batampos.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menjelaskan perkembangan kemiskinan hingga September 2019. Dimana jumlah masyarakat di Kepri yang berada di bawah angka kemiskinan sebanyak 127.758 orang. Jumlah tersebut berkurang sebanyak 704 jiwa diban-ding 2018 dengan jumlah 128.462 jiwa.

Kepala BPS Kepri, Zulkipli, mengatakan dalam menghitung angka kemiskinan tetap menggunakan pendekatan kebutuhan dasar. Untuk makanan, pihaknya menggunakan 2.100 kilo kalori sebagai batasan dari 52 komoditas dan untuk non makanan memiliki batasan sendiri, 51 jenis komoditas di perkotaan dan 47 jenis komoditas di perdesaan.

”Kondisi September 2019, angka kemiskinan Kepri sebesar 5,8 persen, hal itu turun diban-ding Maret 2019 pada angka 5,9 persen,” kata Zulkipli di Kantor BPS Kepri, Rabu (15/1/2020).

Dijelaskan Zulkipli, hal yang sangat memengaruhi penurunannya, karena pada akhir tahun inflasi Kepri terkendali sehingga angka kemiskinan juga bisa dikendalikan.

”Namun yang perlu diwaspadai adalah lebih 66 persen garis kemiskinan ditentukan oleh harga makanan, sehingga kenaikan harga yang berkaitan dengan kebutuhan pokok harus hati-hati,” ujarnya.

Pada 2020 beberapa komoditas akan mengalami kenaikan harga. Seperti beras diperkotaan posisinya 15,35 persen dan perdesaan 20 persen, sementara di Kepri pergerakan harga beras belum terlihat.

Saat ini, ia menyebutkan masyarakat di bawah garis kemiskinan masih mengonsumsi rokok kretek filter sebesar 8,83 persen di perkotaan dan 13,44 persen di perdesaan.

ilustrasi

”Cukup besar pengaruhnya jika nanti harga rokok naik dan orang miskin masih mengkonsumsinya,” ucapnya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah harga daging ayam, telur ayam, yang juga banyak dikonsumsi oleh orang di bawah garis kemiskinan.

”Sangat diperlukan upaya dari teman-teman pengendali harga, karena banyak komoditas yang dikonsumsi orang miskin tidak ada di Kepri,” kata Zulkipli.

Ditargetkan pada 2030 tidak ada lagi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Walaupun membutuhkan upaya yang cukup besar, sebab dengan kondisi angka di bawah 10 persen itu tidak cukup de-ngan pemberian bantuan beras saja.

Harus ada upaya lain untuk mengentas kemiskinan.

”Kita akan kembali pada konsep life cycles atau daur hidup seperti anak yang masih berada dalam kandungan juga diberi susu gratis oleh pemerintah, diberi imunisasi, sehingga saat lahir memiliki otak yang bagus, diberikan sekolah gratis hingga jenjang yang lebih tinggi, saat sudah besar tidak lagi seperti orangtuanya yang tidak bersekolah, sehingga akhirnya keluar dari jurang kemiskinan,” bebernya. (rie)