BATAM (BP) – Badan Pengusahaan (BP) Batam menargetkan tahun ini dapat membangun 780 hektare lahan terlantar di Batam.

Selain itu, ada sekitar 350 hektare lahan yang habis masa sewanya namun tak kunjung dibangun pemiliknya, akan segera ditarik untuk dialokasikan ke investor lain yang berminat.

”Iya, per 31 Desember (2019) lalu, ada 350-an hektare lahan yang habis sewanya namun tak kunjung dibangun. Masih terlantar. Di Batam Center banyak. Saya sudah ada petanya, tapi belum hafal,” kata Deputi III BP Batam, Sudirman Saad, kepada Batam Pos, Rabu (22/1/2020).

Sudirman mengatakan, lahan yang ditarik kembali dari penerima alokasi akan ditawarkan pada investor yang berminat.

”Tidak akan saya kasih perpanjang lagi ke perusahaan yang sebelumnya sewa di sana,” tegasnya.

Selain itu, ada 780 hektare lahan terlantar juga akan segera direalisasikan investasinya tahun ini.

”Saya seleksi dan saya akan panggil agar segera realisasikan investasinya tahun ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, lahan menjadi variabel utama dalam meraup investasi. Apalagi BP Batam dibebani target investasi cukup besar tahun ini, yakni 900 juta dolar Amerika.

”Peraturan Kepala (Perka) baru mengenai lahan sudah final di tingkat saya. Mudah-mudahan dalam minggu ini laporkan ke rapat pimpinan (rapim) dan minggu depan Pak Rudi (Kepala BP Batam, Muhammad Rudi) tanda tangan,” jelasnya.

Adapun poin utama dalam perka baru ini, yakni mengenai simplifikasi perizinan lahan mulai dari pengalokasikan lahan, hingga perpanjangan Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO).

”Sesuai standar, masukkan proposal, maka dinilai kelayakannya, tidak lebih dari satu bulan keluar perjanjian pengalokasian lahan (PPL),” imbuhnya.

Sebelumnya, proses pengalokasian lahan sangat berbelit-belit dan bisa memakan waktu bertahun-tahun.

”Ini tidak boleh lebih dari satu bulan harus sudah beres. Kami akan maksimalkan potensi dari lahan ini,” paparnya.

Menanggapi rencana tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, mengatakan permasalahan lahan selalu berulang dari satu kepala BP ke kepala BP lainnya.

”Setiap kepala BP berjanji akan membenahi namun tidak begitu terasa perubahan yang signifikan. Kita berharap kali ini BP Batam benar benar serius membenahinya,” tuturnya.

Menurut Rafki, persoalan lahan ini menjadi topik utama yang ditanyakan investor ketika datang ke Batam.

”Sulitnya mendapatkan lahan akibat dikuasai oleh para calo lahan membuat investor kesulitan mendapatkan lahan. Kalau pun ada harganya sudah jauh dari nilai UWTO yang seharusnya dibayar. Kita apresiasi BP Batam jika mampu membenahi lahan di Batam ini,” pungkasnya.(leo)