batampos.co.id – Dua perusahaan besar, yaitu Grab dan Nestle, menyatakan minatnya untuk ekspansi bisnis di Indonesia. Kabar itu disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang setelah menghadiri World Economy Forum (WEF) 2020 di Swiss.

Dia menyebut telah melakukan one on one meeting dengan para investor potensial, termasuk di sektor industri mamin. Salah satunya Nestle.

“Kami bertemu dengan beberapa pelaku industri untuk memastikan bahwa yang sudah beroperasi di Indonesia masih nyaman dan diharapkan bisa meningkatkan investasinya,” ujar dia, Minggu (26/1/2020).

PT Nestle Indonesia sejak 2019 menanamkan modal USD 100 juta untuk memperluas kapasitas produksi di tiga pabriknya. Melalui ekspansi tersebut, kapasitas produksi PT Nestle di Indonesia bakal meningkat 25 persen dari 620.000 ton menjadi 775.000 ton per tahun. PT Nestle Indonesia adalah anak perusahaan Nestle SA, produsen mamin terkemuka asal Swiss.

Saat ini PT Nestle Indonesia telah mengoperasikan tiga pabrik di Indonesia. Yaitu, di Karawang untuk memproduksi cokelat malt Milo, susu bubuk, dan bubur bayi Cerelac.

Kemudian, pabrik di Kejayan, Pasuruan, antara lain, memproduksi susu olahan dengan merek Dancow, Bear Brand, Carnation, dan Cap Nona.

Sedangkan pabrik di Panjang, Lampung, mengolah kopi instan dan kopi mix dengan merek Nescafe. Berd asar data Kemenperin, produk mamin Indonesia mampu mencatatkan nilai ekspor tertinggi di kelompok manufaktur, dengan capaian USD 27,28 miliar sepanjang 2019. Selain itu, industri mamin sebagai penyetor terbesar terhadap nilai investasi pada periode Januari–September 2019 di angka Rp 41,43 triliun.

Selain Nestle, Grab menyampaikan minatnya untuk investasi remanufacture mobile phone atau daur ulang ponsel yang sudah usang. Namun, belum dipaparkan angka komitmen investasi dari Grab.

“Saya juga sudah berbicara dengan pihak Grab. Mereka ada niat melakukan investasi remanufacturing dari handphone (HP) yang sudah relatif tua atau sudah rusak, yang nantinya menjadi mobile phone baru,” paparnya.

Investasi Grab dapat mendukung kebutuhan masyarakat dalam kesiapan memasuki perkembangan industri 4.0. Sebab, di era tersebut, salah satunya yang dibutuhkan adalah penggunaan teknologi komunikasi digital seperti ponsel.

“Industri ponsel di dalam negeri mengalami pertumbuhan jumlah produksi yang cukup pesat selama lima tahun terakhir. Hal ini tidak terlepas dari upaya pemerintah yang terus memacu pengembangan di sektor telekomunikasi dan informatika,” tambahnya.

Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata menjelaskan, remanufacturing ponsel yang dimaksud adalah menghasilkan ponsel-ponsel yang lebih terjangkau di masyarakat guna meningkatkan potensi ekonomi digital di Indonesia yang diproyeksikan mencapai USD 100 miliar.

Group CEO dan Co-founder Grab Anthony Tan mengungkapkan, Grab telah berkontribusi pada pengembangan dua pedoman industri yang tengah berkembang, yaitu platform ekonomi dan teknologi kecerdasan buatan (AI). (*)