batampos.co.id – Sebanyak 13 negara sudah terpapar virus corona (2019-novel coronavirus / 2019-nCoV) atau flu wuhan yang mewabah sejak 37 hari lalu. Yang mencemaskan bagi Batam dan sejumlah wilayah di Kepri adalah dua negara tetangga terdekat, Singapura dan Malaysia, sudah mengonfirmasi temuan kasus flu yang hingga kini belum ada vaksin pencegahnya itu.
Malaysia dengan temuan tiga kasus, yakni perempuan berusia 65 tahun beserta dua cucunya yang berusia 2 tahun dan 11 tahun.

Channel News Asia, Sabtu (25/1) lalu, melaporkan pasien terdeteksi menderita flu Wuhan di Malaysia berjumlah tiga orang. Mereka yang diamankan dari Johor Bahru tersebut merupakan anggota keluarga dari dua kasus temuan positif virus corona di Singapura. Mereka adalah keluarga asal Wuhan, Tiongkok yang sedang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Malaysia.

Sebelumnya, Singapura telah menjadikan kasus virus corona sebagai kasus luar biasa. Apalagi kasus ini merebak bersamaan dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2020, dimana jutaan warga dan keturunan Tiongkok melakukan eksodus antarnegara, dan Singapura menjadi salah satu tujuan utama. Baik untuk mudik atau pun liburan.

”Kami sudah mengantisipasi ini. Setiap penerbangan yang datang dari kota-kota di Tiongkok, kami berlakukan proses screening. Setiap orang yang kami curigai terkait virus ini akan dikirim ke ruang isolasi Sengkang General Hospital sebagai rumah sakit rujukan nCoV di Singapura,” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Singapura (MoH), kemarin.

Meski telah merebak di Singapura, Kementerian Kesehatan Indonesia memastikan sampai saat ini belum ditemukan pasien terkena virus corona di Indonesia, termasuk Batam. Hal ini juga disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi.

”Di Batam belum ada dan jangan sampai ada,” ujar Didi.

Namun begitu, tidak menutup kemungkinan virus tersebut masuk ke Batam. Apalagi melihat wilayah Batam berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia.

Di Tiongkok sendiri, lebih dari dua ribu orang terpapar, 56 orang meninggal dan 688 kasus temuan baru.

”Di Singapura terjadi penambahan, dari tiga kasus menjadi empat kasus positif nCoV. Terbaru, seorang pria berusia 36 tahun, terkonfirmasi Minggu pagi ini (kemarin, red),” jelasnya.

Batam wajib waspada mengingat jarak Batam-Singapura yang sangat dekat dan mobilitas manusia antardua wilayah sangat tinggi.

Kementerian Kesehatan melalui Direktur Survailans dan Karantina Kesehatan, Vensya Sitohang, telah menetapkan tiga daerah di Kepri dari 19 daerah di Indonesia dengan kewaspadaan nCoV. Tiga daerah tersebut, yakni Batam, Tanjungpinang, dan Tanjungbalai Karimun.

Batam menjadi salah satu kota dengan tingkat kedatangan wisatawan dari berbagai negara tertinggi di Indonesia. Saat ini, Batam menduduki posisi kedua sebagai penyumbang wisman terbanyak. Tingginya mobilitas wisman juga menjadi salah satu faktor masuknya berbagai virus yang dibawa ketika berkunjung ke Batam.

Kendati demikian, perkembangan yang terjadi ini tak membuat pemerintah mengeluarkan larangan tertulis menolak sementara waktu turis dari Tiongkok. Otoritas Tiongkok sendiri telah mengisolasi 13 kota lain demi mengatisipasi merebaknya virus tersebut.

Batam yang merupakan salah satu pintu masuk wisman, dimana Tiongkok menjadi salah satu penyumbang terbesar selain Malaysia dan Singapura, justru belum menerapkan larangan bepergian bagi warganya, atau larangan masuk bagi para turis dari negara yang terpapar. ”Belum ada larangan atau travel allert. Kami masih menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah pusat,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, kemarin.

Salah satu biro perjalanan di Batam, Eco Tour and Travel telah memastikan dalam waktu dekat ini Batam tidak kedatangan turis asal negeri Tiongkok. Pasalnya, pemerintahan Tiongkok telah menutup lebih dari 2.300 penerbangan dari negara itu ke sejumlah negara di dunia.

Dikutip dari Flightradar 24, ada 2.105 penerbangan domestik dari Wuhan ke sejumlah kota di Tiongkok, dan sebanyak 231 penerbangan internasional ke sejumlah negara, seperti Sidney, Tokyo, Singapura, London, Paris, Roma, Dubai, New York, San Fransisco, dan termasuk ke Bali, Indonesia dalam rentang 20-27 Januari ini.

Namun, seiring merebaknya kasus ini, pemerintah negara tersebut membatalkan aktivitas penerbangan, bahkan mengisolasi Wuhan, kota yang menjadi sumber dari virus tersebut pertama kali menyebar.

”Nggak ada (yang masuk Batam). pemerintah (Tiongkok) telah stop dulu masyarakat Cina untuk keluar negeri,” pihak Eco Tour and Travel, Andi.

Langkah Pencegahan

Salah satu langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah yaitu memasang alat untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang yang baru tiba di pelabuhan internasional yang ada di Batam. Seperti di Sekupang Ferry Internasional (SFT).

Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Batam memasang peralatan medis untuk mendeteksi suhu tubuh manusia di ruang kedatangan pelabuhan. Penumpang yang berangkat dari Singapura menuju Batam akan melewati mesin scan suhu tubuh ini.

Pada layar mesin, setiap penumpang yang melewati area kedatangan akan terdeteksi suhu tubuh mereka. Menurut petugas, suhu tubuh dengan angka 38 derajat celcius akan dibawa ke ruangan untuk diperiksa lebih lanjut.

Pengelola SFT Sekupang, Jumarly, mengatakan alat pengecek suhu tubuh tersebut sudah terpasang sebelumnya. Kasus 2019-nCov bukanlah yang pertama mencuat. Virus yang saat ini tengah berkembang di Tiongkok tersebut belum ada ditemukan pada wisman yang melewati SFT.

”Alhamdulillah masih aman hingga saat ini. Wisman yang datang semua memiliki suhu tubuh yang bagus dan sehat,” kata dia, Rabu (22/1).

Menurutnya, sebelum masuk ke Batam, pemerintah Singapura pasti sudah lebih dahulu melakukan langkah pencegahan. Pelabuhan mereka juga pasti memiliki teknologi untuk mendeteksi virus 2019-nCov dan virus lainnya. Sebab negara mereka memiliki tingkat kunjungan orang asing lebih tinggi dari Batam.

”Kami bersama petugas dari KKP Kelas I Batam terus berkoordinasi terkait masuknya wisman. Kami sangat berharap tidak ada temuan ke depannya,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan KKP Batam terkait hal ini. Menurut informasi, pemasangan alat pemindai suhu tubuh manusia sudah terpasang di semua pelabuhan internasional. ”Khusus yang dekat Nongsa pemeriksaan dilakukan manual, selebihnya menggunakan mesin,” sebutnya.

Menurutnya, sebaran virus seperti ini bukan pertama kali berlangsung.

”Kalau untuk yang masuk dari Singapura saya rasa tidak terlalu dikhawatirkan. Sebab Singapura pasti sudah punya langkah pencegahan lebih canggih. Mungkin di bandara pemantauan harus ekstra karena ada penerbangan langsung dari Cina ke Batam,” bebernya.

Virus yang berasal dari Tiongkok ini dikhawatirkan masuk melalui wisman asal Tiongkok yang berkunjung ke Batam. Untuk itu, perlu langkah pencegahan seperti pemindai suhu tubuh ini.

Berdasarkan pantauan koran ini di Pelabuhan Internasional Batam Center, Minggu (26/1) siang. Terlihat, dua alat pendeteksi suhu tubuh thermal scanner disiagakan di pintu masuk pelabuhan. Tak hanya itu, petugas dan dokter dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kota Batam juga siaga untuk mengawasi penumpang yang baru datang.

”Ada dua alat pendeteksi, dan itu memang sudah lama terpasang. Bahkan ada dokter pelabuhan yang selalu standby,” ujar Manajer Operasional Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Nika Astaga, kemarin.

Menurut dia, sejak merebaknya kasus bahaya virus corona akhir Desember tahun lalu, tak ada lagi turis Tiongkok yang berkunjung ke Batam melalui Pelabuhan Batam Center. Padahal sebelumya dalam seminggu ada sekitar ratusan turis Tiongkok yang berkunjung ke Batam. Apalagi kategori turis Tiongkok itu ada dua, yakni dari kota dan kampung.

”Turis Cina dari kota dan kampung tak ada lagi. Kalau Cina ada, tapi dari Singapura, bukan turis Cina daratan,” ujar Nika.

Sedangkan untuk wisman dari negara tetangga, terutama Singapura masih sangat ramai. Apalagi pada akhir pekan yang sudah jadi agenda banyak wisman asal Singapura berkunjung ke Batam.

”Kalau dari Singapura masih ramai. Sudah jadi agenda mereka, apalagi saat imlek ini, banyak yang berlibur ke Batam,” jelas Nika.

Suasana di Pelabuhan Feri Internasional Batam Center sendiri cukup padat. Banyak di antara penumpang yang terlihat mengenakan masker penutup mulut dan hidung. Masker itu tak hanya digunakan penumpang dewasa, namun juga anak-anak. Para penumpang yang hendak berangkat kebanyakan warga negara Singapura usai berlibur di Batam.

Pulmonologis Rumah Sakit Awal Bros Batam (RSAB), Abdul Malik, mengungkapkan penggunaan masker menjadi salah satu langkah awal yang tepat untuk mencegah virus corona menyebar.

”Menggunakan masker jika menderita sakit dengan gejala infeksi saluran nafas, demam, batuk, dan flu itu sudah benar,” ujarnya, ketika ditemui di ruang praktiknya di RSAB, Baloi, Kamis (24/1) pagi lalu.

Menurutnya, pencegahan lain adalah sering mencuci tangan dengan air mengalir, menggunakan cairan pencuci tangan yang mengandung alkohol. ”Khususnya setelah menggunakan toilet dan merawat binatang,” jelasnya. (cha/gie/ska/per/rng/met/yui/iza)