pada bulan November 2019 mencapai US$747,83 juta atau naik 8.74 persen dibanding Oktober 2019.

Apa yang dapat disimpulkan dari angka-angka di atas? Bahwa terjadi penurunan angka pengangguran dari tahun 2018 ke 2019, benar adanya.

Meskipun kecil. Namun, penduduk yang menganggur pun tak kalah banyak jika dilihat dari semakin banyaknya jumlah angkatan kerja di kota ini.

Pelemahan ekonomi Batam dan Kepri sepanjang hampir lima tahun belakangan, telah memperparah keadaan.

Pemerintah Kota Batam telah berikhtiar dengan menggenjot sektor pariwisata. Namun, hal itu belum cukup siginifikan untuk mengembalikan

“potential loss” perekonomian sebelumnya dan menyerap tenaga kerja. Penyebabnya, length of stay wisatawan yang masih rendah serta belum begitu signifikannya dolar yang dibelanjakan turis, menjadi salah satu kelemahan.

Pun destinasi wisata belum dikelola dengan baik. Pihak yang mendapat manfaat dari sektor wisata ini masih terbatas pada kalangan tertentu, yakni pemilik restoran, mal, travel agent, perhotelan, dan belum menyentuh ke lapisan rakyat di bawah.

Mereka di bawah belum betul-betul dilibatkan secara langsung sebagai subyek pergerakan sektor pariwisata di Kota Batam.

Melihat dari masih tingginya jumlah angkatan kerja, lalu pengangguran (terbuka maupun tertutup), dan masih rendahnya serapan pasar kerja, nampaknya Batam masih akan mengalami masalah kependudukan dan kesejahteraan dalam tahun-tahun ke depan.

Bonus demografi yang seharusnya ikut dinikmati oleh Batam menjelang tahun 2030, boleh jadi menjadi “trap” (jebakan) demografi.

Hanya ada dua jalan, yakni menggenjot investasi yang dapat menyerap tenaga kerja atau mengendalikan pertumbuhan penduduk yang masih cukup tinggi.

Caranya, ya pemerintah pasti lebih pintar dari penulis.(*)