batampos.co.id – AS diseret ke Pengadilan Negeri (PN) Batam karena kasus pencurian sebuah mesin pencabut bulu ayam.

Ade mengaku pencurian di Ruli Danau Merah, Batuaji, dilakukan atas ajakan rekannya yang masih buron, HS.

“Saya diajak. Katanya kamu udah makan belum, saya bilang belum. kemudian dia ajak saya naik motor,” ujar Ade dalam persidangan agenda pemeriksaan saksi dan terdakwa.

Dalam sidang, terdakwa AS kemudian diajak ke salah satu tempat penjualan ayam potong.

Kemudian HS menyuruh AS untuk mengangkat mesin pencabut bulu ayam di kios ayam potong tersebut.

“Saya sudah tanya, itu punya siapa. Dia bilang itu punya dia kemudian dia suruh saya angkat mesin itu ke atas becak,” tuturnya.

Ilustrasi. Dokumentasi batampos.co.id

Usai diangkat, selanjutnya terdakwa AS dan HS membawa mesin itu ke kawasan Simpang Tobing Batuaji.

Setelah tiba di lokasi, kemudian HS meminjam uang kepada pemilik gudang di Simpang Tobing tersebut Rp 20 ribu untuk membayar becak dan kemudian dikasi uang Rp 100 ribu.

“Karena tidak ada kembalian saya disuruh nukarkan uang dan dibayarkan uang untuk becak Rp 20 ribu,” jelasnya.

“Setelah itu diajak makan sama dia dan dibelikan rokok. Siap makan kemudian diantar ke Mitra Mall dan dia langsung pergi,” bebernya.

Sementara itu, menurut korban, Taufik, ia mengalami kerugian Rp 3,5 juta. Dalam persidangan, ia minta kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa AS.

Dengan alasanya pelaku utama dalam pencurian ini belum tertangkap dan AS sudah mengakui perbuatannya sebelum kasus ini diproses.

“Kalau bisa terdakwa ini dibebaskan yang mulia. Karena pelaku utamanya belum tertangkap dan dia tidak bersalah yang mulia,” ujarnya.

Namun, permintaan korban Taufik kepada ketua majelis hakim Christo Sitorus tidak bisa dikabulkan karena permintaan itu akan diputus dalam persidangan putusan.

Usai mendengarkan keterangan dari saksi dan terdakwa, kemudian Christo menunda persidangan hingga pekan depan untuk mendengarkan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).(gie)