batampos.co.id – Pelantikan pejabat baru Badan Pengusahaan (BP) Batam memunculkan harapan baru di kalangan pengusaha. Mereka berharap dunia usaha diprioritaskan. Caranya, pejabat BP yang baru harus mampu bekerja secara profesional untuk memajukan investasi di Batam.

“Harapannya semua bisa bekerja profesional memajukan investasi di Batam. Kalau istilah yang dipakai Kepala BP berubah jadi power ranger ya. Menurut saya maksudnya semua harus kerja ekstra keras melebihi dari biasanya,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, Sabtu (11/1).

Menurut Rafki, saat ini dunia investasi Batam sedang jalan di tempat. Belum ada peningkatan berarti selama beberapa tahun belakangan. Sehingga pejabat yang baru harus menyelesaikan permasalahan ini. Masalah mendasar yang harus segera dicarikan solusinya oleh BP adalah mahalnya ongkos kontainer dari Batam ke luar negeri, khususnya ke Singapura. Hal ini membuat daya saing produk dari Batam kurang bagus di pasar global. Saat ini tarif kontainer dari Batam-Singapura yang ukuruan 40 feet 700 sampai 800 dolar Amerika. Sedangkan dari Singapura-Jakarta hanya 300 sampai 400 dolar. Untuk yang ukuran 20 feet tarifnya Singapura Batam hanya sekitar 300 sampai 400 dolar.

Sementara untuk yang Singapura-Jakarta hanya sekitar 200-300 dolar. “Tarif ke Batam yang hanya butuh empat jam jauh lebih mahal dibanding ke Jakarta yang bisa sampai 3 hari,” katanya. Menurutnya, permasalahan ini harus secepatnya dibereskan pejabat baru.

“Kita apresiasi kepada BP Batam yang sudah menyelesaikan SOTK yang baru. Semoga dengan SOTK baru ini kinerja BP Batam lebih baik lagi nantinya. Kita cukup optimis di sini,” jelasnya.

Seorang pekerja sedang memindahkan kontainer di Pelabuhan Batuampar, beberapa waktu lalu. Ongkos logistik yang masih mahal masih dikeluhkan oleh pengusaha. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Dalam SOTK baru ini, ada sejumlah nama baru yang mengisi jabatan strategis. Contohnya Nelson Idris yang menjabat sebagai Direktur Badan Usaha Pelabuhan.

Pejabat baru ini tampaknya merupakan orang baru di Batam. Pasalnya pengusaha pelabuhan di Batam kurang mengenalnya. Ketua Indonesia National Shipowner Association Batam, Osman Hasyim, mengatakan, meski belum mengenalnya, ia tetap menaruh harapan tinggi kepada Nelson.“Potensi pendapatan terbesar di Batam itu sebenarnya ada di pelabuhan. Itu yang sudah kami tekankan berulang-ulang,” katanya.

BP Batam harus mengevaluasi peraturan host to host atau deposit di pelabuhan. Sistem host to host merupakan sebuah sistem yang diterapkan BP Batam yang menghubungkan server penyedia jasa dengan server bank untuk menunjang segala mekanisme di lapangan melalui sistem online bagi para pengguna jasa. Sistem ini berlaku untuk pembayaran kegiatan jasa kepelabuhanan oleh BP Batam yang dilakukan pada pelabuhan umum dan non umum.

“Sistem tersebut tak cocok diberlakukan untuk jasa pelabuhan, lebih cocok untuk bayar listrik atau pulsa. Buktinya tidak ramai kapal yang datang ke Batam,” jelasnya.

Ia juga meminta kepada jajaran pimpinan BP Batam agar selalu berdiskusi dengan pe-ngusaha maritim sebelum memutuskan untuk menerbitkan kebijakan baru mengenai pelabuhan.

“Kami menghargai usaha BP Batam yang ingin membangun Batuampar dengan melibatkan Pelindo II. Tapi masukan dari pengguna jasa juga sangat penting untuk masukan pengembangan pelabuhan.

Sementara itu, Kepala BP Batam, Rudi yakin bahwa dengan pelantikan para pejabat baru ini dapat meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) BP Batam dari berbagai sektor.

“Pelabuhan dan bandara itu penting. Banyak laporan yang masuk ke saya soal keduanya. Tapi itu jadi referensi. Hilangkan etos kerja negatif. Bangkitkan kembali kejayaan BP Batam,” tegasnya. (leo)