Minggu, 5 April 2026

FGD tentang Natuna di Ibnu Sina

Berita Terkait

batampos.co.id – STAI Ibnu Sina menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di Komplek Ibnu Sina, Lubukbaja, Sabtu (18/1/2020).

Dari FGD ini tema yang dipilih yakni Ada Apa dengan Natuna? Ketua Dewan Mahasiswa STAI Ibnu Sina, Ahmad Habibullah mengaku tema ini diambil, setelah hiruk pikuk yang terjadi di Natuna.

Ia telah mendatangkan tiga orang narasumber yang diyakininya memiliki kapabilitas menjelaskan, mengenai apa yang terjadi di Natuna.

”Kami tidak membahas perseteruan dengan Cina. Tapi konflik di Natuna itu apa?” katanya, Sabtu (18/1/2020).

Ia mengatakan, narasumber yang didatangkan yakni Wakil Ketua FUI MUI Batam, Ustaz Erwin Abu Gaza.

Ia menilai Erwin yang aktif sebagai aktivis di organisasi nasional dan internasional, dapat sedikit membuka tabir mengenai Natuna tersebut.

”Penjelasn yang kami harapkan yakni mengenai politik dunia seperti apa,” ucapnya.

Narasumber lainnya yakni Ketua KNPI Kota Batam, M Teddy Nuh. Tentunya keberadaan Teddy dapat menularkan semangat jiwa entrepreneurship.

”Lalu Bapak Candra Ibrahim. Beliau mewakili orang Natuna, dan kebetulan adalah Ketua PWI Kepri,” jelasnya.

Panitia FGD Ada Apa dengan Natuna foto bersama dengan narasumber di Komplek Ibnu Sina, Lubukbaja, Sabtu (18/1/2020). Foto: Panitia FGD untuk Batam Pos

“Tentunya beliau ini dapat menjelaskan bagaimana permasalahan di Natuna dari kacamata pers dan orang Natuna,” katanya lagi.

Dalam diskusi tersebut, Ahmad bertugas sebagai moderator. Ia memberikan kesempatan pertama kali ke Ustaz Erwin Abu Gaza menjelaskan peta politik dunia.

Ustaz Erwin Abu Gaza dengan begitu cermat dan ringkas, menjelaskan peta perpolitikan dunia kala ini.

Ia mengatakan perpolitikan dunia harus dilihat dari berbagai pandangan. Dia menjelaskan juga bagaimana persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, saat ini.

Perang dagang yang terjadi, berimplikasi terhadap Indonesia. Lalu juga mengenai proyek prestisius Tiongkok, One Belt One Road (OBOR).

Sehabis Erwin, Ketua KNPI Batam, M Teddy Nuh berbicara mengenai pentingnya peranan pemuda di kala ini.

”Apalagi pemuda di Batam. Kita tahu posisi Batam yang strategis. Dibutuhkan pemuda yang memiliki visioner,” ucapnya.

Setelah Teddy menjelaskan persoalan mengenai kepemudaan. Lalu, barulah Ketua PWI Kepri, yang juga selaku Direktur Utama Batam Pos, Candra Ibrahim diberikan kesempatan menyampaikan pandangannya mengenai Natuna.

”Saya ini baru saja sampai dari Natuna. Dan berbincang-bincang dengan anggota DPRD, masyarakat dan insan pers di Natuna,” ungkapnya.

Banyak hal yang didapatnya dalam perbicangan tersebut. Namun, kesimpulan dari perbincangan tersebut, menyatakan kondisi Natuna dalam keadaan kondusif. Ia mengatakan, di Natuna beragam isu yang beredar.

”Satu hal saya pastikan, Natuna masih belum terperhatikan,” ucapnya.

Ia mengungkapkan Kabupaten Natuna tidak diperhatikan, di kala ada permasalahan atau konflik perbatasan saja diperhatikan.

Begitu permasalahan usai, kondisi Natuna kembali seperti semula. Tanpa perhatian.

”Permasalahan Natuna hari ini, jarak yang terlalu jauh. Saya contohkan guru-guru mengurus sertifikat, harus menempuh jarak yang jauh dan memakan biaya yang besar. Bandingkan guru-guru yang ada di Tanjungpinang, dekat saja untuk ke Dompak,” ujarnya.

Sehabis Candra menyampaikan pemaparannya. Diskusipun bergulir dan berjalan. Beberapa pertanyaan disampaikan oleh mahasiswa berbagai universitas, yang hadir dalam FGD tersebut. Diskusipun berjalan dengan apik.

Dalam FGD ini, ada menghasilkan beberapa rekomendasi salah satunya mahasiswa akan menyurati Bupati Natuna untuk diundang berdialog dengan masyarakat Natuna.

Setelah itu mereka akan menemui Gubernur untuk menyampaikan pernyataan sikap.(ska)

Update