Selasa, 7 April 2026

Sistem Zonasi dan Penambahan Rombel Bikin Sekolah Agama Sulit Dapatkan Siswa Baru

Berita Terkait

batampos.co.id – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi sekolah dinilai makin menggerus jumlah pendaftar sekolah swasta, khususnya sekolah madrasyah di Kota Batam.

Sekolah swasta agama kalah bersaing dengan sekolah negeri. Apalagi kebijakan pemerintah daerah yang melakukan penambahan rombongan belajar, sehingga sekolah agama swasta nyaris tidak memiliki siswa.

“Memang sangat berat menghadapi tantangan untuk mendapatkan siswa baru. Apalagi dengan sistem zonasi dan kebijakan pemerintah saat ini, jika tidak hati-hati, bukan hanya Darul Ihsan, semua sekolah swasta madrasyah bisa tutup semua,” ungkap Pembina Yayasan Darul Ihsan Batam, Zulkifli Aka di sela rapat kerja dan pelantikan pengurus dan pengawas Yayasan Darul Ihsan Batam, Kamis (16/1/2020).

Disebutnya, sekolah madrasayah swasta di bawah kementerian agama 95 persen pendidikan dibangun oleh masyarakat.

Bertolak belakang dengan yang ada di pemerintah di bawah dinas pendidikan, 95 persen negeri dan hanya 5 persen untuk masyarakat.

Padahal kata Zulkifli, output madrasyah ini nantinya menghasilkan guru agama, pegawai KUA, hakim agama, para khatib yang tidak ada sekolah umum lainnya.

Foto bersama Rapat Kerja dan Pelantikan Pengurus Yayasan Darul Ihsan. Foto: Darul Ihsan untuk Batam Pos

“Bayangkan kalau sekolah agama ini tutup karena tidak ada siswa. Bagaimana kita untuk membangun agama,” ujarnya.

karena itu pihaknya berharap Pemko Batam dapat memperhatikan sekolah berbasis agama.

“Kami tidak menghalangi sistem zonasi ini, tapi jangan kebablasan. Artinya jika daya tampung sekolah negeri 5 rombel, janganlah ditambah menjadi 10 rombel. Ada jugalah melimpah ke kami sekolah agama swasta,” tuturnya.

Kata Zulkifli, tahun lalu hanya ada tujuh orang siswa mendaftar di Darul Ihsan. Namun karena adanya kebijakan Pemko Batam untuk menambah rombel baru di sekolah negeri, akhirnya ketujuh siswa itu keluar dan tidak jadi bersekolah di Darul Ihsan. Padahal sebelumnya mereka sudah mengukur baju.

“Akhirnya apa? kami tak berdaya. Mudah-mudahan kita di dengar wali kota Batam, DPRD Batam. Pikirkan kami juga karena hampir setiap kelas kami itu kosong. Kita juga ingin menjadi bagian pendidikan itu,” ucapnya.

Ketua Yayasan Darul Ihsan, Massiarah, mengatakan, ini tantangan sekolah madrasyah swasta ke depan.

Bagaimana mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa sekolah madrasyah itu bukan hanya belajar agama tetapi juga belajar umum lainnya.

Oleh sebab itu pemerintah daerah yakni wali kota dan gubernur harus saling bersinergi dalam membangun dan mengembangkan sekolah agama yang ada di Kota Batam.

“Karena kalau kita tidak di backup tentu tak akan jalan. Disini kami sebagai benteng umat khusus di Batam. Kita tak hanya membangun sumber daya yang hanya untuk dunia tapi juga akherat,” katanya.

Ketua pembina yayasan Darul Ihsan, Abdul Latif, berharap di bawah kepengurusan baru bisa membuat perubahan dan gebrakan dalam membangun sekolah agama yang bermutu dan berdaya saing.

Namun begitu ia juga berharap kebijakan wali kota Batam untuk memperhatikan madrasyah sebagai bagian dari lembaga pendidikan yang ada di kota Batam.

“Kita juga berharap sekolah madrasayah bisa bersinergi dengan sekolah umum lain. Karena kami disini juga turut membantu anak-anak menuntu ilmu,” katanya.

Abdul menambahkan, Yayasan Darul Ihsan sendiri sejatinya sudah berdiri sejak tahun 1992 lalu. Sudah 28 tahun sekolah ini menghasilkan lulusan di bidang agama.(rng)

Update