Musim dingin membuat suhu begitu rendah di Gaza. Sisa air hujan pun kerap menggenangi jalan dan permukiman. Di saat seperti itu, sebagian warga Gaza mencari kehangatan di rumah-rumah yang tidak beratap.

Angka penunjuk suhu mulai jarang menunjukkan kepala dua di musim dingin ini. Suhu memang bekisar 6-19 derajat Celsius di Gaza saat ini. Hujan juga kerap turun, membuat sebagian besar orang enggan beraktivitas.

Di salah satu permukiman sederhana di Gaza, Raidah dan anak-anaknya harus menyiasati agar tetap hangat di rumah mereka yang mulai rusak.

“Atap rumah kami jelek dan rusak. Ketika musim dingin, air hujan masuk ke dalam rumah. Sedangkan saat musim panas, cahaya matahari masuk melalui celah-celahnya. Keadaan kami begitu memprihatinkan ketika musim dingin datang. Air masuk ke dalam rumah dan kami tidak dapat tidur dengan layak seperti biasanya,” cerita Raidah kepada relawan ACT di Gaza awal musim dingin lalu.

Rumah yang baik bukan satu-satunya kebutuhan masyarakat prasejahtera di Gaza saat musim dingin kali ini. Pakaian hangat dan jaket juga menjadi kebutuhan pokok mendesak. Namun sayangnya, tidak semua orang memiliki pakaian hangat yang layak di Gaza.

Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap menerangkan, merespons keadaan ini, Aksi Cepat Tanggap tengah bersiap mengirimkan bantuan terbaik.

Program Winter Aid untuk Palestina Aksi Cepat Tanggap telah menjadi program yang digulirkan secara reguler. “Udara makin dingin, hujan makin sering. Insyaallah bantuan musim dingin dari dermawan Indonesia segera kami distribusikan untuk warga Palestina,” kata Faradiba.

Di sisi timur laut Gaza, Kota Yerusalem, Quds News Network juga melaporkan kondisi tepat di dalam Kompleks Masjidil Aqsa. Melalui video yang diunggah Senin (20/1) lalu, hujan turun saat azan berkumandang dari masjid Al Aqsa. Para murabithun pun bersiap menunaikan salat.

Sebelumnya dii Yerusalem, bantuan musim dingin telah menyapa murabithun, para penjaga masjid Al Aqsa, dalam bentuk pangan. Bekerja sama dengan Kitabisa, 300 keluarga murabithun mendapatkan bantuan musim dingin pada Desember 2019 lalu.

Mereka yang mendapatkan bantuan tinggal di barat laut Kota Tua Yerusalem.

“Memuliakan mereka, mendukung mereka, sama dengan mendukung pertahanan terakhir muslim di sana. Mereka yang paling dekat dengan Masjid Al Aqsa, mereka yang salat lima waktu di sana, mereka yg paling bisa memakmurkan masjid Al Aqsa,” kata Faradiba. [*]