batampos.co.id – Tahun ini, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) memberikan peluang lebih besar bagi siswa berprestasi. Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan menambah kuota jalur prestasi dari 15 menjadi 30 persen, naik 100 persen dari tahun lalu.

Kepala SMPN 3 Batam, Wiwiek Darwiyanti, mengaku sangat mendukung adanya penambahan kuota PPDB khususnya dari jalur prestasi. Menurutnya, PPDB tahun lalu jalur tersebut merupakan salah satu yang ramai dipilih siswa.

“Namun karena kuota hanya 15 persen, mereka tidak bisa diterima semua,” kata dia, Sabtu (11/1).

Menurut Wiwiek, dengan semakin banyaknya siswa yang berprestasi di sekolah negeri akan membantu sekolah meraih hasil terbaik selama ujian. Peluang untuk menjadi sekolah dengan UN tertinggi lebih besar untuk sekolah negeri.

“Kami sangat mendukung perubahan sistem penerimaan tahun ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala DinasPendidikan (Disdik) Batam, Hendri Arulan, me-ngatakan jalur lingkungan masih diutamakan untuk mengakomodir siswa yang dekat dengan sekolah. Kuota 50 persen masih menjadi hak siswa untuk bersekolah di sekolah yang terdekat dengan tempat tinggal mereka.

Perubahan zonasi PPDB ini sesuai dengan Permendikbud Nomor 44 tahun 2019. Jalur zonasi sebanyak 50 persen, prestasi 30 persen, afirmasi 15 persen dan perpindahan orangtua lima persen. Ia berharap orangtua bisa memahami perubahan peraturan ini.

“Jalur zonasi atau lingkungan masih menjadi prioritas setiap sekolah. Peraturan ini tetap menjamin pendidikan bagi mereka yang dekat dengan sekolah untuk menikmati fasilitas pendidikan.Nanti akan disosialisasikan ke sekolah. Agar orangtua tidak kaget dengan perubahan ini,” imbuhnya.

Hendri menyebutkan setiap tahun sekolah negeri masih menjadi pilihan orangtua. Jumlah siswa yang mendaftar jauh melebihi kuota. Akibatnya siswa banyak yang tidak tertampung.

“Mau tidak mau hadirlah sekolah negeri baru. Meskipun gedungnya belum ada,” ucapnya.

Menurutnya, daya tampung sekolah negeri dan swasta di Batam saat ini sangat cukup untuk mengakomodir lulusan TK dan SD. Tetapi timbul masalah ketika orangtua memaksakan anaknya untuk masuk ke sekolah negeri.

“Kami tak bisa kendalikan soal ini. Jadi kembali ke orangtua. Harapannya jangan memaksa,” tutupnya. (yui)