batampos.co.id  – Pengelola Bandara Internasional Hang Nadim Batam memasang target pendapatan yang tinggi yakni mencapai Rp 252 miliar di tahun ini.

Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Internasional Hang Nadim Batam, Suwarso, mengatakan, target itu memang cukup tinggi jika dibandingkan capaian pendapatan mereka di 2019 yang kurang lebih hanya Rp 140 miliar.

Salah satu penyebabnya, karena menurunnya animo masyarakat menggunakan tranportasi udara akibat perubahan harga tiket.

”Tak hanya dari sektor pendapatan dari passanger service charge (PSC) saja berkurang, sektor lain juga, seperti parkir,” katanya, Senin (13/1/2020).

Ia mengatakan, adanya aturan baru yang diterapkan sesuai perda Kota Batam, mempengaruhi pendapatan parkir di Hang Nadim.

Sehingga turun sebesar 40 persen. Dari Januari hingga November 2019, tercatat pendapatan Hang Nadim dari sektor parkir hanya Rp 106 juta.

”Sekali masuk ke bandara kan Rp 3 ribu. Untuk PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) Rp 1 ribu. Sisanya untuk bagi hasil,” ujarnya.

Bandara Internasional Hang Nadim. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Turunnya beberapa item pendapatan Hang Nadim ini, tidak membuat Suwarso pesimistis. Ia mengaku tetap optimis di tahun 2020 ini, pendapatan Hang Nadim kembali melonjak tinggi. Oleh sebab itu, target tinggi tetap dipasang.

”Target tinggi ini, karena adanya penambahan fasilitas,” ucapnya.

Ia mengatakan, adanya pembangunan terminal kargo akan diikuti penambahan fasilitas apron atau area parkir pesawat.

Kegiatan kargo di Bandara Hang Nadim diyakini akan meningkat di tahun 2020. Oleh sebab itu, Suwarso meyakini peningkatan lalu lintas barang di kargo, juga dapat meningkatkan pendapatan bandara.

”Kargo itu menyumbangkan 12 persen pendapatan di bandara. Lalu penumpang 60 persen,” ujarnya.

Terkait penumpang, Suwarso juga meyakini pertumbuhannya akan kembali tinggi. Karena, ia melihat di awal tahun ini, harga tiket sudah kembali normal.

”Dibandingkan tahun lalu, harga tiketnya cukup mahal. Saya optimistis pertumbuhan penumpang akan naik lagi,” ucapnya.

Peningkatan pendapatan bandara juga dilakukan dengan penambahan fasilitas bagi para tenant yang menyewa di Hang Nadim.

Sebelumnya, Hang Nadim menerapkan sistem MOB (Minimal Omset Bruto). Sistem ini menargetkan pendapatan dari para tenant.

”Misalnya, target MOB-nya Rp 200 juta, lalu ditarik beberapa persen untuk Hang Nadim,” ujarnya.

Namun kini, MOB telah dihapus. Hang Nadim tidak lagi menerapkan MOB per Januari 2020.

Ia berharap dengan adanya sistem baru ini, dapat meningkatkan jumlah tenan yang ada di Hang Nadim.

Mulai 13 Januari ini, Suwarso menyebutkan bahwa tidak ada lagi ruang kosong untuk para tenant yang akan masuk.

”Padahal masih ada 7 tenant lagi yang mengantri,” ungkapnya.

Suwarso tetap berharap di tahun ini, penumpang dapat tumbuh naik. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan bandara, para tenant, dan ekonomi masyarakat sekitar bandara.(ska)