batampos.co.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam bertandang ke redaksi Batam Pos, Rabu (15/1/2020).

Selain bertujuan untuk bersilaturahmi, kedatangan organisasi wadah pengusaha ini untuk memberikan masukan kepada Batam Pos mengenai kondisi ekonomi terkini saat ini.

“Tujuan kami silaturahmi ke media di awal tahun. Karena kami menyadari bahwa media itu pilar kebangsaaan yang bisa membantu menggiring isu positif di masyarakat. Makanya kami ingin beri masukan berkaitan dengan ekonomi,” kata Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk.

Menurut Jadi, tahun ini pertumbuhan ekonomi di Batam belum akan mencapai hasil yang menggembirakan.

“Ekonomi dunia belum membaik karena imbas perang dagang Amerika dan Tiongkok dan pemerintah juga kurang serius mencari investasi asing dari kesempatan perang dagang ini,” ujarnya.

Selama ini kata dia, peningkatan pertumbuhan ekonomi Kepri dari 2017 hingga saat ini dari rentang 1 persen hingga 4 persen ditopang oleh konsumsi.

Data tersebut menunjukkan bahwa sektor investasi yang juga diharapkan jadi penopang pertumbuhan ekonomi tidak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan.

Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk bersama beberapa pengurus berkunjung ke redaksi Batam Pos dan disambut Pimpinan Redaksi Batam Pos, Muhammad Iqbal. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

“Bagaimana cara mendorong pertumbuhan ekonomi agar tak bergantung pada konsumsi lagi,” jelasnya.

“Maka pemerintah harus menggelontorkan dana yang bisa melibatkan masyarakat dalam kegiatan ekonomi,” katanya lagi.

Sehingga kata dia, masyarakat tidak hanya menerima hibah dan bantuan saja serta Tidak lagi menjadi objek, tapi menjadi subjek.

Ia yakin hal itu bisa dicapai apalagi setelah Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam di bawah kepemimpinan Walikota Ex-Officio Kepala BP Batam, Muhammad Rudi.

“Sekarang sudah satu komando. Jadi sudah cepat dan tepat dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Tapi kata dia, tanggungjawab Rudi akan berat. Ia menilai bahwa banyak persoalan sosial di Batam yang seakan-akan dikembalikan kepada masyarakat untuk diselesaikan sendiri. Sehingga menghasilkan hukum rimba.

“Istilahnya seperti Batam ini auto pilot. Contoh persoalan itu seperti penggusuran pasar induk yang belum ada solusi dan juga persoalan taksi online yang masih terus terjadi,” katanya lagi.

Ia berharap agar Rudi mau mengajak stakeholder untuk berdiskusi mencari solusi.

“Ajak diskusi pelaku usaha buat strategi ekonomi. Cari solusi dari tiap persoalan dan bertanya apa yang bisa saya lakukan,” paparnya.(leo)