batampos.co.id – Pem-babatan eceng gondok di Dam Duriangkang terkendala karena banyak orang tak bertanggung jawab yang sengaja merakit kayu untuk menahan eceng gondok tidak bergerak ke pinggir dam. Kayu yang diikat dan dibuat seperti rakit ini untuk tempat ikan berlin-dung sehingga mudah untuk ditangkap dengan jaring atau jala.

Direktur Badan Usaha Fasi-litas dan Lingkungan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Binsar Tambunan, mengatakan banyak pembalak liar yang mendirikan tiang-tiang kayu yang dijalin satu sama lain seperti tanggul di sekitar area eceng gondok.

”Jadi semacam kurungan sehingga eceng gondok tidak bisa bergerak ke pinggir dam. Sengaja dibuat seperti itu karena banyak ikan yang berenang ke bawah kumpulan eceng gondok. Jadi, dengan begitu mudah dijaring maka-nya susah membabatnya,” katanya, Sabtu, (11/1/2020).

Makanya kegiatan akan dilanjutkan kembali setelah tiang-tiang kayu tersebut dicabut. Sambil melakukan proses tersebut, BP akan mendatangkan harvester baru untuk membabat eceng gondok yang ada di tengah dam.

foto: batampos.co.id / dalil harahap

”Kami juga akan memberikan sertifikasi kepada operatornya juga dan peratalan berat lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya, BP memang menggunakan peralatan berat yang dipinjam dari Pemko Batam dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Masing-masing ada dua alat yakni harvester dan excavator.

BP sendiri sudah menggelar tender untuk pengadaan harvester sejak Oktober. Nilainya sekitar Rp 11 miliar. Tendernya sudah selesai, tapi Binsar menyebut pengadaannya mungkin akan dimulai pada Maret mendatang.

”Selama ini kalau dengan cara manual, maka dapat-dapat tiga hektare. Duriangkang itu luas, makanya butuh harvester,” jelasnya.

Pertumbuhan eceng gondok di perairan Waduk Duriangkang tumbuh dengan luasan 180 hektare di permukaan waduk seluas 2.300 hektare tersebut.

Hal ini, menurutnya, jelas dapat mengkhawatirkan ke-tersediaan debit air di Kota Batam.

”Eceng gondok yang telah dibabat nanti akan dijadikan pupuk cair,” pungkasnya. (leo)