batampos.co.id – Kabid Pelayanan dan Pencatatan Sipil Dinas Kependudukan (Disduk) Batam, Gita Malinda, menjelaskan, syarat untuk pengurusan akta kematian bagi warga negara Indonesia (WNI) sangat mudah.

Di antaranya:

  1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Almarhum/Almarhumah.
  2. Fotokopi KTP pemohon.
  3. Fotokopi KTP saksi.
  4. Fotokopi Akta Kelahiran/Perkawinan/SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik      Indonesia).
  5. Surat keterangan dari Rumah Sakit.
  6. Surat pengantar ini didapat setelah adanya surat keterangan dari RT/RW setempat.
  7. Surat pengantar kematian dari Kelurahan.
Ilustrasi

Menurut dia, proses pembuatan akta kematian dimulai dari memasukan berkas yang kemudian diverifikasi oleh petugas loket.

Saat berkas diterima petugas akan memberi cap stempel tanggal masuk berkas. Saat berkas lengkap, maka berkas akan dilanjut ke kepala seksi untuk diverifikasi kelegalannya.

“Di loket pengecekan kelengkapan berkas, nah kalau kasi untuk mengecek kelegalan berkas,” ujarnya.

Setelah verifikasi kelegalan dan dinyatakan lengkap, maka data akan langsung dimasukan ke bagian sistem oleh operator dengan cara diinput dan dilakukan pencetakan.

Setelah dicetak,akta kemudian dilanjut ke kepala bidang dan terakhir ke kepala dinas.

“Sesuai Perwako waktu pengerjaan 14 hari kerja. Bisa lebih dan bisa kurang juga, tergantung jaringan juga,” jelas Gita.

Manfaat dokumen Akta Kematian bagi penduduk di antaranya, penetapan status janda atau duda (terutama bagi pegawai negeri) diperlukan sebagai syarat menikah lagi.

Untuk persyaratan pe-ngurusan pembagian waris (Peralihan Hak Atas Tanah), baik bagi istri atau suami maupun anak.

Diperlukan untuk mengurus pensiun bagi ahli warisnya. Persyaratan untuk mengurus uang duka, tunjangan kecelakaan, Taspen, asuransi, perbankan, dan pensiun.

Serta mencegah data almarhum disalahgunakan dan memastikan keakuratan data penduduk.(she)