batampos.co.id – Pelaku usaha perhotelan meminta Badan Pengusahaan (BP) Batam maupun Pemko Batam benar-benar mengembalikan gairah investasi di Batam tahun ini.

Pasalnya, jika hanya mengandalkan kunjungan wisawatan, tidak cukup untuk meningkatkan tingkat hunian atau okupansi hotel di Batam dalam jangka panjang.

“Kalau hanya mengandalkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), maka hotel diisi saat akhir pekan saja. Kalau yang harian siapa yang akan datang,” kata ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam, Muhammad Mansur, Kamis (9/1/2020).

Ia mengatakan, saat perekonomian Batam tengah berjaya, tingkat hunian hotel di hari-hari biasa selalu didominasi kegiatan dari korporat. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain rapat, gathering, dan lain-lain.

“Ada juga ekspatriat yang pulang mingguan ke Singapura menginap di hotel,” jelasnya.

Setelah perekonomian Batam jeblok pada 2017, tingkat okupansi dari korporat juga ikut turun.

Turis dari negara Filipina berswafoto di Welcome To Batam beberapa waktu lalu. Pelaku usaha perhotelan meminta Badan Pengusahaan (BP) Batam maupun Pemko Batam benar-benar mengembalikan gairah investasi di Batam tahun ini. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Memang saat ini, perekonomian berangsur-angsur pulih, tapi kabar tutupnya sejumlah perusahaan di Batam beberapa waktu lalu, membuat pelaku usaha perhotelan kembali khawatir.

“Perusahaan-perusahaan sudah mulai tutup. Sedangkan di Tanjunguncang juga masih seperti mati suri. Baru ada beberapa perusahaan dapat proyek. Kami tidak bisa mengandalkan wisata saja, kembalikan dulu industrinya,” paparnya lagi.

Mansur juga mengakui sejak harga tiket pesawat mengalami kenaikan, kunjungan wisatawan Nusantara (wisnus) mengalami penurunan.

Sedangkan tingkat masa tinggal (length of stay) dari wisman juga tetap stabil. Untuk membuat wisman lama menginap, butuh atraksi wisata.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masa tinggal wisman di Batam adalah selama 3,35 hari dengan rata-rata pengeluaran per hari sebesar 162.25 dolar AS atau Rp 2.268.000.

Sedangkan total pengeluaran per wisman selama kunjungan, menurut BPS, rata-rata 543.53 dolar AS atau Rp 7.601 juta.

Imbas dari lesunya industri dan minimnya atraksi membuat beberapa hotel melakukan berbagai upaya untuk bertahan.

Ada yang berganti manajemen dan nama, bahkan ada yang memilih tutup. Hotel berganti manajemen dan nama salah satunya Novotel menjadi Hotel Travelodge.

Kemudian Hotel Goodway memilih tutup dan berganti manajemen, namun belum buka kembali. Terakhir Hotel Allium berganti manajemen.(leo)