batampos.co.id – Kompetensi dan serapan kerja dari lulusan SMK sederajat, vokasi industri dinilai sangat penting. Pasalnya, kemajuan teknologi di sektor industri semakin tak bisa dihindari.

Industri di Batam saat ini tengah bergerak ke arah revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan penerapan teknologi dalam sistem operasional industri.

“Era digitalisasi ini berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025 di seluruh dunia,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hoeing, Selasa (14/1/2020).

Revolusi industri 4.0 tak bisa ditolak, karena berbagai lini kehidupan sudah mulai menerapkannya.

Mulai dari sistem pendidikan, pemerintahan, sistem transaksi jual beli, pelayanan kesehatan dan lainnya.

Di Batam sendiri, sudah ada sejumlah perusahaan yang menerapkan teknologi 4.0 dalam operasionalnya.

Ilustrasi

Seperti Infineon Technologies, Siix, Ciba Vision, Schneider Electric, Rubycon, Flextronics dan lainnya.

Tipikal industri seperti ini akan mampu menarik lokomotif industri pendukung lainnya lebih optimal.

Tapi, di sisi lain, karena sistemnya sudah otomatis, maka perusahaan industri akan mengandalkan robot dan hanya sedikit merekrut tenaga kerja.

Itupun hanya tenaga kerja yang terampil di bidang teknologi industri 4.0.

“Kalau industri manufaktur kita mau naik kelas, suka tidak suka harus beralih ke industri 4.0,” jelasnya.

“Saat ini, mayoritas masih gunakan teknologi revolusi industri 1.0 hingga 3.0. Tapi teknologi industri 4.0 akan meningkatkan produktivitas, tenaga kerja dan memperluas pasar,” tegasnya lagi.

Digital Transformation Leader Schneider, Budi Sulistyarto, menuturkan, saat ini, Schneider memang tengah beralih menuju era industri 4.0.

Industri 4.0 sangat akrab dengan penggunaan robot dalam proses produksi. Meskipun begitu, Schneider tidak akan mengganti karyawannya dengan robot.

Hingga saat ini, jumlah karyawan Schneider berjumlah 3.000 orang.

“Tidak semua proses bisa digantikan otomasi. Lagipula dari skala investasi, keuntungan yang diperoleh melalui padat karya masih lebih bagus daripada menggunakan robot yang berbiaya mahal,” jelasnya.

“Kami hanya menggunakan robot untuk pekerjaan yang benar-benar berat dan critical saja,” ujarnya lagi.

Menurut Budi, SDM muda di Batam memiliki kompetensi. Hal itulah yang membuat Schneider masih bertahan di Batam dan memutuskan untuk ikut serta dalam mengembangkan SDM muda lewat program vokasi industri di SMK 1 Batam.

”Kalau dibandingkan dengan Vietnam yang lebih murah gajinya, masih jauh lebih bagus kita. Bahkan tenaga kerja dari Batam banyak yang dikirim Schneider ke Vietnam untuk membantu kegiatan di sana,” paparnya.(leo)