batampos.co.id – Imlek tahun ini menjadi tahun menyedihkan bagi warga di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Jika pada imlek tahun-tahun sebelumnya suasana ramai dan meriah, kini seperti kota mati. Tak ada keceriaan. Bahkan jalanan di kota itu sepi.

’’Tahun ini perayaan imlek sangat menakutkan. Orang-orang tidak keluar rumah karena virus,’’ ujar salah satu supir taksi di Wuhan seperti dikutip Agence France Presse.

Tak ada perayaan Imlek besar-besaran di Wuhan dan 13 kota lain di Hubei. Bahkan ketigabelas kota tersebut diisolasi. Total penduduk di dalamnya mencapai 41 juta orang.
Termasuk 12 mahasiswa Unesa Surabaya jurusan Bahasa Mandarin yang menempuh studi di Wuhan.

Vinda Maya, kepala Divisi Public Relations Unesa mengakui ada 12 mahasiswa Unesa Jurusan Bahasa Mandarin yang tengah mengambil studi di Wuhan. Sembilan di antaranya mahasiswa S1 yang mendapatkan beasiswa dari Unesa. Kemudian tiga mahasiswa lainnya mendapatkan beasiswa dari pemerintah setempat untuk memperdalam kemampuan Bahasa Mandarin.

Sampai saat ini, ke-12 mahasiswa di Central China Normal University Wuhan tersebut dalam kondisi baik. Namun, Unesa terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan mahasiswa serta menenangkan orangtua agar tidak panik dengan kondisi tersebut.

”Setiap malam suhu tubuh masing-masing mahasiswa dicek secara berkala oleh petugas kesehatan untuk memastikan dalam keadaan sehat,” kata Vinda.

Pemerintah melalui KBRI Beijing juga akan mencukupi pasokan makanan dan kebutuhan mahasiswa asal Indonesia dan WNI lainnya di Wuhan yang mencapai 92 orang.

Atas kondisi seperti ini, Unesa belum menentukan langkah, terkait memperpanjang kerja sama dengan kampus di Wuhan.

”Kerja sama ini positif, tetapi jika melihat wabah yang ditimbulkan juga cukup mengkhawatirkan,” pungkas Vinda.

Sementara itu, korban keganansan virus 2019-novel Coronavirus (2019-nCov) terus berjatuhan. Saat ini ada lebih dari 1.372 orang yang positif tertular dan 41 lainnya tewas. Sabtu (25/1) kemarin, Presiden Tiongkok Xi Jinping menggelar rapat khusus dengan politburo untuk membahas masalah virus mematikan tersebut. Padahal seharusnya hari itu adalah libur nasional perayaan imlek.

’’Ini situasi serius. Virus itu meningkatkan kecepatannya (untuk menyebar, red),’’ ujar Xi seperti dikutip The Guardian. Dia menyatakan stok pangan di daerah-daerah yang diisolasi tidak akan kekurangan dan harganya pun tak bakal naik. Para pakar penyakit juga akan dikerahkan untuk menangani situasi.

Saat ini ada 17 kota yang diputus jalur transportasinya. Wuhan diisolasi penuh. Tak boleh ada yang keluar masuk kecuali kendaraan yang mengirim suplai barang dan juga rombongan dokter. Sebanyak 30 provinsi, kota, dan daerah otonomi khusus di Tiongkok kini meningkatkan kewaspadaan kesehatan hingga ke level tertinggi. Di Beijing, bus antar provinsi yang masuk kota tersebut dihentikan.

Korban tewas virus 2019-nCov tak hanya berasal dari rakyat biasa. Dokter Liang Wudong dari Hubei Xinhua Hospital juga ikut tertular dan meninggal dunia kemarin pagi. Beberapa jam kemudian, dokter Jiang Jijun juga dinyatakan meninggal dunia karena serangan jantung. Belum diketahui apakah Jiang juga tertular. Mereka berdua termasuk di garda depan penanganan pasien yang tertular virus di Wuhan.

Sejauh ini mayoritas korban tewas berusia 60 tahun ke atas. Tidak ada pasien yang berusia kurang dari 30 tahun meninggal dunia. Pasien termuda di Tiongkok adalah balita perempuan yang masih 2 tahun.

Pemerintah pusat mengirimkan 1.200 personel medis tambahan ke Wuhan. Itu belum termasuk para pakar dan 450 petugas medis dari militer. CCTv mengungkap bahwa pemerintah akan mengirmkan 3 juta masker, 114 ribu baju pelindung dan 110 ribu pasang sarung tangan akan dikirimkan ke Wuhan.

Sebanyak 24 rumah sakit umum di Wuhan dan sekitarnya akan dialihfungsikan untuk menangani pasien 2019-nCov saja. Mereka akan menambah kasur dan diperkirakan mencapai 6 ribuan di akhir bulan nanti. Tiongkok tahu wabah ini tidak akan menghilang dalam satu dua pekan. Mereka akhirnya memutuskan untuk membangun satu rumah sakit baru lagi. Total ada dua rumah sakit yang dibangun. Yang pertama bakal selesai awal Februari dan yang kedua pada tengah bulan.

Rumah sakit di Wuhan memang sudah kewalahan menangani pasien yang terus membeludak. Wuhan Red Cross Hospital misalnya. Pasien sampai membawa kursi sendiri.

’’Setidaknya harus menunggu 5 jam untuk bertemu dokter,’’ terang salah satu pasien pada Agence France Presse. Situasi itu membuat pasien kian frustasi.

Seseorang mengunggah video di Weibo yang berisi situasi di rumah sakit tersebut. Dalam video tampak tiga jenazah digeletakkan begitu saja di selasar rumah sakit. Sementara di kanan kirinya para pasien duduk menunggu giliran diperiksa. Dokter dan perawat tampak lalu lalang melewati tiga jenazah itu begitu saja. Video itu diperkirakan diambil pada 23 atau 24 Januari lalu. Meski sudah dihapus di Weibo, namun salinannya sudah menyebar. Salah satunya diunggah di Al Jazeera. Video tersebut menunjukkan betapa daruratnya situasi di Wuhan saat ini.

Penularan yang kian tidak terkendali membuat banyak pihak panik. Kemarin Hongkong mendeklarasikan status darurat untuk penanganan 2019-novel Coronavirus (2019-nCov). Kota bekas koloni Inggris itu tak mau tragedi kelam Severe acute respiratory syndrome (SARS) yang terjadi 2002-2003 lalu kembali terulang. Peningkatan status itu dibuat setelah ada tiga orang lagi yang positif tertular virus yang berasal dari Wuhan tersebut.

Total ada 5 pasien kini dirawat di Hongkong.

’’Kita harus tetap bersatu agar bisa mencegah dan mengontrol penyakit tersebut,’’ ujar Chief Executive Hongkong, Carrie Lam.

F. Hector RETAMAL/AFP
Tim medis membantu mengevakuasi warga terserang virus corona ke Rumah Sakit Palang Merah Wuhan, Sabtu (25/1).

Tiga pasien baru itu datang dari Tiongkok dengan menggunakan kereta ekspress yang menghubungkan wilayah pusat dan Hongkong. Mereka adalah penduduk Wuhan dan berusia 60an tahun. Ketiga pasien itu tidak pernah punya riwayat penyakit sebelumnya dan tidak pernah berkunjung ke pasar ikan Wuhan yang menjadi pusat penyebaran virus.
Dengan adanya status baru itu, semua orang dari pulau utama Tiongkok yang datang ke Hongkong harus menandatangani form deklarasi kesehatan. Pemerintah Hongkong juga membatalkan acara makan malam imlek dan lomba lari marathon bulan depan. Libur di sekolah-sekolah dan universitas diperpanjang hingga 17 Februari.

Ahli mikrobiologi di University of Hong Kong Ho Pak Leung menegaskan bahwa satu-satunya cara yang paling efektif untuk mencegah persebaran adalah menutup perbatasan dengan Tiongkok. Transportasi hanya dibuka jika wabah sudah bisa dikontrol. Deklarasi kesehatan tidak ada gunanya, sebab pasien bisa saja berbohong.

Prancis dan Amerika Serikat (AS) berusaha mengeluarkan penduduknya dari Wuhan. Pemerintah Prancis berencana mengevakuasi warganya dengan bus ke Changsha, Provinsi Hunan. Belum diketahui kapan proses evakuasi akan dilakukan.

AS memilih cara yang lebih ekstrem. Mereka menyediakan pesawat sewaan untuk membawa pulang seluruh diplomat dan penduduk mereka yang ada di Wuhan. Rencananya pesawat akan diisi 230 orang dan meninggalkan Wuhan hari ini.

Pemerintah AS sudah melakukan negosiasi dengan Kementerian Luar Negeri Tiongkok untuk proses evakuasi tersebut. Kantor konsulat AS di Wuhan juga akan ditutup sementara. Gerai makanan seperti Starbucks , KFC, Pizza Hut dan McDonald’s juga mengumumkan menutup sementara layanan di Provinsi Hubei.

2019-nCov saat ini sudah terdeteksi di 11 negara lain di luar Tiongkok. Yaitu Prancis, Jepang, Singapura, Vietnam, AS, Korsel, Australia, Malaysia, Nepal, Thailand, dan Taiwan. Komisioner Kesehatan Eropa Stella Kyriakides akan menggelar rapat dengan para petinggi Uni Eropa (UE) besok (27/1) untuk membahas penularan virus Wuhan tersebut.

Disneyland dan Tembok Besar Ditutup

Sementara itu, meski masih ada beberapa kota di Provinsi Hubei tidak diisolasi, namun tetap mengalami kelesuan yang hampir sama. Banyak acara perayaan tahun baru yang dibatalkan. Itu agar penduduk tidak berkumpul di satu tempat dan membuat penularan kian parah.

Kota Terlarang di Beijing ditutup sementara. Pun demikian dengan Disneyland di Shanghai dan Tembok Besar.

Tak cukup sampai di situ. Pemerintah Beijing dan Shanghai juga meminta penduduk yang baru pulang dari Wuhan untuk tinggal di rumah atau tempat pemeriksaan selama 14 hari. Jika sudah dipastikan sehat, mereka baru diperbolehkan keluar. Harapannya jika mereka membawa virus dari Wuhan maka penularannya tidak akan banyak.

Kepala Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Tiongkok Gao Fu meminta agar penduduk tidak menggelar perayaan Imlek tahun ini. Alih-alih, dia meminta agar orang-orang tinggal di rumah hingga semua masalah selesai.

”Jika kita bekerja sama, kita bisa mencegah penyebaran virus di Wuhan,” tegasnya.

Saat ini, pasien 2019-nCov di Wuhan dirawat di 61 klinik dan rumah sakit khusus. Sebanyak 40 dokter militer dikerahkan ke unit perawatan intensif di Wuhan Pulmonary Hospital. Selain itu, masih ada 135 petugas medis lainnya yang kemarin diterbangkan ke dari Shanghai ke Wuhan. Seluruh petugas medis yang menangani pasien menggunakan baju hazmat agar tak tertular.

Hingga kemarin Badan Kesehatan Dunia (WHO) masih belum mau mendeklarasikan status darurat global. WHO hanya menyatakan bahwa ini adalah situasi darurat nasional di Tiongkok. Padahal sudah ada 8 negara di luar Tiongkok yang sudah terjangkiti virus dari Wuhan itu.

Jauh dari Wuhan, tepatnya di Indonesia, pemeriksaan pasien diduga mengidap 2019-nCoV sudah keluar. Setelah pasien di RS Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dan satu orang warga negara Meksiko yang dirawat di RS Umum Pusat (RSUP) Sanglah dinyatakan negatif, dua pasien lainnya pun mendapat vonis yang sama. Untuk saat ini, Indonesia bebas 2019-nCoV, namun sangat rawan karena mobilitas yang tinggi WN Tiongkok ke Indonesia.

Sabtu (25/1) kemarin, Sek-retaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Sesditjen P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) Achmad Yurianto, mengatakan, dua orang yang diketahui berwarga negara Tiongkok yang dirawat di RSUP Sanglah ternyata tidak menderita 2019-nCoV.

”Kondisi fisik sudah baik. Tidak panas lagi dan sudah diijinkan pulang,” katanya.
Meski seluruh pasien dinyatakan negatif 2019-nCoV, Yuri menyatakan bahwa semuanya tidak mau pulang. Tujuannya untuk mendapat pemantauan lebih lanjut.

Sebelum itu, di Bintan, Kepri, ada dua WN Wuhan yang berwisata ke Lagoi sempat terindikasi terpapar virus Wuhan, namun ternyata negatif. Keduanya telah kembali ke negaranya melalui Singapura, Rabu lalu.

Meski demikian, Kemenkes menyatakan bahwa tenaga medis dan rumah sakit sudah siap. Ada 100 rumah sakit yang telah disiapkan. Salah satunya adalah RSPI Sulianti Saroso. Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mulai khawatir pencemaran virus corona semakin luas.

Ketua PHRI Hariyadi Sukamdani meminta pemerintah segera melarang turis asal Tiongkok melakukan kunjungan ke Indonesia sementara waktu. (sha/lyn/pul/pojokpitu/jpnn)

”Harus mengisolasi (wisatawan) dari Cina. Artinya paling tidak scanner harus jalan di airport. Di Rusia sudah melakukan travel ban,” katanya, kemarin.
Pihaknya meminta pemerintah segera mengetatkan pemindaian di setiap bandara. Pasalnya, kata dia, masih ada bandara yang belum menerapkan scanner kepada wisatawan mancanegara.

Enam Jenis Virus Corona

Anggota perhimpunan dokter spesialis mikrobiologi klinik Indonesia (PAMKI) Pusat Prof dr Amin Soebandrio SpMK(K) menambahkan, sejauh ini terdapat enam jenis HCoV yaitu HCoV-229E, HCoV-OC43, HCoV-NL63, HCoV-HKU1, Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus (SARS-CoV), dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Dua virus terahir dapat menyebabkan infeksi paru berat sampai kematian.

Dia menjelaskan, saat ini belum ada vaksin maupun pengobatan khusus untuk penyakit yang disebabkan oleh 2019-nCoV. Namun, banyak gejala klinis yang dapat diobati. Pengobatannya berdasarkan pada kondisi klinis pasien. Dia meminta masyarakat agar waspada, tapi tidak perlu panik.

Ketua Pokja Infeksi Emerging RSPI dr Pompini agustina SpP mengatakan virus korona pada umumnya akan menjadi berat pada orang dengan kelompok berisiko.

”Contoh pada usia lanjut atau kelompok yang memiliki penyakit penyerta sebelumnya seperti penyakit kencing manis atau diabet, penyakit jantung, penyakit paru kronis,” ujarnya. (sha/lyn/pul/pojokpitu/jpnn)