batampos.co.id – Tahun ini, Dinas Pendidikan (Disdik) Batam belum bisa menuntaskan persoalan siswa yang masih menumpang di sekolah lain.

Itu disebabkan faktor keterlambatan pengurusan berkas hibah lahan, sehingga tidak semua sekolah baru dibangun tahun ini.

Kepala Disdik Batam, Hendri Arulan, mengatakan, pembangunan unit sekolah baru (USB) merupakan prioritas.

Tahun lalu, terdapat lima sekolah baru yang didirikan untuk menampung siswa yang membeludak.

“Memang tidak semua kami bangun. Karena masih ada kendala dengan hibah lahan, sehingga hal ini menghambat dua sekolah lainnya dan tidak dianggarkan tahun ini,” kata Hendri, Jumat (10/1/2020).

Berdasarkan data Disdik Batam, hingga Januari ini, total sekolah yang belum memiliki gedung sendiri, yaitu SMPN 60 Batam, 61, 62 dan 63.

Sementara itu, satu sekolah lagi yakni SMPN 59 Batam merupakan sekolah yang didirikan tahun 2018 lalu.

“Tiga sekolah baru dipastikan akan dibangun di tahun 2020. Ketiga sekolah itu adalah SMPN 60, SMPN 61 dan SMPN 62,” sebutnya.

Ilustrasi pembangunan gedung sekolah di Batuaji tahun lalu. Hingga saat ini masih ada sekolah yang belum memiliki gedung sendiri, yaitu SMPN 60 Batam, 61, 62 dan 63. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Sementara itu, untuk sekolah yang belum dibangun, terpaksa menumpang di sekolah lainnya.

Kondisi ini tidak bisa dihindari, sebab setiap tahun lonjakan jumlah siswa yang masuk ke sekolah negeri terus meningkat.

“Kami sudah berusaha maksimal. Namun, (pembangunan) dua sekolah harus menunggu tahun 2021 mendatang,” imbuhnya.

Menurutnya, hampir tiap kecamatan di mainland membutuhkan sekolah tambahan. Contohnya, di Kecamatan Batam Kota yang membutuhkan tambahan sekolah di wilayah Kelurahan Belian.

“Kita sudah petakan sampai tingkat kelurahan. Rata-rata tiap kecamatan ada. Seperti di Batam Kota, kita butuh tambahan di Belian. Karena di SMPN 42 itu kan membeludak. Artinya, kita harus buat di daerah situ,” terang Hendri.

Ia menambahkan, setiap tahunnya, Pemerintah Kota Batam berusaha mengentaskan persoalan sekolah menumpang ini.

Namun, karena jumlah pendaftar ke negeri terus membeludak, sekolah baru terpaksa didirikan meskipun gedungnya belum ada.

“Tahun ini, siswa SMPN 58 sudah bisa menikmati gedung sendiri setelah beberapa tahun menumpang. Gedung baru selesai dibangun dan akan ditempati paling lambat Februari nanti,” ungkapnya.

Meskipun begitu, ia berharap kondisi ini bisa diterima untuk saat ini. Sebab, keinginan orangtua juga yang membuat siswa menumpang di sekolah lain.

Menurutnya, jika mengikuti aturan, jumlah satu kelas saat ini banyak yang tidak ideal. Harusnya, siswa di kelas itu maksimal 32 orang.

Namun sekarang jumlahnya melebihi kuota tersebut.

“Mudah-mudahan PPDB tahun ini bisa lebih baik. Sehingga siswa dan guru bisa nyaman selama proses belajar dan mengajar,” tutupnya.(yui)